Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Hutang Fiksi
21
Suka
38,894
Dibaca

Aku masih tak percaya mulutku bisa dengan mudahnya meluncurkan kalimat demi kalimat dusta di hadapan Toyib.

“Sebelumnya aku minta maaf, Yib, mungkin ini bukan waktu yang tepat, tapi..”

Toyib buru-buru memotong kalimatku. “Jika ada urusan dengan almarhum yang belum terselesaikan katakan saja, Lis, tak usah ragu.”

“Eee, anu ... tiga bulan yang lalu almarhum Bang Tohir pernah meminjam uang padaku,” ucapku sungkan.

“Berapa Lis?”

Aku meneguk ludah yang rasanya sekeras batu. Toyib mencondongkan tubuhnya padaku. Aku menyebut nominal dalam bisikan. Toyib mengangguk dan masuk ke dalam rumah.

Aku masih menunggu dengan perasaan bersalah. Ingin rasanya aku membatalkannya, tetapi sudah terlanjur basah. Jika tidak begini bagaimana nasib anak dan istriku di rumah. Sebenarnya akulah yang memiliki hutang pada almarhum, akulah yang berkewajiban menyelesaikan perkara ini dengan Toyib, sekarang malah aku yang menambah perkara.

Biarlah sekali ini aku jadi pembohong. Cukup satu kali saja. Setelah ini aku akan bertobat.

“Lis!” Toyib mengguncang bahuku. Rupanya sudah sedari tadi ia memanggilku. “Ini uangnya." Toyib menyodorkan amplop tebal. Aku mengambilnya dengan tangan gemetar.

"Aku sangat bersyukur kamu bicara langsung hari ini, sebelum jenazah Bang Tohir dikebumikan.”

“Ah..i..iya, Yib.” Aku mengangguk tak berani beradu pandang dengannya.

“Sekali lagi aku mohon maaf jika almarhum pernah melakukan hal yang tidak berkenan di hati kamu, Lis.”

“I..iya, Yib,” jawabku semakin gugup.

Aku melempar salam sekadarnya lalu berbalik cepat. Khawatir Toyib mencium kejanggalan tingkahku.

Dalam perjalanan langkahku terasa sangat berat. Rasanya ingin berbalik arah dan mengatakan yang sebenarnya, tetapi jika dipikir-pikir aku memang harus mengambilnya. Toyib hidup berkecukupan, sementara kondisi ekonomiku sangat memprihatinkan.

Semua ini kulakukan demi keluargaku. Seseorang akan melakukan apapun demi keluarganya, termasuk hal-hal di luar batas. Tak peduli yang ia lakukan benar atau salah. Karena bagiku salah besar jika aku membiarkan keluargaku menderita. Biarlah aku menanggungnya sendiri seumur hidupku hingga tiba waktu untuk menebusnya. Aku hanya berharap cepat dapat rezeki lalu mengembalikan uangnya dan meminta maaf pada Toyib, sehingga dosa ini tak terbawa hingga ke akhirat. 

***

Penipu tetaplah penipu. Tak peduli alasan apapun yang mendesak untuk melakukannya, suara itu bergema di kepalaku.

“Bapak tidak ikut mengantar jenazah Pak Tohir?” Suara istriku yang siap berangkat ke pemakaman membuyarkan lamunan. Kepalaku menggeleng tanpa daya di atas bantal.

Ingatanku bergerak ke masa lalu di mana Pak Tohir masih hidup. Beliau orang baik, semasa hidup beliau selalu membantu sesama yang kesulitan, termasuk aku. Sekarang justru aku membalas kebaikan beliau dengan cara seperti ini.

Untuk menghibur diri sendiri aku berpikir bahwa almarhum pasti akan memahami kesulitanku. Beliau tentu akan memaklumi tindakanku yang berdasar keterpaksaan ini.

“Ayaaaaaah, ayaaaaah..!!!” teriak anakku. Ia menerobos tirai kamar.

“Ada apa, Nak?” tanyaku enggan.

Ia menghampiriku. Baju dan keningnya basah oleh keringat. “Ppp, paakkk ...Tohir ... mati ...,” tutur anakku dengan napas ngos-ngosan.

“Iya, ayah tahu. Tadi pagi juga melayat ke sana. Apa jenazahnya sudah dikebumikan?”

“Pak Tohir mati suri, Pak. Hidup lagi. Tadi pas mau dimasukkan ke liang lahat, mayatnya bergerak-gerak. Sekarang Pak Tohir sudah digotong pulang ke rumahnya.”

Bagai tersambar petir di siang bolong. Tak pernah aku sekaget ini dalam hidupku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (9)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Tetes Embun
Elawati
Flash
Hutang Fiksi
Sugiadi Azhar
Flash
Bronze
Mencintaimu Adalah Signal Semestaku Baik-Baik Saja
Silvarani
Cerpen
Tragically Yours
Reni Refita
Novel
SEMESTA MASIH MERESTUI
Nurhidayati
Novel
Gold
Bising
Bentang Pustaka
Skrip Film
Semesta berbicara
Indra Putra Riyanto
Flash
Brownies (O)Rasa Bayar
Sena N. A.
Flash
Bronze
Sang Komedian Runtuh
Rere Valencia
Cerpen
Bronze
Pemimpin Seorang Pemimpin
Silvarani
Novel
BISNIS BODONG
Tia Dia
Novel
Tanda Lahir
Puspa Seruni
Skrip Film
KOMITMENT
Purnama
Skrip Film
Setulus Cinta
Muhammad Riza Afthoni
Skrip Film
ARUNIKA HOSPICE
Ratna Arifian
Rekomendasi
Flash
Hutang Fiksi
Sugiadi Azhar
Flash
Terkoyak
Sugiadi Azhar
Flash
Sampah di Atas Aspal
Sugiadi Azhar
Flash
Setan Curhat
Sugiadi Azhar
Flash
Lantai Keramik
Sugiadi Azhar
Skrip Film
PEBINOR (Skenario Film)
Sugiadi Azhar
Novel
Kutang Untuk Prita
Sugiadi Azhar
Flash
Harmonika Tua
Sugiadi Azhar
Flash
Sisa Hujan
Sugiadi Azhar
Flash
Rapor Dari Tuhan
Sugiadi Azhar
Flash
SLURRPPP
Sugiadi Azhar
Flash
Di Kolong Ranjang
Sugiadi Azhar
Flash
Koran Pagi
Sugiadi Azhar
Flash
Kamu Jangan Menangis
Sugiadi Azhar
Flash
It's My Tackle
Sugiadi Azhar