Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Lagu Terakhirmu
4
Suka
17,938
Dibaca

Aku tahu kau sedang melihatku. Melihat entah dari mana. Mungkin dari tempat yang sangat menyenangkan. Mungkin juga dari tempat yang lebih menyedihkan daripada ini.

Kepergianmu begitu cepat dan terlalu menyiksa. Namun, siksaan itu bukan pada dirimu. Melainkan padaku yang kau tinggal sendirian di sini. Bukankah kita sudah berjanji? Kau dan aku, bergandengan tangan, berjalan pelan dengan wajah tersenyum setelah aku mengucap janji suci itu. Kemudian, kita akan pergi ke tempat yang paling indah di dunia. Tempat favorit kita. Tempat yang dipenuhi pasir-pasir putih dan berhiaskan lautan biru yang terbentang luas sampai ke ujung tak terlihat.

Namun, akhirnya, aku hanya tercenung di sini. Di tempat menyesakkan ini. Sambil mendengarkan satu-satunya peninggalanmu. Sebuah lagu patah hati yang sangat cocok menggambarkan kondisiku kini.

Aku tak bisa lagi menahan air mataku. Payah, ya, aku ini. Kau, gadisku, selalu bilang kalau laki-laki itu tak boleh menangis. Tetapi kau tak pernah bilang kalau kehilangan itu rasanya sesakit ini. Asal kau tahu, kepergianmu itu meninggalkan luka yang keterlaluan rasa sakitnya. Jadi, biarkan aku menangis sekarang.

Seharusnya tak pernah ada rahasia di antara kita. Namun kau selalu menyembunyikan sesuatu itu dariku. Bahkan di saat-saat terakhir pun, kau tetap tak mau berkata sebenarnya padaku. Memangnya kau anggap apa aku ini?

Tak terasa, sudah kesembilan puluh sembilan kalinya suara merdumu berputar. Berusaha menyingkirkan kesunyian di tengah malam ini. Usaha yang takkan pernah berhasil tanpa kehadiranmu. Tetes demi tetes air pun jatuh dari langit, menyambut kali keseratus lagumu. Namun, entah kenapa, sekujur badanku terasa begitu panas sekarang. Pun bergetar bukan main seluruhnya.

Aku menengadah. Tersentak. Berteriak sambil kedua tangan meremas rambut sekuatnya. Rasa sakit pada relung hatiku sudah menjalar hingga ke otak. Kepalaku seperti siap meledak kapan saja.

Sementara lagumu tiba di bagian terbaiknya, tetes-tetes air di luar sana semakin deras bercucuran. Guntur pun menyambar tak mau kalah, menyerukan suara menggelegar. Pun suara merdumu yang berubah parau, seakan memarahiku yang masih meringis sendu.

Hentikan.

Aku tahu kau sedang melihatku. Melihat dari lagu terakhirmu. Kuyakin kalau sekarang kau berada di tempat yang jauh lebih menyedihkan daripada ini. Aku tertawa getir, berusaha menikmati rasa sakitnya.

Memori-memori indah tentangmu menyeruak dari relung hati terdalamku. Satu per satu menghantam pikiranku, mengikuti irama lagumu. Tidak ada yang salah dengan itu, aku menyukainya. Namun tidak dengan caramu kini menatapku.

Di tengah kesendirian ini, sengaja aku mematikan semua terang. Menyisakan cahaya bulan yang menyusup enggan lewat jendela. Biar begitu, kedua mata ini tak dapat berbohong. Kebencian bergelora dari tatapanmu.

Hentikan.

Lagumu yang keseratus tiga terlalu bergema, hingga menusuk kedua gendang telinga. Aku menutupnya. Namun terlalu tajam suara itu hingga menembus telapak tanganku. Meraunglah aku. Bukan main rasa sakitnya.

Kuyakin kalau lantunan lagumu bukanlah seperti ini. Ini terlalu menyiksa. Bahkan lebih menyiksa daripada kehilanganmu. Ini terlalu tajam. Bahkan lebih tajam dari bilah pisau yang tepat menusuk jantungmu.

Oh, mengingat tajamnya pisau itu membuatku tubuhku kian bergetar. Aku meraung lagi. Teringat kembali saat cairan merah itu menembus piyama putihmu. Lalu gema jantungku bergemuruh. Begitu cepat. Begitu keras. Begitu panas.

Hentikan!

Memori-memori indah tentangmu perlahan lenyap entah ke mana, berganti satu tragedi berdarah itu. Tangisku pecah lagi. Berkali-kali aku menampar pipi ini hingga mengenai hidung. Lalu tetesan darah mengalir dari sana. Tak ingin aku mengingat lagi tragedi itu, tapi lagu terakhirmu seakan memaksaku. Lagu yang bahkan tak terdengar oleh orang lain selain aku. Lagu yang hanya ada di dalam pikiranku.

Aku tak bisa menghentikannya. Walau acapkali kedua tanganku yang mengepal juga memukul-mukul kepala ini. Pun dengan tragedi berdarah yang berputar semakin cepat dan berulang-ulang di otakku.

Kubilang hentikan!

Kepergianmu begitu cepat. Secepat kau memulai semua itu. Akhirnya aku mengingat apa yang telah kau perbuat. Yang membuatku harus rela kehilanganmu. Alasan tragedi berdarah itu terjadi. Alasanku melakukan … oh, singkirkan tatapan itu!

Ini semua salahmu. Akan kubuat dia bertemu lagi denganmu. BERTEMU DI NERAKA![]

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Lagu Terakhirmu
Adnan Fadhil
Novel
Gaitha
Lisa Ariyanti
Skrip Film
Terputih Dalam Hitam
Vitri Dwi Mantik
Novel
Bronze
SEBATAS FORMALITAS
Linda Fadilah
Flash
Bronze
GHOSTING
Risna Dabliyuti
Flash
Bronze
Kesan
Binaarr
Flash
Senja di Batas Kota
Mambaul Athiyah
Flash
Anak Panah Ke Sebelas
Rainzanov
Cerpen
Bronze
Dari Bully Menjadi Prestasi
Siti Nashuha
Novel
Kamu Adalah Kenangan (Mengenalmu)
Ruang Kenangan
Novel
Gold
PBC Irish
Mizan Publishing
Novel
Bronze
"Tuhan, Aku Capek..."
Diaksa Adhistra
Novel
Selamat Tinggal, Dunia.
Rika Kurnia
Skrip Film
SENI BERTAJUK CINTA
Safar Anggi
Novel
LIRIK LANGIT
Danri AS
Rekomendasi
Flash
Lagu Terakhirmu
Adnan Fadhil
Flash
Santap Malam Terakhir
Adnan Fadhil
Novel
Bisikan dari Masa Lalu
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
If Perfection is a Lie
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Desir Angin, Gemuruh, Langkah Kaki
Adnan Fadhil
Flash
Ruang Belajar
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
A Trace of Despair
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Aroma Lily
Adnan Fadhil
Flash
Boo si Boneka Kelinci
Adnan Fadhil
Flash
Kabin 108
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Tragedi yang Indah
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Cermin Pengulang Takdir
Adnan Fadhil
Flash
Berdansa Dengan Hantu
Adnan Fadhil
Cerpen
Bronze
Monster
Adnan Fadhil
Cerpen
Pelarian Seorang Gadis
Adnan Fadhil