Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kafe Diatas Langit
6
Suka
5,059
Dibaca

Kata orang bermimpi ketinggian itu seperti "mengecat langit". Bolehlah jika kalian beranggapan apa yang ingin aku tuliskan juga begitu.

Tapi setidaknya, kalian baca dulu apa cerita mimpiku. Sebelum bermimpi benar-benar dilarang karena bisa membuat orang halu.

Sore itu....

Meja-meja bundar dengan deretan bangku kayu mahoni memenuhi ruang dan waktu.

Dinding krem dipenuhi poster merah menyala. Disisi kanan dalam ruang berisi kotak-kotak monopoli koleksiku memenuhi dinding.

Berkali-kali aku memimpikan ruang itu, maksudku kafe itu. Aku semestinya tak peduli, apakah akan bernama coffe table karena kafeku dipenuhi meja-meja kopi bundar atau persegi.

Atau coffee terra, yang terdengar manis karena terra terasa tak asing, setidaknya bisa bernama seorang gadis kecil yang manis, atau dengan cepat mengingatkan pada kapasitas memori yang over high.

Atau boleh juga cocca coffee yang bisa ditafsirkan sedikit tabu karena seperti mengeja kokain dalam bahasa gaul, coca!. Aku tak akan ajak berdebat dan berlama-lama memilih namanya.

Aku terus bermimpi ruangan kafe itu dipenuhi kursi hitam putih, seperti gula dan kopi, atau hitam kuning yang mewakili dunia yang berbeda.

Aku begitu terobsesi, memikirkannya dengan beragam cara, berhari-hari menyita waktu, melamun, menyesap kopi di kedai langgananku.

Aku ingin ada sebuah sudut di kafe itu yang dipenuhi foto hitam putih koleksi huntingku.

Akan gila rasanya menikmati kopi panas ekpresso, disudut ruang berdinding klasik, dengan gemericik air menuruni kaca lima mili. Airnya terus mengalir turun seperti suara gemericik gerimis kesukaanku.

Seketika seluruh inspirasi berhamburan dari kepala, memenuhi kertas, layar note book yang terus berkedip dan jari tak lagi beraturan antara sepuluh jari dan dua jari tak ada bedanya. Aku cuma ingin menuangkan isi kepala, memenuhinya dengan ide-ide, dan melahirkan tulisan.

Betapa indahnya, menulis di kursi putih sendiri, di kafe sendiri, di dinding kaca gerimis kesukaanku. Dan dalam hitungan waktu aku akan melahirkan berbuku-buku tulisan.

Aku tak peduli apakah akan ada yang membeli, atau meminta tanda tangan, karena aku sudah punya tempat mengelanakan insipirasi.

Seperti terjaga, ternyata aku sedang termangu di rumahku sendiri, di beranda kecil di lantai atas, menghadap arah matahari jingga, yang sesaat lagi mengantar sore ditemani gerimis.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Serba Pertama Kali
Veron Fang
Flash
Kafe Diatas Langit
Hans Wysiwyg
Novel
BUKAN CERITA CINDERELLA
memia
Flash
Mangue-ku Mangrove
Khairunnisa
Flash
Cinta Maya
C. Gunharjo Leksono
Flash
Di Halaman Gereja
ranieva
Flash
Bronze
Misi Kemanusiaan
Afri Meldam
Flash
Story of my life
Mesir Kuno
Flash
Takdir Kehidupan
Diyanti Rita
Flash
FATHERLESS
Dwi Budiase
Cerpen
Bronze
Samurai Inosuke
Nuel Lubis
Flash
Bronze
Pisau Dapur
Diba Tesi Zalziyati
Flash
Cuci Tangan
Binar Bestari
Skrip Film
ROBIE
NAA
Skrip Film
Scripted #2
Oktavia Tri Jayanti
Rekomendasi
Flash
Kafe Diatas Langit
Hans Wysiwyg
Flash
RUMAH SUNYI TANPA AKU
Hans Wysiwyg
Flash
Perahu Langit
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Kedua (the end)
Hans Wysiwyg
Flash
CINTA MATI
Hans Wysiwyg
Flash
Pemenang Kedua
Hans Wysiwyg
Flash
Luruh Bersama Angin
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Cerpen
Maybe Someday
Hans Wysiwyg
Flash
Teman Kamar Baru
Hans Wysiwyg
Flash
Manna dan Salwa
Hans Wysiwyg
Cerpen
Secarik Kertas
Hans Wysiwyg
Flash
Sebelas-Duabelas
Hans Wysiwyg
Flash
SAM DAN MESIN UANGNYA
Hans Wysiwyg