Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
0
Suka
20,636
Dibaca

Pagi ini cerah. Mentari muncul begitu menawan. Aku sangat senang masih bisa merasakan hangatnya meresap di setiap helai buluku. Aku, dan semua teman burung selalu bahagia dan bersyukur menyambut pagi hari. Kami bernyanyi bersama penuh riang gembira.

Aku masih ingat bagaimana sayapku mengepak untuk pertama kali. Aku begitu takut kalau jatuh. Namun, ayahku senantiasa membantu dan memberikanku semangat. Ah, aku benar-benar rindu senyumnya.

Aku dan juga kawan-kawan lain terbang meninggalkan sarang kami di pohon randu. Menjemput rezeki dan juga menepati janji. Ya, kami punya janji dengan wanita tua yang duduk di kursi taman. Wanita itu baik sekali. Setiap hari dia selalu memberi kami roti. Saat kami makan dengan lahap wanita tua itu tersenyum sampai giginya yang ompong terlihat.

Aku tidak sabar ingin bertemu lagi dengannya. Bersama teman-teman aku terbang sambil bernyanyi. Kami memeriahkan langit di pagi hari.

Sampai di taman, aku tidak melihat wanita tua itu di bangku biasa dia duduk memberi kami roti. Aku mendarat di kursi itu. Meloncat dengan kaki kecilku ke sana ke mari. Hanya ada syal yang biasa dipakai si wanita tua di lehernya. Aku ingat betul kalau syal warna merah ini miliknya. Dulu temanku tak sengaja buang kotoran di syal ini saat dipakai si wanita tua. Wanita tua tidak marah, dia tetap tersenyum sambil membersihkan kotoran itu.

Aku mematuk-matuk syal itu. Siapa tahu si wanita tua sembunyi di baliknya. Namun, tidak ada apa-apa. Di mana dia? Apakah dia lupa dengan janjinya? Ah, barangkali dia belum datang. Ya, dia belum datang. Atau dia sudah datang tapi lupa bawa roti sehingga dia harus mengambil rotinya. Syal ini ia tinggalkan di sini untuk tanda kalau kami disuruh menunggu. Baik, aku akan menunggu.

Lama aku menunggu, tapi wanita tua itu tak kunjung muncul. Matahari semakin terik. Perutku mulai lapar. Aku putuskan untuk mencari makan dulu, lalu kembali ke sini.

Setelah kembali, wanita tua itu belum muncul. Syal itu masih di sana tidak bergerak. Aku bingung. Apakah dia marah? Apakah dia menilai kami para burung gereja tidak tahu terimakasih karena selalu minta roti tanpa memberinya apa-apa? Baiklah, aku harus memberinya hadiah juga!

Aku kembali lagi ke bangku taman dengan setangkai bunga yang aku temukan di taman. Bunga kecil berwarna putih ini cocok untuknya. Semoga dia suka.

Matahari semakin condong ke barat. Wanita itu tak kunjung datang. Kegelapan mulai merambat di langit menyisakan lembayung indah.

Keluargaku pasti sudah menungguku. Teman-temanku sudah meneriakiku untuk pulang. Namun, bagaimana jika wanita tua itu datang sementara aku tidak ada di sini? Aku tidak ingin membuatnya kecewa.

Matahari benar-benar tenggelam. Bunga putih itu sedikit layu. Lampu taman mulai menyala temaram. Aku menangis. Kemana wanita tua itu? 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Mengunjungi Heri
Heri Winarko
Skrip Film
BATAS WAKTU
Ragiel JP
Skrip Film
Selingkuh yang diakibatkan Stress
Frederic Beslar
Skrip Film
Memilih diam dalam cinta
Fadil al fausan
Flash
Orang Menyebalkan
Impy Island
Flash
Mendadak Terbang
Sulistiyo Suparno
Flash
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
Amir Sidiq
Cerpen
Priceless Time
Pamella Paramitha
Cerpen
Bronze
Rambut Baru Oma Nana
Habel Rajavani
Novel
Bronze
REMINISCENCE ELEGY
mahes.varaa
Novel
Study(ing) Love
ceciliafs
Komik
Bronze
Hidden Feelings
Nami Taki
Skrip Film
Balada Serangga
Chely Nizwar
Skrip Film
Semesta dalam Elegi Biru
Hasna Khairunisa
Flash
Bronze
Menggapai Mahkota
Mega
Rekomendasi
Flash
Janji Wanita Tua pada Burung Gereja
Amir Sidiq