Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Langit Arizona memerah jingga saat senja mulai turun diantara rimbunan jajaran Pinus Ponderosa, Quaking Aspen, Cliffrose dan Arizona Thistle.
Jasmine, ditemani gitar yang selalu mewakili kerinduannya pada seseorang seperti tak peduli dengan langit yang kian redup.
Di meja paling pojok, seorang pria duduk diam. Matanya menatapnya tanpa berkedip, seperti ingin merekam setiap gerakannya.
Alaric, seorang fotografer petualang yang tanpa sengaja singgah, mencari sesuatu yang ia sendiri belum tahu apa, dan memilih singgah di kafe kecil di ujung jalan itu.
"Terima kasih telah mendengarkan," kata Jasmine pelan, sebelum melangkah turun dari panggung, usai menyelesaikan lagu terakhirnya.
"Maaf, lagu itu, terdengar seperti kenangan yang tak ingin kau lupakan," ucap Alaric mencoba membuka percakapan.
Jasmine sedikit terkejut.
"Mungkin itu memang kenangan yang tidak seharusnya terlupakan. Tapi apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Caramu menyanyikannya. Seperti kau sedang berbicara pada seseorang, bukan hanya menyanyi."
"Mungkin kau benar. Tapi bukankah setiap orang punya kenangan yang ingin mereka sampaikan, meski hanya lewat lagu?"
“Itu yang aku maksud, kau sedang mengatakan tentang sesuatu melalui lagumu.”
Jasmine tersipu, merasa ada seseorang yang membuka tabir hatinya.
“Kamu benar,” ujarnya akhirnya berterus terang.
“Seseorang yang kau tunggu ada disini?” Alaric akhirnya mencoba memberanikan diri langsung berterus terang.
“Apa itu penting buatmu.”
“Setidaknya itu bisa meyakinkanku bahwa kau sebenarnya tak sedang sendiri, hanya butuh waktu menyendiri.”
"Maksudmu?”
"Kau tau tak selamanya kita bisa menjamin sebuah hubungan terus baik. Bukan maksudku itu sesuatu yang buruk, tapi sedikit gesekan antara dua hati bisa membuat kita butuh waktu untuk sendiri mungkin berkontemplasi?”
“Tapi aku tidak membutuhkan itu sekarang. Aku hanya ingin sendiri,” tegas jasmine.
“Apakah itu artinya kehadiranku mengganggumu?”
“Bukan, bukan itu maksudku. Itu soal lain, itu berbeda.”
“Tapi baiklah, aku menghormati privasimu. Jika kamu memutuskan untuk pergi sekarang.”
“Terima kasih untuk pengertiannya. Aku butuh istirahat sekarang,” ujar Jasmine sambil berlalu.
***
Alaric merasa aneh, karena hatinya seolah enggan pergi. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya ingin tinggal lebih lama, meski ia tahu hidupnya tidak pernah mengizinkan berhenti dari perjalanan pencarian jati dirinya.
Jasmine, dengan cara yang lembut, justru mulai membuka hatinya pada Alaric.
Mereka semakin sering mengobrol hingga dini hari, berbagi mimpi, ketakutan, dan harapan yang tak terucap.
Namun, tetap saja tak semua kisah manis bisa dibagi, selalu ada cerita yang memiliki rahasia di dalamnya. Jasmine menyimpan satu rahasia yang ia tahu akan menghancurkan apa yang baru saja ia bangun.
"Aku tidak bisa tinggal di sini selamanya," ucapnya pada suatu malam.
Alaric mengerutkan kening. "Kenapa tidak? Apa yang menahanmu?. Seseorang yang penting bagimu?”
“Apakah aku harus mengatakannya?”
“Aku tak memaksa, turuti saja apa kata hatimu.”
"Dunia ini terlalu kecil untuk mimpi-mimpiku, Alaric. Tapi aku takut melangkah keluar dan kehilangan semuanya," jawab Jasmine, sambil memandang jauh ke arah cakrawala gelap.
Keduanya terjebak dalam pikiran masing-masing. Alaric tahu, cepat atau lambat, ia harus pergi.
Jasmine, dengan segala keberanian yang ia miliki, tahu ia harus menghadapi mimpinya sendiri, meski itu berarti meninggalkan desa kecil ini, dan mungkin juga Alaric-laki-laki yang baru dikenalnya tapi menarik hatinya.
***
Ketika pagi terakhir mereka bersama tiba, Jasmine mengantar Alaric hingga ke tepi jalan.
Jasmine menyanyikan satu lagu terakhir untuknya, tanpa gitar. Alaric mengabadikan momen itu dengan kameranya, menyadari bahwa ini adalah terakhir kalinya ia bisa melihat Jasmine seperti ini.
"Aku akan selalu mengingat kita seperti ini," ucap Jasmine, sambil menatap ke dalam mata Alaric. "Mungkin kita tidak bisa bersama selamanya, tapi kenangan ini akan selalu hidup."
Alaric mengangguk. "Kenangan adalah cara kita menyelamatkan cinta dari waktu, Jasmine."
“Kamu benar.”
Mereka berpisah setelahnya.