Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Bullying
1
Suka
15,900
Dibaca

Nita, gadis kecil berusia 7 tahun, sedang duduk-duduk di teras bersama dengan kakaknya, Fajar. Sang kakak sedang sibuk membaca komik, sedangkan Nita hanya bermain-main dengan boneka kelincinya.

“Nita, apakah kamu tahu benda tertajam di dunia?” tiba-tiba Fajar bertanya.

Nita tersentak. Dia berpikir sebentar, lalu menjawab, “Tahu, Mas. Jawabannya pisau.”

“Ups, salah,” Fajar menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kalau begitu… kapak.”

“Salah juga.”

“Gergaji?”

“Masih salah, Nita.”

“Apa, yaa? Hmm… jawabannya pasti gunting!”

“Salah.”

“Aduh, yang benar apa, dong, Mas Fajar? Nita menyerah, deh!”

“Oke,” sahut Fajar sembari menutup komiknya. “Mau tahu jawabannya?”

“Iya,” ujar Nita bersemangat.

“Jawabannya… mulut!”

“Haah? Kok, mulut? Mulut, kan, anggota tubuh, bukan benda!”

“Hihihi… kali ini kamu benar. Mulut memang bukan benda, tapi mulut diibaratkan seperti setajam pisau. Paham maksudku?”

Nita menggeleng kuat-kuat sampai kedua kuncirnya saling terkait.

“Nita pernah, tidak, diejek sama teman di sekolah?” tanya Fajar.

“Iya, sih, pernah. Dulu, sewaktu awal-awal masuk SD. Nita diejek sama teman laki-laki Nita karena wajah Nita punya banyak bintik-bintik. Kata mereka, rambut Nita yang dikuncir dua juga jelek, seperti… culun,” jelas Nita.

“Nah, betul, kan? Mulut seseorang itu sangatlah tajam seperti pisau. Bahkan, bisa lebih tajam dari pisau, kapak, dan lain sebagainya. Mulut itu mengeluarkan kata-kata yang menusuk hati kita. Sama seperti pisau, yang bisa menusuk atau membunuh orang dengan sekali tancap.”

Nita mengangguk-angguk pelan. Dipeluknya bonekanya lebih erat.

“Tidak jarang kata-kata itu membuat kita frustrasi atau stres. Bahkan, sampai ada yang bunuh diri gara-gara diejek,” tambah Fajar.

“Mas, semua itu sama dengan bullying, ya?” tanya Nita.

“Iya, benar. Bullying atau perundungan itu sangat berbahaya, loh, Nita. Hal itu bisa merugikan orang lain, bahkan mencelakai. Nita pernah, tidak, dirundung pakai kekerasan?” ucap Fajar.

“Tidak pernah, tapi kalau pakai kata-kata iya,” sahut Nita dengan suaranya yang mungil.

“Nah, mau pakai kekerasan, mau pakai kata-kata, sama semua. Kita tidak boleh mem-bully seseorang hanya karena dia berbeda dari kita. Walaupun niatnya bercanda, tetapi itu bisa melukai hati seseorang,” lanjut Fajar. “Ada contoh lain dari bullying. Kamu tahu media sosial, kan? Seperti Tiktok, Instagram, Facebook, dan sebagainya.”

“Tahu, tahu,” balas Nita.

“Orang itu bisa saja mengeluarkan komentar jelek yang hanya akan menjatuhkan harga diri seseorang. Nita tahu kegiatan kita selama liburan, yakni rekreasi ke pantai?”

“Tahu. Kita berenang-renang sampai ke lautnya, terus Mas Fajar terpeleset. Untungnya ada pemandu wisata yang menolong Mas Fajar.”

“Iya, betul. Rekaman saat aku jatuh itu ternyata ada, dan semua videonya aku posting di Tiktok. Tahu apa balasan netizen?”

“Tidak.”

“Mereka bilang, ‘Kenapa kamu tidak hati-hati, sih, Dik? Berenang di laut saja tidak becus!’.”

“Aduh, jahatnya!” seru Nita agak marah. “Tapi… bukannya itu namanya kritik, ya? Mas pernah bilang begitu.”

“Iya, itu namanya kritik, Nita. Tetapi, jangan sampai kritik itu menyakiti hati orang lain. Mengkritik seseorang itu harus dengan sopan, supaya orang itu mau belajar dari kesalahannya dengan baik-baik,” kata Fajar sambil tersenyum.

“Ooh… oke, oke, Nita paham. Ngngng… Mas, kalau menggosipi seseorang itu termasuk… perundungan juga, ya?”

“Iya. Bullying dengan kata-kata itu disebut bullying verbal. Menggosipi seseorang, mengejek, memfitnah, mengolok-olok, mengancam, itu semua masuk perundungan. Kekerasan fisik juga. Pokoknya Nita hati-hati saja, jangan sampai ada yang melukai hati Nita atau mencelakai Nita. Paham?”

“Ya, ya, Nita paham,” sahut Nita. “Terima kasih penjelasannya, ya, Pak Guru! Nita paham, kok!”

“Enak saja! Aku bukan guru. Aku cuma kakakmu!” Fajar pun mengulurkan tangan, hendak mencubit paha Nita.

“Eits, tidak boleh mencubit, ya. Kan, itu termasuk bullying. Pak Guru ini bagaimana, sih, lupa sama nasihatnya sendiri!” Nita menghindar, sambil menepis tangan kakaknya.

“Dasar!” seru Fajar sambil tersenyum malu. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Mimpi yang Menjadikanku Sampah
Seli Suliastuti
Novel
JENDELA KACA
Meria Agustiana
Skrip Film
WHITEY
Tria Ayu K
Skrip Film
Lama Banget (Script)
nawa
Skrip Film
Bagaimana Aku Bertemu Denganmu
Rumpang Tanya
Flash
Luka Tak Berdarah
Lathifah Nur
Flash
REUNI
Rahma Pangestuti
Flash
DI BALIK KEBUTUHAN
Senna Simbolon
Flash
Diary Alesha #2
Nazila
Flash
PELARIAN
Cassandra Reina
Flash
Bullying
Kiara Hanifa Anindya
Novel
FaThin
Nurusifah Fauziah
Novel
My Precious Daughter
Pinklaf
Novel
Just A Moment
Naa Ruby
Novel
Bronze
Bulan Bersedih Di Jakarta
Herman Sim
Rekomendasi
Flash
Bullying
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Guru Marah
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Gadis Tunarungu
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Rindu
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Bronze
Mengapa Kita Perlu Membantu Proses Penyerbukan?
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Ceroboh
Kiara Hanifa Anindya
Flash
2025 dan 2026
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Secangkir Kopi untuk Kakek Husni
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Senyum Bela
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Jalan yang Kamu Pilih Adalah Jalan Menuju Kebaikan
Kiara Hanifa Anindya
Cerpen
Bronze
Bukan Sekedar Perjalanan
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Tidak Ikut
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Sebuah Gambar dan Sebuah Puisi Untuk Tahun Baru
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Cerpen Rara
Kiara Hanifa Anindya
Flash
Cerdas Cermat
Kiara Hanifa Anindya