Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Mustika Kebahagiaan
0
Suka
3,231
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Aku berjalan dengan langkah gontai menyusuri jalan setapak yang di kelilingi oleh pepohonan. Jujur, aku sudah merasa tidak sanggup.

Mencari makanan dan air di tempat ini begitulah sulit. Aku sampai harus memakan lengan kanan ku sendiri untuk memberhintikan pemberontakan caci dalam perutku.

Air?

Aku cukup beruntung karena menemukan genangan dibawah pohon yang daunnya telah rontok. Aku sangat bersyukur, sangat! Namun itu 7 hari yang lalu.

Kini dengan perut yang lapar, bermodal satu tangan dan dua kaki aku terus berjalan. Badanku penuh luka. Jangan tanya soal mata kiri yang ku tutup dengan kain dan leherku yang bersimbah darah.

Itu hanya sebuah upaya. Upaya dariku yang sia sia.

Dulu aku begitu naif. Sebagai seorang pendekar, aku begitu bergaih ketika mendengar bahwa semua pendekar dari cardivia dibuatkan sebuah sayembara.

Sayembara untuk mengambil sebuah mustika berbentuk kalung yang dijaga oleh seekor naga dan raksasa tengkorak bermata satu.

Awalnya semua berjalan seperti biasa. 120 pendekar dari penjuru kerajaan kini bersamaku berjalan untuk menghabisi penjaga mustika itu.

Aku masih ingat jelas, salah satu pemilik guild terbesar di cardivia menjdai pemimpin kami semua. Dibawah komandonya, kami sepakat bahwa hadiah yang akan di dapat dari raja akan kami bagi rata.

Namun....

Semua berubah ketika mustika itu telah berada di tangan kami. Sebagaimana harta, dia selalu membawa kebahagiaan serta kemalangan dan benar saja.

"Kau yakin akan memberikan ini pada raja?"

Pertanyaan sumbang itu membuat kami terbagi menjadi dua kelompok. Awalnya ini hanya perdebatan sampai saat senjata diangkat, semuanya berubah.

Kami saling bunuh di tempat itu, suara dentingan pedang dan jerit kesakitan menggema jelas di dinding gua yang luas ini.

Awalnya aku mencoba melerai mereka, namun itu sia-sia. Aku pernah mendengar Kakekku berkata bahwa bila kata tak lagi mampu memberi pengertian, maka kekerasan dapat menggantikannya.

Akhirnya aku ikut bertarung dan dengan hampi kehilangan nyawa, aku berhasil merenggut nyawa mereka semua. Sebagai imbalannya, kini kalung itu ada di tanganku.

Aku akhirnya berjalan keluar dari tempat penuh darah itu. Sebelum melangkah lebih jauh, aku melingkar kalung itu di leherku agar tetap aman dan tidak hilang.

Namun tiba-tiba kalung itu menyatu dengan tubuhku dan hanya menyisakan bandul yang mencuat keluar di depan dadaku.

Aku mencoba menarik bandul itu dengan tangan, namun bandul itu tidak mau terlepas. Aku kemudian mengambil pedangku, ku coba lagi, namun hasil tetap sama.

Bahkan sampai hari ini benda itu masih menempel di badanku. Benda sialan yang membuat ku harus seperti ini. Bisa terluka, tetap merasa lapar dan haus, tetap merasakan kantuk ataupun lemas namun tidak bisa MATI!

Aku tidak tahu, siapa yang menipuku. Raja itu? Sang putri? Diriku sendiri? atau Dewa?

Jika Dewa menciptakan manusia untuk menebus dosa di kehidupan mereka dikehidupan lampau sebelum mereka akhirnya mati.

Lalu apakah dosaku begitu besar sehingga aku masih hidup sampai saat ini?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Mustika Kebahagiaan
Erlang Kesuma
Cerpen
Identitas Kedua Sang Master
Syafira Muna
Flash
Kehidupan Kedua
AnotherDmension
Novel
Mind vs. Machine
Kiara Hanifa Anindya
Skrip Film
News Anchor Screenplay
Risna Pramesti
Novel
Bronze
Hero or Zero
Aylanna N. Arcelia
Flash
Pesan
Ujang Nurjaman
Novel
Lelaki yang Menjual Cinta
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Langit Dua Dunia JANJI PUTRI DAN ROH SERIGALA
Mochammad Ikhsan Maulana
Novel
Bronze
Hitam Putih Wanasaba
Wulansaf
Novel
Alif Lam Mim
Zainur Rifky
Flash
Sang Penjaga (4)
Omius
Cerpen
Bronze
Terlambat
Muhamad Irfan
Cerpen
Bronze
Blanchete
Centrifugal
Flash
Bronze
PINTU MERAH MAROON
Hanan Rafidah
Rekomendasi
Flash
Mustika Kebahagiaan
Erlang Kesuma
Novel
Our Summer
Erlang Kesuma