Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Yang Tak Tertebak
17
Suka
39,092
Dibaca

Apa yang lebih menyiksa dari duduk berdua, namun dua kepala tak satu irama?

Aku rasa tak ada. Bersama tapi seolah sedang bercengkerama sendirian. Bahkan, makanan kesukanmu yang kubawa dengan susah payah, mesti bertarung melawan dingin malam dan menyusup di antara air langit yang menabrak bumi hanya berakhir utuh tak kausentuh.

Lelaki macam apa yang berhasil memegat rasa di antara kita? Mengapa setiap ucapmu seperti hendak mengusirku minggat dari hidupmu?

“Ini martabak favoritmu,” ujarku menawar pengusiranmu.

Di tengah kota ini, penjual martabak hampir ada di sepanjang jalan. Tapi, semoga kau selalu ingat, cuma martabak di ujung perbatasan kota yang kau suka. Aku pun rela mati-matian mengantri berjam-jam. Juga bersedia menempuh jarak yang tak dekat itu dengan tekad kau akan memaafkan, kemudian lahap memakannya. Dan berakhir tersenyum seperti dahulu.

“Tolong, berhenti menyogokku dengan makanan,” ujarmu. “Kita sudah selesai. Dan tak ada yang bisa dibenahi dari apa-apa yang memang sudah berakhir,” imbuhmu. Aku mendengar nada bicaramu naik.

“Kenapa?” tanyaku kelu. Kau bergeming. “Beritahu aku letak salahku. Baru aku akan pergi.”

Kau berdiri, seolah memberi jarak. “Ada hal-hal yang tak perlu kita cari-cari alasannya, tapi memang harus selesai, Ga.”

“Itu bukan jawaban, Na,” protesku. “Kau berubah. Itulah yang benar.” Aku menatap martabak favoritmu yang mulai mendingin. Sama seperti sikapmu.

“Seperti selera makan, aku juga bisa membenci makanan favoritku seiring berjalannya waktu. Sama halnya dengan cinta. Kita nggak akan pernah tau apa yang dilakukan waktu.”

Hari ini aku percaya perkataanmu itu, martabak dan perjuanganku nyatanya cuma angan yang mustahil mendapatkan kembali hatimu. Kenangan kisah kita yang sebulan lalu masih baik-baik saja, kini berakhir di tempat sampah —bebarengan dengan sebungkus martabak yang kaulempar dengan sembarang di hadapan sepasang mataku. 

Akhirnya, di hadapan makanan kesukaanmu, tak pernah lagi ada dua kepala yang saling mengangguk menikmat renyah martabak sembari tertawa terbahak-bahak menceritakan hari yang sebenarnya biasa saja. Sebab yang tersisa kini cuma remah cerita yang lukanya tak pernah bisa ditebak.

“Aku pergi bukan berarti apa-apa yang kauanggap berakhir juga sudah selesai begitu saja.” Aku menjeda omonganku. Mengambil napas dalam supaya air mataku tak jatuh—aku merasa mendadak menjadi lelaki cengeng. “Asal kau tau, Na. Di dunia ini ada hal-hal yang kita sangka telah berakhir, nyatanya malah diam-diam mendiami isi kepala dan hati kita sampai tak berkesudahan!”

Aku melihatmu mematung. Sebelum akhirnya, aku memilih pergi supaya tidak terjebak dalam pikiran dan emosi yang mulai meletup-letup tak karuan di dalam kepalaku. Hari ini duniaku berpaling—tersisa diriku sendirian dengan banyak tanya dan sangkal yang tak lagi hendak kuutarakan.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (6)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Jejak: Romantic Love Story #1
Imajinasiku
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
Bronze
Kalau bangun duluan, bangunin ya!
Reyan Bewinda
Flash
Bronze
Menunggu Moment
Lisnawati
Flash
Bronze
Arah Ayah
Nuel Lubis
Flash
Saat Aku Merasa Tenang Di Dalam Ruang Khayalan
Fadel Ramadan
Novel
THE POWER OF LOVE
Rosiana
Novel
Bronze
I am Watching You
Wuri
Novel
Bronze
Tanpa Nama
Paul Siem
Novel
DI BALIK BAYANG-BAYANG KASIH SAYANG
Wardjito Soeharso
Flash
Rencana Karto
Irma Susanti Irsyadi
Novel
Seesaw
Rara Rahilah
Flash
Bitter Sweet Surprise
Erdem Emre
Cerpen
Bronze
Cinta dua dimensi
Wiwik Mayasari
Komik
Bronze
Sandi Nusantara
Mr. Q
Rekomendasi
Flash
Yang Tak Tertebak
Denik a nuramaliya
Flash
Sepotong Kenangan di Meja Makan
Denik a nuramaliya
Flash
Perihal Cinta di Bawah Pohon Eboni
Denik a nuramaliya
Flash
Hok Lo Pan untuk Tjen
Denik a nuramaliya
Flash
Di Balik Semangkuk Bawang
Denik a nuramaliya