Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Jatuh Cinta Seharusnya ...
0
Suka
8,381
Dibaca

Aku pernah jatuh cinta kepada seorang lelaki, karena aku menganggap ia pintar. Setiap kali ia bicara aku tak menemukan makna yang kosong di sana, setiap kali ia menulis aku tak membaca kenihilan pesan di sana.

Seperti semua gadis yang jatuh cinta, aku mendekatinya. Tentu saja dengan cara yang tidak blak-blakan. Lelaki pintar harus didekati dengan cara yang pintar pula, setidaknya begitu aku berpikir.

Maka aku mengikuti semua perjalanan kepintarannya, aku selalu ada di mana ia berdiskusi, membaca buku yang ia baca, mendengarkan tokoh yang ia kagumi, dan melakukan banyak hal sebagaimana ia melakukan.

Kami benar-benar menjadi dekat. Kami bicara dari kebijakan pemerintah hingga satelit yang mengorbit di angkasa, bicara sejarah kenabian hingga keilmiahan ilmu hitam. Kami benar-benar sepasang pintar yang membuat orang di sekitar kagum dengan kepiawaian kami memilih kata-kata.

Seharusnya kami sudah menjadi sepasang kekasih, yang bercinta diselingi obrolan tentang angin muson yang membuat cuaca tak nikmat untuk bercinta, tapi kami masih terus melakukannya tanpa bosan. Tapi kenyataannya kami masih dua orang yang dekat tanpa lekat.

Belakangan aku mulai bosan —apakah cinta terkadang membosankan?— seperti terjadi sesuatu yang tidak tepat setiap kali aku memikirkannya. Awalnya kupikir karena aku ingin progres yang jelas, hubungan yang bisa kujadikan gerbang hidup berikutnya. Tapi lama-lama aku tahu bukan itu, ada sesuatu lain yang sangat esensial namun berhasil kuraba dengan jelas.

Suatu hari saat ia menggandeng perempuan manis berlesung pipi dengan bola mata yang dihiasi lensa kontak, aku tak cukup terluka untuk perempuan yang mengaku jatuh cinta. Bahkan saat aku tahu perempuan itu seseorang yang suka mengeluh di sosial media, menceritakan hal-hal kecil di hidupnya, tentang kucing oranyenya yang nakal, tentang teman-temannya yang suka nongkrong di warung 24 jam, dan hal-hal sederhana yang dilakukan semua anak muda. Aku tak mendapati egoku yang terluka karena merasa kalah.

Sekarang aku tahu apa yang tidak tepat, ia tak pernah membuat aku mengatakan, bahwa aku lebih menyukai lagu-lagu dangdut dibanding suara merdu Tulus.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Jatuh Cinta Seharusnya ...
Yuli Harahap
Flash
Bronze
The Quantum Chronicles: Gateway to Infinity
Maria Septian Riasanti Mola
Novel
Sherly Seeker - The Mortal Demon
Eliase Alfarz
Novel
Kosmis dalam Kelut
adek Dwi oktaviantina
Cerpen
Bronze
Retha
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
When The Snow Comesback
Regina Verdina
Cerpen
Bronze
Nemu
Ron Nee Soo
Cerpen
Reuni di Villa Angker
adinda pratiwi
Skrip Film
Ergo
Rifatia
Flash
Anomali
Fajar R
Novel
Mantra Coffee
Noir Gallagher
Cerpen
Bronze
Desa Jati (part 1)
Rizqy Kurniawan
Skrip Film
Chasing Shadow
Alifian Afas Sawung Aji
Cerpen
Rahasia Gudang Tua
Yusfita
Novel
Sonder
Siti Nur Khodizah
Rekomendasi
Flash
Jatuh Cinta Seharusnya ...
Yuli Harahap
Flash
Surat Untuk Kekasihmu
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Persetan
Yuli Harahap
Novel
Bronze
Sebelum Pagi
Yuli Harahap
Novel
Lelaki yang Menjual Cinta
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Kupu-kupu Sumbang
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Sebelum Petang
Yuli Harahap
Flash
Tiket Terakhir
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Mungkin di Semesta Lain
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
I B U
Yuli Harahap
Novel
M E M B I R U
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Langis
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Yang Terlupakan
Yuli Harahap
Flash
Untuk Bhumi
Yuli Harahap
Cerpen
Bronze
Hilang Akal
Yuli Harahap