Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Cahaya Di Atas Perahu
2
Suka
7,799
Dibaca

“Mengapa dia terus sembahyang, padahal tidak pernah melihat Tuhan yang disembah?"

Abah Samad mencium sajadah yang baru dilipat. Umpatan  seperti itu sudah akrab bagi awak kapal,  fishing touring.

“Aaahhhh!” Pria pirang memekik. 

“Tidak ada ikan di laut ini, Mister."

“Hahaha, kau tidak melihat perlawanan ikan tadi, Pak?" Pria pirang tertawa geli.

"Maksudmu, kail yang melengkung tadi, Mister?" Abah Samad menggaruk kepala.

"Yap, aku hampir strike." Pria pirang menggulung senar yang putus.

"Hanya senar yang bergoyang. Kita sama-sama tidak melihat ikan, bukan?" Abah Samad menyela santai.

"Pak tua, ikan akan terlihat jika sudah naik ke permukaan. Kau tidak bisa melihatnya bukan berarti tidak ada ikan di sana!" Pria pirang mulai kesal.

"Mengapa kau sangat yakin, Mister?" 

"Karena akalku masih sehat untuk berpikir, Pak tua!" Pria pirang benar-benar kesal.

"Oh, karena ada sesuatu yang menarik senarmu, kau yakin di laut ini ada ikan. Meski ikan itu tidak muncul, begitu Mister?"

Pria pirang menepuk dahi, "Ya ampun, bocah ingusan pun tahu hal sepele seperti itu, Pak tua."

"Em, kalau senar itu benda mati dan bergerak karena ada ikan di bawahnya. Mungkinkah kau juga setuju jika seluruh ikan di lautan ini tidak muncul dengan sendirinya, Mister." Abah Samad berhenti sejenak, pria pirang di sebelahnya terlihat berpikir.

"Maksudku, ikan itu hidup, lebih rumit dari seutas senar. Ikan-ikan memiliki ukuran, bentuk, corak, juga makanan yang berbeda. Aku rasa, pasti ada yang membuatnya, mengaturnya, meski mata kita tidak dapat melihatnya. Bukan begitu, Mister?" Abah Samad melirik tajam.

Pria pirang terdiam beberapa saat, wajahnya memerah, "Kau sedang memaksaku percaya bahwa Tuhan itu ada, Pak tua?"

"Oh, Tidak. Aku hanya membuat perumpamaan dengan senar, dan ikan. Mister sendiri yang menyimpulkannya." Abah Samad tersenyum, kembali ke ruang kemudi.

Perkelahian dalam benak pria pirang kembali pecah. Hati kecil pria pirang masih percaya tentang Tuhan dan 99 sifat-Nya, namun rasa kehilangan   seringkali meracuninya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Seorang yang membeli Akhirat dengan dunianya
Kukuh Ainul Khakim Musthofa
Novel
PATAHAN
Tulisan Tinta16
Novel
Melamarmu
Rindiani Apriliyanti
Flash
Hujan
Mahmud
Novel
Gold
Perempuan Suamiku
Noura Publishing
Flash
Bronze
Inun
Muhammad Yunus
Flash
Bronze
Tali Pocong
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Malaikat Bermata Hazel
iqbal syarifuddin muhammad
Flash
Sita Permata Syurga
Rahmi Susan
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Dear Allah
Coconut Books
Flash
Bronze
Kunang Kunang karya Saadi
Ahmad Muhaimin
Novel
TARUNG
Kurnia Gusti Sawiji
Novel
Membongkar Tuhan : Catatan seorang penyelidik
G Wira Negara
Rekomendasi
Flash
Cahaya Di Atas Perahu
Binar Bestari
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Flash
Broken Wedding
Binar Bestari
Flash
Kembalinya Theresia
Binar Bestari
Flash
Cinta dan Pelepah Kurma
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Curcollatte
Binar Bestari
Flash
Ibu Setengah Hari
Binar Bestari
Cerpen
Bronze
Elegi Sunyi
Binar Bestari
Flash
Kotak Hitam & Selembar Uang
Binar Bestari
Flash
Perempuan: Joki Tong Setan
Binar Bestari
Flash
Diculik Jodoh
Binar Bestari
Flash
Legasi Emak
Binar Bestari
Flash
Labirin Luka
Binar Bestari
Flash
Kepingan Malam
Binar Bestari
Flash
Bronze
Sketsa Wajah Halwa
Binar Bestari