Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
0
Suka
17,352
Dibaca

Pagi ini cerah. Mentari muncul begitu menawan. Aku sangat senang masih bisa merasakan hangatnya meresap di setiap helai buluku. Aku, dan semua teman burung selalu bahagia dan bersyukur menyambut pagi hari. Kami bernyanyi bersama penuh riang gembira.

Aku masih ingat bagaimana sayapku mengepak untuk pertama kali. Aku begitu takut kalau jatuh. Namun, ayahku senantiasa membantu dan memberikanku semangat. Ah, aku benar-benar rindu senyumnya.

Aku dan juga kawan-kawan lain terbang meninggalkan sarang kami di pohon randu. Menjemput rezeki dan juga menepati janji. Ya, kami punya janji dengan wanita tua yang duduk di kursi taman. Wanita itu baik sekali. Setiap hari dia selalu memberi kami roti. Saat kami makan dengan lahap wanita tua itu tersenyum sampai giginya yang ompong terlihat.

Aku tidak sabar ingin bertemu lagi dengannya. Bersama teman-teman aku terbang sambil bernyanyi. Kami memeriahkan langit di pagi hari.

Sampai di taman, aku tidak melihat wanita tua itu di bangku biasa dia duduk memberi kami roti. Aku mendarat di kursi itu. Meloncat dengan kaki kecilku ke sana ke mari. Hanya ada syal yang biasa dipakai si wanita tua di lehernya. Aku ingat betul kalau syal warna merah ini miliknya. Dulu temanku tak sengaja buang kotoran di syal ini saat dipakai si wanita tua. Wanita tua tidak marah, dia tetap tersenyum sambil membersihkan kotoran itu.

Aku mematuk-matuk syal itu. Siapa tahu si wanita tua sembunyi di baliknya. Namun, tidak ada apa-apa. Di mana dia? Apakah dia lupa dengan janjinya? Ah, barangkali dia belum datang. Ya, dia belum datang. Atau dia sudah datang tapi lupa bawa roti sehingga dia harus mengambil rotinya. Syal ini ia tinggalkan di sini untuk tanda kalau kami disuruh menunggu. Baik, aku akan menunggu.

Lama aku menunggu, tapi wanita tua itu tak kunjung muncul. Matahari semakin terik. Perutku mulai lapar. Aku putuskan untuk mencari makan dulu, lalu kembali ke sini.

Setelah kembali, wanita tua itu belum muncul. Syal itu masih di sana tidak bergerak. Aku bingung. Apakah dia marah? Apakah dia menilai kami para burung gereja tidak tahu terimakasih karena selalu minta roti tanpa memberinya apa-apa? Baiklah, aku harus memberinya hadiah juga!

Aku kembali lagi ke bangku taman dengan setangkai bunga yang aku temukan di taman. Bunga kecil berwarna putih ini cocok untuknya. Semoga dia suka.

Matahari semakin condong ke barat. Wanita itu tak kunjung datang. Kegelapan mulai merambat di langit menyisakan lembayung indah.

Keluargaku pasti sudah menungguku. Teman-temanku sudah meneriakiku untuk pulang. Namun, bagaimana jika wanita tua itu datang sementara aku tidak ada di sini? Aku tidak ingin membuatnya kecewa.

Matahari benar-benar tenggelam. Bunga putih itu sedikit layu. Lampu taman mulai menyala temaram. Aku menangis. Kemana wanita tua itu? 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Darkpunzel
Art Fadilah
Novel
Relationswitch
Khnafia
Komik
Dearest
Ni Putu Winda Pramesti Dewi
Flash
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
Amir Sidiq
Novel
JATMIKA
Bintang Timur
Novel
Gold
KKPK The Happy Doll
Mizan Publishing
Flash
Letih Terbelenggu Sepi
pelantunkata
Flash
Bronze
Cincin Mahar Saturnus
Silvarani
Skrip Film
Okuni
Joshua Vincentius
Flash
Retori Ironi Cinta
Aneidda
Novel
SANG DUKUN
Ikhwanus Sobirin
Skrip Film
Fly and Kiss the Sky
Liz Lavender
Skrip Film
Anggrek Bulan di Tengah Malam
Noen Indraputra
Skrip Film
Jodoh Pilihan
Herman Siem
Flash
Bronze
Maafkan aku ibu
Rahmayanti
Rekomendasi
Flash
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
Amir Sidiq