Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Sejarah
#4. Rasa dari Keputusan yang Belum Terungkap
0
Suka
6,388
Dibaca

Udara malam berbisik melalui celah-celah jendela, membawa aroma rumput basah dan tanah. Nion berdiri, diam seperti batu, pikirannya melayang pada kenangan kehidupan masa lalu. Kehidupan sebelum bentrokan pedang menjadi dengungan konstan di latar belakang, sebelum beban kehormatan terasa begitu menyesakkan. Angin, lembut namun mendesak, menyentuh kulitnya seolah mencoba mengguncangnya dari lamunannya.

Dalam keheningan, hanya gema medan perang yang tersisa. Namun, dalam dirinya, pertempuran lain berkecamuk, konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan pedang. Dia sudah lama berhenti percaya bahwa perang mendatangkan kehormatan. Sekarang, pedang di tangannya tidak terasa lebih dari sekadar alat untuk kekerasan tanpa akhir.

Di luar, dunia tampak tenang. Bintang-bintang berkedip samar di antara kegelapan yang tak berujung, dan angin membawa serta dengungan sungai yang tenang. Malam itu dimaksudkan untuk kedamaian, tetapi di dalam hati Nion , kekacauan bergolak. Gemerisik lembut dedaunan di luar terasa seperti ejekan. Bagaimana mungkin dunia tetap tenang sementara di dalam, semuanya terurai?

Rumah itu, yang dulunya tempat perlindungan, kini terasa lebih seperti sangkar. Dindingnya tampak tertutup rapat, keheningan semakin pekat saat pikirannya berputar-putar. Bahkan bau tanah yang sudah dikenalnya, yang dulu menenangkan, kini hanya mengingatkannya betapa jauh ia telah menyimpang dari kehidupan tempat ia dilahirkan. Tempat ini, rumahnya, tidak lagi terasa seperti miliknya.

Nion beralih ke bintang-bintang. Ia dulu mengira bintang-bintang menyimpan jawaban, bahwa luasnya langit entah bagaimana dapat memberikan kejelasan. Namun kini, saat ia menatap kehampaan, yang dapat ia rasakan hanyalah beban keraguan yang menghancurkan. Takdirnya telah diputuskan jauh sebelum ia dilahirkan, jalan hidupnya dipahat oleh pedang, seperti yang dituntut ayahnya.

Namun malam ini, untuk pertama kalinya, ia merasakan gejolak pemberontakan. Bukan pemberontakan yang terjadi di medan perang, tetapi pemberontakan yang membakar dalam hati karena kerinduan akan sesuatu yang berbeda, sesuatu yang melampaui darah dan kehormatan yang telah menentukan hidupnya selama ini. Kata-kata neneknya bergema di benaknya, seperti obat mujarab untuk kekacauan. "Memasak bukan hanya tentang memberi makan tubuh. Ini tentang menyehatkan jiwa."

Ia mengepalkan tinjunya, kata-kata itu membungkusnya seperti jubah. Mungkinkah sesuatu yang sederhana seperti makanan yang dibagi di antara musuh cukup untuk mengubah arah takdir? Mungkinkah itu lebih kuat daripada pedang yang selalu mendefinisikannya?

Hembusan angin kencang menyadarkannya dari lamunannya. Aroma sesuatu yang asing memenuhi udara, rempah-rempah, asing dan memabukkan. Nion melangkah mendekati jendela, mencari sumbernya. Di tepi sungai, sesosok tubuh bergerak perlahan, karung besar tersampir di bahunya.

Seorang pedagang, mungkin? Dari negeri-negeri jauh yang hanya pernah didengar Nion dalam cerita-cerita. Angin membawa aroma yang lebih dekat, pedas, manis, bercampur dengan sesuatu yang eksotis. Jantung Nion berdetak lebih cepat. Mungkinkah ini takdir, atau sekadar kebetulan?

Ia tidak tahu banyak tentang dunia di luar medan perang, tetapi ia pernah mendengar tentang negeri-negeri di mana makanan bukan sekadar sumber makanan, tetapi kekuatan yang mampu menyatukan bangsa-bangsa. Neneknya pernah berbicara tentang hal-hal seperti itu, dan sekarang gagasan itu mengakar dalam benaknya. Mungkinkah makanan, bukan perang, menjadi jalan sejati menuju perdamaian?

