Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Hok Lo Pan untuk Tjen
7
Suka
28,562
Dibaca

Tjen, langit boleh saja semendung abu di tungku dapur ibu. Dan cuaca berkabut membuat pandanganku kalang-kabut pun tak jadi masalah. Bagiku, hari ini tetap membahagiakan sebab akan kubuat kamu tak mengulang tangis lagi di hari kelahiranmu seperti yang sudah-sudah– yang katamu mengenal sosoknya cuma menuai luka.

Kamu menerima kantong keresek putih yang baru saja kuangsurkan.

“Kenapa martabak? Padahal, hari ini aku ulang tahun?” protesmu usai membuka kantong kresek itu.

Aku menghela napas panjang. “Setahuku, kamu benci ritual potong kue atau pun tiup lilin.”

Kamu mengangguk. “Iya, sih.”

Aku ingat, kamu pernah marah besar cuma karena aku bawakan kue di hari kelahiranmu. Katamu, aku tak benar-benar mengenalmu dengan baik. Semenjak itu, aku tahu, hari kelahiran bagimu bukan tentang perayaan, tapi perenungan. Bukan pula tentang berfoya-foya mantraktir makan, tetapi tentang berbagi pada yang layak menerima.

“Jadi, Tjen ijinkan aku meminangmu dengan Hok Lo Pan ini saja,” ujarku spontan, tanpa basa-basi—berbekal nekat sekaligus rasa takut tak berkesudahan akibat penolakan beruntun yang dulu pernah kamu utarakan setiap kali aku ungkapkan perasaanku.

Kamu menahan hasrat untuk berkata. Meski, sekali lagi wajahmu menyiratkan gelagat teramat bingung.

“Seperti Hok Lo Pan makanan favorit keluargamu, aku ingin menjadi bagian dari adonan itu. Aku ingin menjadi pelengkap, selayaknya telor di dalamnya. Yang tanpanya bisa saja kue asal Bangka ini tak pernah tercipta. Sama sepertimu, yang tanpa diriku, kamu pun akan lupa cara tertawa dan bahagia.” Aku mengeluarkan rayuan ala kadarnya. Sebuah rayuan yang tersisa di kepalaku hanya itu saja sebab aku hampir kehabisan kata-kata saking tegangnya.

“Kamu bercanda, kan?” tanyamu, masih kebingungan. Seolah tak percaya ada orang yang nekat melamar anak orang, namun cuma dengan kue sederhana yang dibelinya di pinggir jalan.

“Aku tahu, ini aneh dan terlalu mendadak. Tapi, aku juga tahu kalau gadis Bangka sepertimu tak suka hal mewah. Jadi, ya sudah, tolong terima, ya?” kataku memaksa.

Aku melihat sudut matamu basah. Tapi gurat senyum masih tersisa di air wajahmu. “Re...”

Kamu memukulku pelan, sebelum akhirnya memelukku. Pelukan pertama setelah sekian lama cuma jadi pecundang yang tak pernah berani melamarmu. Yang cuma berbatas keberanian mengajakmu sekadar berpacaran. Pantas saja kamu menolakku berulang kali.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (5)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Novel
Bronze
LUKA MEMELUK LUNA
essa amalia khairina
Novel
Bronze
Karimun Love Wave
Lindaw
Novel
Gold
A Love`s Fairytale
Mizan Publishing
Novel
(Masih) Sempat Memiliki
perempuansenja_wp
Flash
Bronze
Apakah Harus Berakhir?
Nuel Lubis
Flash
Bronze
Hey, Aku Bukan Proyek Kamu!
Nuel Lubis
Flash
Bronze
Ketika Marina Suntuk
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Tentang Biyantara
Masturati
Skrip Film
BIDUAN
Joni Nantono
Cerpen
Bronze
Aku Kamu Dan Cinta
blank_paper
Novel
BRAD
KH_Marpa
Novel
Bronze
I want You, KEYSA
Asrina Lestari
Novel
Rantau Den Pajauh
Azmi1410
Novel
AS LOVE GOES BY
Arisyifa Siregar
Rekomendasi
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Flash
Sepotong Kenangan di Meja Makan
Denik a nuramaliya
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
Di Balik Semangkuk Bawang
Denik a nuramaliya
Flash
Perihal Cinta di Bawah Pohon Eboni
Denik a nuramaliya