Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
IBU, AKU DAN DIA
8
Suka
19,349
Dibaca

Hari itu, aku dan ibu mampir ke gerai franchise ayam yang cukup terkenal tapi ini yang versi lokal bukan yang sedang kena boycot. Karena Ibu bilang masih kenyang, jadi aku hanya pesan satu porsi untuk diriku sendiri. Tapi giliran pas pesananku datang, ibu tiba-tiba ikutan makan.

“Nggak usah pesan lagi. Lebih mesra kalau makan bareng anak, in-spiring love—berdua gini,” kata ibu ngomong keminggris-minggrisan seperti anak Jaksel sambil menyuap potongan ayam ke mulut. Padahal maksudnya makan sepiring berdua, tapi diplesetkan.

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala sambil nyengir. “Ibu, nanti ada yang salah sangka lagi. Dikira kita pacaran,” candaku.

Ibu malah langsung tertawa. “Kalau ada yang salah paham, ya biarin aja. Manis kan, kayak pasangan romantis makan satu piring berdua?”

Aku malah tertawa ngakak. Memang ibu ini selalu punya ide-ide lucu. Tapi ya memang harus kuakui, penampilan ibu nggak kalah sama cewek-cewek yang seusiaku, bukan ABG sih tapi perempuan paruh baya berwajah ABG. Dengan wajah yang masih segar dan gaya busana yang kekinian, sering kali orang mengira dia kakakku.

“Katanya, belum punya pacar?” Kemarin aku lihat kamu boncengan sama cewek, pacar ya?” Amira tanya sewaktu ketemu di gerbang kampus.

Tuh kan!, malah ada yang nyangka ibuku itu pacarku, kalian bisa bayangkan secantik dan seluwes apa ibuku menyamar jadi mahasiswa.

Rupanya sewaktu di gerai franchise, aku nggak sadar ada seseorang memperhatikan kami dari sudut ruangan. Baru belakangan aku tahu, dia adalah Amelia, adik tingkat di kampusku. Hari itu, dia sedang duduk sendiri memperhatikan kami sambil tersenyum.

“Lucu banget mereka berdua,” katanya, seperti yang dia ceritakan kemudian ke aku. “Aku pikir kalian pasangan, dan aku kepo siapa cewek secantik itu.”

Setelah makan, ibu mengajakku selfie. Biasa, ibu memang suka mengabadikan momen. Dia menarikku lebih dekat, menyalakan kamera depan, dan tersenyum lebar.

“Ayo, ganteng senyum. Jangan pelit sama followers ibu!” serunya. Aku cuma bisa pasrah.

***

Beberapa hari kemudian, notifikasi masuk di ponselku. Pesan dari seseorang yang aku nggak begitu kenal: Amelia. Aku membuka pesannya.

“Hai, ini Mas Akbar, kan? Aku Amelia, adik leting di kampus. Boleh kenalan?” tulisnya.

Setelah itu, kami mulai sering chattingan. Awalnya sih biasa saja, bahas kampus atau klub writing yang ternyata juga diikutinya. Lama-lama, obrolan kami meluas, dari topik ringan seperti makanan favorit sampai ke hal yang lebih personal.

Aku mulai merasa nyaman berbicara dengannya. Ada sesuatu dari caranya menanggapi yang selalu membuatku ingin bercerita lebih banyak.

Satu hari, dia mengungkapkan sesuatu yang mengejutkanku.

“Jujur, aku pertama kali notice Mas Akbar waktu di gerai ayam itu. Aku pikir, ‘Wah, cowoknya mesra banget sama pacarnya.’ Tapi pas aku lihat lebih jelas, aku sadar itu ibu Mas. Keren banget sih, punya hubungan sedekat itu sama ibu, manis banget!”

Aku tertawa mendengar pengakuannya. “Hahaha, jadi kamu mikir aku pacaran sama ibu-ibu?”

“Iya, awalnya. Tapi habis itu aku malah salut. Nggak semua anak cowok bisa seakrab itu sama ibunya. Nah, dari situ aku kepikiran buat kenalan sama Mas.”

Akhirnya ya begitulah, hubungan kami berkembang dengan cepat setelah itu. Aku dan Amelia mulai sering bertemu, entah di kampus, di kafe favoritnya, atau kadang hanya jalan-jalan santai.

