Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Yang Tak Tertebak
17
Suka
37,241
Dibaca

Apa yang lebih menyiksa dari duduk berdua, namun dua kepala tak satu irama?

Aku rasa tak ada. Bersama tapi seolah sedang bercengkerama sendirian. Bahkan, makanan kesukanmu yang kubawa dengan susah payah, mesti bertarung melawan dingin malam dan menyusup di antara air langit yang menabrak bumi hanya berakhir utuh tak kausentuh.

Lelaki macam apa yang berhasil memegat rasa di antara kita? Mengapa setiap ucapmu seperti hendak mengusirku minggat dari hidupmu?

“Ini martabak favoritmu,” ujarku menawar pengusiranmu.

Di tengah kota ini, penjual martabak hampir ada di sepanjang jalan. Tapi, semoga kau selalu ingat, cuma martabak di ujung perbatasan kota yang kau suka. Aku pun rela mati-matian mengantri berjam-jam. Juga bersedia menempuh jarak yang tak dekat itu dengan tekad kau akan memaafkan, kemudian lahap memakannya. Dan berakhir tersenyum seperti dahulu.

“Tolong, berhenti menyogokku dengan makanan,” ujarmu. “Kita sudah selesai. Dan tak ada yang bisa dibenahi dari apa-apa yang memang sudah berakhir,” imbuhmu. Aku mendengar nada bicaramu naik.

“Kenapa?” tanyaku kelu. Kau bergeming. “Beritahu aku letak salahku. Baru aku akan pergi.”

Kau berdiri, seolah memberi jarak. “Ada hal-hal yang tak perlu kita cari-cari alasannya, tapi memang harus selesai, Ga.”

“Itu bukan jawaban, Na,” protesku. “Kau berubah. Itulah yang benar.” Aku menatap martabak favoritmu yang mulai mendingin. Sama seperti sikapmu.

“Seperti selera makan, aku juga bisa membenci makanan favoritku seiring berjalannya waktu. Sama halnya dengan cinta. Kita nggak akan pernah tau apa yang dilakukan waktu.”

Hari ini aku percaya perkataanmu itu, martabak dan perjuanganku nyatanya cuma angan yang mustahil mendapatkan kembali hatimu. Kenangan kisah kita yang sebulan lalu masih baik-baik saja, kini berakhir di tempat sampah —bebarengan dengan sebungkus martabak yang kaulempar dengan sembarang di hadapan sepasang mataku. 

Akhirnya, di hadapan makanan kesukaanmu, tak pernah lagi ada dua kepala yang saling mengangguk menikmat renyah martabak sembari tertawa terbahak-bahak menceritakan hari yang sebenarnya biasa saja. Sebab yang tersisa kini cuma remah cerita yang lukanya tak pernah bisa ditebak.

“Aku pergi bukan berarti apa-apa yang kauanggap berakhir juga sudah selesai begitu saja.” Aku menjeda omonganku. Mengambil napas dalam supaya air mataku tak jatuh—aku merasa mendadak menjadi lelaki cengeng. “Asal kau tau, Na. Di dunia ini ada hal-hal yang kita sangka telah berakhir, nyatanya malah diam-diam mendiami isi kepala dan hati kita sampai tak berkesudahan!”

Aku melihatmu mematung. Sebelum akhirnya, aku memilih pergi supaya tidak terjebak dalam pikiran dan emosi yang mulai meletup-letup tak karuan di dalam kepalaku. Hari ini duniaku berpaling—tersisa diriku sendirian dengan banyak tanya dan sangkal yang tak lagi hendak kuutarakan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
LAYANG-LAYANG
Ejas Intan
Novel
CAREN
IS KUN
Novel
Kumpulan Cerita Anak
Rifan Nazhip
Novel
Bronze
Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan
Imajinasiku
Flash
Bronze
Menanti Kau
Moycha Zia
Komik
Sweet Evil Boss
Lil Potato
Novel
Bronze
PELITA
Senya
Novel
Bronze
Rawan
Eko Hartono
Flash
Bronze
Peri-Peri Mungil
anjel
Novel
Bronze
KENNIE
Asrina Lestari
Novel
Bronze
MENUNGGU: Akhir Kisah Kita
Nurita
Flash
Maghrib
Fatimah Ar-Rahma
Novel
Bronze
Karir & Cinta
Lusi permata sari
Flash
Tangan Kanan
Alifia Sastia
Rekomendasi
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
Sepotong Kenangan di Meja Makan
Denik a nuramaliya
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Flash
Di Balik Semangkuk Bawang
Denik a nuramaliya
Flash
Perihal Cinta di Bawah Pohon Eboni
Denik a nuramaliya