Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
TAFSIR POHON CEMARA
3
Suka
7,151
Dibaca

Dari semua yang tumbuh di halaman rumah Pakde Banjir, ada satu pohon yang paling menarik perhatian Abdun. Bukan pohon mangga yang sedang ranum buah-buahnya. Bukan pula pohon nangka yang buahnya seukuran badan kambing ingonan-nya. Tapi, pohon cemara. Tak berbuah. Tak terlalu tinggi juga. Hanya seukuran tiang bendera. Batangnya pun terbilang kecil. Tak seperti pohon-pohon cemara yang tumbuh di tanah pegunungan. Menjulang, seperti hendak menggapai langit.

Sembari menunggu si empunya rumah, Abdun terus mengarahkan matanya ke pohon itu. Tak bosan-bosannya. Padahal, tak terhitung lagi dia pergi mengunjungi Pakde Banjir. Duduk di beranda. Di kursi kayu yang sama. Memandang ke arah yang sama. Dan cemara itu terlihat seperti tak banyak berubah. Mungkin karena tanah dataran rendah kurang cocok dengan pertumbuhannya. Sehingga sejak dulu terlihat begitu-begitu saja.Meskipun begitu, Abdun tak menjadikannya sebagai masalah. Perhatian dan rasa antusiasnya tak pernah berkurang. Barangkali, hal ini karena pohon tersebut adalah satu-satunya cemara yang tumbuh di kampungnya.

Memang, banyak yang mengamini bahwa sesuatu yang langka memiliki nilai lebih dibanding sesuatu yang umum lainnya. Akan tetapi, ketertarikan Abdun pada pohon cemara bukan lantaran keberadaannya yang langka.

Entah, apa itu. Abdun hanya tahu, bahwa setiap kali melihat pohon cemara, pikirannya selalu melompat pada sesuatu yang sangat bernilai. yang luhur, yang tinggi, yang melahirkan rasa khidmat dalam dirinya. Cemara yang tumbuh meruncing ke atas, mengingatkan Abdun pada orang-orang yang mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Begitu pula usaha-usaha (riyadlah) mendekatkan diri pada Tuhan.

Mengenai pikirannya itu, Mas Nur, putra sulung Pakde Banjir yang menyukai dan menulis puisi, hanya mengiya-iyakan kepala usai mendengarnya. Seperti mendapatkan pemahaman lain yang baru, yang berbeda dari apa yang selama ini mengendap dalam pikirannya.

Bagi Mas Nur, pohon cemara seperti menggambarkan jalan hidup kalangan penyair. Misalnya, Chairil Anwar—yang posternya kerap tergantung pada dinding kamar para penyair generasi berikutnya—. Jalan hidup yang cenderung bohemian, tak peduli pada sesuatu yang berharga di mata umum, tak pusing penilaian orang. Karena bagi mereka, satu-satunya yang berharga adalah keyakinan dan jalan hidup yang dipilihnya. Menjadi penyair, yang menyusuri jalan puisi.

Namun, dalam percakapan ringan pada senja yang damai itu, Mas Nur hanya diam. Tidak mengungkapkan pikirannya itu. Hanya ingin mendengar, dengan sesekali mengorek pengetahuan dari Kang Abdun. Laki-laki sederhana berusia sepuluh tahunan di atasnya itu, selalu saja menumbuhkan rasa hormat ketika berhadapan dengannya. [*]

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Religi
Flash
TAFSIR POHON CEMARA
Syauqi Sumbawi
Skrip Film
Diary Indira
Mira Herani
Flash
Jamuan Makanan
Impy Island
Flash
Bronze
Iblis tak bisa menyesatkan, Nabi tak bisa memberi hidayah
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Flash
Bronze
Rubah Muda dan Ibunya
Ahmad Muhaimin
Flash
Duka Rumah Ibadah
Oktabri
Cerpen
Bronze
Jejak Sujud dan Lantunan Doa Anak-anak Surau
Ron Nee Soo
Flash
Bronze
Setetes Hujan
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
Tiket emas daun jagung
Edi sandayu
Flash
Bronze
Kisah-Kisah Di Tanah Suci
Anjrah Lelono Broto
Novel
Bronze
Dimensi [Telah Terbit!]
Astrida Hara
Novel
Anak anak Adam
me_filyas
Novel
Bahasa Langit
Syafi'ul Mubarok
Novel
Teruntuk Hamba Allah
Setya Kholipah
Novel
Gerbang Masa Terlarang
Nura Ki
Rekomendasi
Flash
TAFSIR POHON CEMARA
Syauqi Sumbawi
Flash
LANGGAR MBAH MAD
Syauqi Sumbawi
Cerpen
Saya Telah Difitnah
Syauqi Sumbawi
Cerpen
Bronze
Kado Spesial
Syauqi Sumbawi
Cerpen
Laki-laki dari Pulau Salju
Syauqi Sumbawi
Novel
Bronze
Waktu; di pesisir utara
Syauqi Sumbawi
Cerpen
Di Ombak Pasir Papuma
Syauqi Sumbawi
Flash
NING NONG NING GUNG
Syauqi Sumbawi
Novel
Bronze
Dunia Kecil; panggung & omongkosong
Syauqi Sumbawi
Novel
9
Syauqi Sumbawi
Flash
REMBULAN BERGARIS DAHAN
Syauqi Sumbawi
Flash
Ayat-ayat Kopi, yang pekat lagi nikmat
Syauqi Sumbawi
Flash
ZIARAH LORONG ASING
Syauqi Sumbawi
Flash
GERAK DALAM KABUT
Syauqi Sumbawi
Flash
SEBUAH KORAN HALAMANNYA TERBUKA
Syauqi Sumbawi