Bintang-bintang berkedip samar di atas kepala, tetapi cahayanya tampak berbeda malam ini, lebih hangat, lebih dekat, seolah-olah mereka mendorongnya menuju sesuatu yang baru. Nion bernapas dalam-dalam, merasakan udara memenuhi paru-parunya. Selama ini, ia hidup dengan aturan pedang, terikat oleh kode yang tidak lagi masuk akal. Kehormatan yang dibicarakan ayahnya kini terasa hampa, bayangan sesuatu yang tidak lagi bermakna.

"Bagaimana jika hati lebih kuat dari baja?" bisiknya, kata-katanya nyaris tak terdengar di udara malam. "Bagaimana jika perdamaian bukanlah sesuatu yang diperoleh melalui pertempuran, tetapi melalui pemahaman?"

Aroma rempah-rempah masih tercium, berpadu dengan aroma sakura yang melekat di angin. Saat pedagang itu mendekat, Nion merasakan tarikan sesuatu yang lebih besar daripada takdir. Untuk pertama kalinya, ia melihat kemungkinan kehidupan di luar pedang.

Angin membawa kelopak sakura terakhir dari pohon, membuatnya berputar ke arah sungai. Nion memperhatikannya jatuh, merasakan sesuatu dalam dirinya bergeser. Malam ini, di bawah bintang-bintang, ia menyadari bahwa pilihan ada di tangannya. Ia tidak akan lagi membiarkan pedang menentukan masa depannya.

Namun jalan di depannya tidak jelas. Jalan yang ingin ditempuhnya, yaitu jalan menuju kedamaian, pemahaman, dan hubungan melalui makanan, bukanlah jalan yang dapat diterima keluarganya dengan mudah. Memilih jalan ini berarti menentang dasar pendidikannya.

Pedagang itu mendekat, sosoknya disinari cahaya bulan yang redup. Aroma rempah-rempah asing, berpadu dengan udara segar, memenuhi indra Nion . Ia memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam. Inilah saat di mana segalanya akan berubah.

Membuka matanya, Nion tahu. Ia tidak akan mengikuti jalan yang telah ditetapkan ayahnya. Jawabannya, kekuatan yang dicarinya, terletak di tempat lain. Di dalam hati, dalam makanan yang dimakan bersama, dalam pengertian yang datang bukan dari baja, tetapi dari rasa.

 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Sejarah
Flash
#4. Rasa dari Keputusan yang Belum Terungkap
Tourtaleslights
Novel
Tanah Terbelah (1948)
fileski
Novel
Bronze
TARUM TATU
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Novel
Bronze
Bus Maut
Ariny Nurul haq
Novel
Gold
Indonesia Poenja Tjerita
Bentang Pustaka
Flash
Drupadi
Nur Khafidhin
Skrip Film
Armila Jonas Lobato~Sebuah Catatan
Handry TM
Novel
Threads of Destiny
Yuwi Unnie
Novel
Bronze
Jual Bibit Bayi
Aroem Aziez
Novel
Bronze
Dirty Business
Annisa Fitrianti
Novel
Sebelum Menjadi Rumah
Rizky Ade Putra
Novel
Bronze
SUMPAH KALA
Snowflakemlet
Novel
Warisan Perempuan Terbuang
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bayang-Bayang di Benteng Arunika
Penulis N
Novel
ASAM LAMBUNG
aisyah nur hanifah
Rekomendasi
Flash
#4. Rasa dari Keputusan yang Belum Terungkap
Tourtaleslights
Novel
Birokrasisekai: LINTAS SAMUDRA & KONSORSIUM — Volume 2
Tourtaleslights
Flash
NODA KACA RETAK
Tourtaleslights
Flash
HANTU DI LUMBUNG
Tourtaleslights
Novel
SILOMBRA: Catatan Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Cerpen
AKARNUSA
Tourtaleslights
Novel
MOREKEY: Kisah Pelabuhan Sunyi
Tourtaleslights
Flash
SIMPUL YANG KUAT
Tourtaleslights
Novel
TERRALAZE: THE LAST FANTASY OF VALSEKAI
Tourtaleslights
Novel
Generasi Nozzel: Stempel di Meja Makan
Tourtaleslights
Flash
#2. Langit Berbintang dan Rasa Takdir
Tourtaleslights
Cerpen
17 Tahun Budak Cinta II
Tourtaleslights
Flash
#3. Rasa Takdir dan Kebebasan
Tourtaleslights
Novel
Negeri Topeng Monyet: Bukan BIN Tapi DIM
Tourtaleslights
Novel
NUSANTARA MIRALOKA
Tourtaleslights