Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Kafe Diatas Langit
8
Suka
10,711
Dibaca

Kata orang bermimpi ketinggian itu seperti "mengecat langit". Bolehlah jika kalian beranggapan apa yang ingin aku tuliskan juga begitu.

Tapi setidaknya, kalian baca dulu apa cerita mimpiku. Sebelum bermimpi benar-benar dilarang karena bisa membuat orang halu.

Sore itu.

Meja-meja bundar dengan deretan bangku kayu mahoni memenuhi ruang dan waktu.

Dinding krem dipenuhi poster merah menyala. Disisi kanan dalam ruang berisi kotak-kotak monopoli koleksiku memenuhi dinding.

Berkali-kali aku memimpikan ruang itu, maksudku kafe itu. Aku semestinya tak peduli, apakah akan bernama coffe table karena kafeku dipenuhi meja-meja kopi bundar atau persegi.

Atau coffee terra, yang terdengar manis karena terra terasa tak asing, setidaknya bisa bernama seorang gadis kecil yang manis, atau dengan cepat mengingatkan pada kapasitas memori yang over high.

Atau boleh juga cocca coffee yang bisa ditafsirkan sedikit tabu karena seperti mengeja kokain dalam bahasa gaul, coca!. Aku tak akan ajak berdebat dan berlama-lama memilih namanya.

Aku terus bermimpi ruangan kafe itu dipenuhi kursi hitam putih, seperti gula dan kopi, atau hitam kuning yang mewakili dunia yang berbeda.

Aku begitu terobsesi, memikirkannya dengan beragam cara, berhari-hari menyita waktu, melamun, menyesap kopi di kedai langgananku.

Aku ingin ada sebuah sudut di kafe itu yang dipenuhi foto hitam putih koleksi huntingku.

Akan gila rasanya menikmati kopi panas ekpresso, disudut ruang berdinding klasik, dengan gemericik air menuruni kaca lima mili. Airnya terus mengalir turun seperti suara gemericik gerimis kesukaanku.

Seketika seluruh inspirasi berhamburan dari kepala, memenuhi kertas, layar note book yang terus berkedip dan jari tak lagi beraturan antara sepuluh jari dan dua jari tak ada bedanya. Aku cuma ingin menuangkan isi kepala, memenuhinya dengan ide-ide, dan melahirkan tulisan.

Betapa indahnya, menulis di kursi putih sendiri, di kafe sendiri, di dinding kaca gerimis kesukaanku. Dalam hitungan waktu aku akan melahirkan berbuku-buku tulisan.

Aku tak peduli apakah akan ada yang membeli, atau meminta tanda tangan, karena aku sudah punya tempat mengelanakan insipirasi.

Seperti terjaga, ternyata aku sedang termangu di rumahku sendiri, di beranda kecil di lantai atas, menghadap arah matahari jingga, yang sesaat lagi mengantar sore ditemani gerimis.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Kafe Diatas Langit
Hans Wysiwyg
Cerpen
Bronze
Kronik Perak
Kemal Ahmed
Novel
Rama's Story : Kirana - Bittersweet Symphony
Cancan Ramadhan
Flash
War Kingdoms
Rexa Strudel
Flash
Bronze
JUSTICE
Shabrina Farha Nisa
Cerpen
Tugas
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Aksara dan Visual Dalam Desa
Adam Nazar Yasin
Novel
Americanesia
ef fatma
Flash
Bronze
Menit ke Tujuh
Siti Soleha
Cerpen
Bronze
Langkah Baru Di Ujung Jalan
Sugeng Basuki cahaya purnama
Novel
Langkah Awal Menuju Dunia
Andhika Tulus Pratama
Flash
Bronze
Desert
Rama Sudeta A
Cerpen
South fight.
fasya aditya
Novel
The Mirror
rudy
Cerpen
Bayangan Terakhir di Black Harbor
Penulis N
Rekomendasi
Flash
Kafe Diatas Langit
Hans Wysiwyg
Flash
SUPERMAN IN-KUMBEN
Hans Wysiwyg
Flash
Titik Nol
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Baper
Hans Wysiwyg
Flash
Kesempatan Pertama
Hans Wysiwyg
Flash
MAKLAR
Hans Wysiwyg
Flash
Hari Ini Bapak Menyemir Sepatuku
Hans Wysiwyg
Flash
Jangan Bangunkan Mimpi Ini
Hans Wysiwyg
Flash
Orang Asing di Ujung Jembatan
Hans Wysiwyg
Flash
Suami Terba(l)ik
Hans Wysiwyg
Flash
Cerita Semalam
Hans Wysiwyg
Flash
CLBK Cinta Lama Belum Kelar
Hans Wysiwyg
Flash
Heaven Can Wait
Hans Wysiwyg
Flash
CAFE LATTE MERAH
Hans Wysiwyg
Cerpen
BADRI BERHANTU Pabrik Padi Syereem!
Hans Wysiwyg