Terus terang aku semakin menyukainya karena dia punya selera humor yang selalu bisa bikin aku betah ngobrol lama-lama. Makanya kami semakin sering duduk berdua, berbagi cerita tentang mimpi, hobi, atau sekadar membahas hal-hal sepele yang ternyata bisa jadi seru kalau dibicarakan dengannya.

Amelia adalah tipe orang yang spontan. Aku selama ini bahkan tak pernah memikirkan kriteria cewek seperti apa yang aku suka dan bisa membuatku jatuh cinta. Ternyata hatiku yang menemukannya sendiri.

Kemarin dia mengajakku ke suatu tempat yang ngak pernah aku bayangkan, tempat penangkaran kupu-kupu.

“Kenapa ke sini?” tanyaku penasaran.

“Karena aku mau nunjukin sesuatu. Kadang kita terlalu sibuk sampai lupa menikmati hal-hal kecil yang cantik, kayak kupu-kupu ini.”

Kata-katanya itu sederhana, tapi entah kenapa menyentuh. Aku jadi semakin menyukainya. Dia punya cara melihat dunia yang unik, dan aku merasa beruntung bisa jadi bagian dari dunianya.

***

Bahkan saat ulang tahunku kemarin, Amelia memberiku kejutan. Dia datang ke rumah membawa kue kecil dengan lilin di atasnya.

Happy birthday, Mas Akbar!” katanya sambil menyerahkan kue itu. Di belakangnya, ibu tiba-tiba muncul sambil membawa kamera. Rupanya mereka sudah bersekongkol.

“Ayo, tiup lilinnya. Tapi jangan lupa make a wish dulu,” kata Amelia sambil tersenyum manis.

Hari itu menjadi salah satu momen seru dalam hidupku. Amelia dan ibu duduk bersama, ngobrol seperti teman lama. Aku hanya bisa tersenyum melihat keduanya. Rasanya, dunia ini jadi lebih hangat dan penuh warna.

Hubunganku dengan Amelia tak terasa terus berjalan. Kami menghadapi banyak momen bersama, dari yang manis sampai yang menantang. Tapi satu hal yang selalu membuatku yakin adalah kehadirannya yang tak tergantikan.

Kehadiran Amelia, setiap hari terasa istimewa, seperti satu bab dalam buku yang selalu ingin kubaca ulang.

Sekarang, setahun sejak kami resmi jadian. Hubungan kami bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang persahabatan, pengertian, dan dukungan. Dan aku tahu, semua ini berawal dari momen indah makan sepiring berdua bersama ibu di gerai franchise itu.

Kadang, aku masih teringat kata-kata ibu. “Manis kan, makan in-spiring-berdua?” Siapa sangka, dari momen itulah, aku menemukan Amelia, seseorang yang membuat hidupku semakin berarti.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Novel
Bronze
Daniel
Lintangtry_
Novel
Bronze
Ujung Jalan Setapak
Fitri Manalu
Cerpen
Bronze
Rika dan Bumi
myht
Cerpen
Ananta dalam Diam Kita
Septia Arya Nugraha
Novel
Bronze
Takdir Tuhan yang Tersesat
Agum Bahenggar
Novel
Gold
Hector & the Search for Love
Noura Publishing
Flash
Kekasih Hologram
Freya
Cerpen
Youth Stride
Kosong/Satu
Flash
Dancing Cafe
Didik Suharsono
Novel
Bronze
Biola Lala
JAR
Skrip Film
Uang panai bukanlah Penghalang
Pricilia Zhany
Flash
Aku berhenti bicara sekarang
lidia afrianti
Novel
Gold
From Ears To Heart
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
IMY Grandma
Afifah Muthiah Unga waru
Rekomendasi
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Flash
Pengawal Pribadi
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kencan Buta
Hans Wysiwyg
Cerpen
FAKE PSIKOPAT
Hans Wysiwyg
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Flash
Kursi Dari Langit
Hans Wysiwyg
Novel
Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya
Hans Wysiwyg
Cerpen
Jangan Paksa Rindu
Hans Wysiwyg
Cerpen
When I Was Your Man
Hans Wysiwyg
Cerpen
Kenapa Harus Dia?
Hans Wysiwyg
Flash
Kisi-Kisi
Hans Wysiwyg
Novel
GARIS TAKDIR TANPA AKHIR
Hans Wysiwyg
Flash
Jatuh Cinta, Ternyata....
Hans Wysiwyg