Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jam Lima
5
Suka
29,234
Dibaca

Rasanya waktu terlalu serakah sampai-sampai tak terasa matahari sudah melambaikan perpisahan. Hari ini detak jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya. Gadis itu terduduk penuh was-was di kamarnya. Penuh harap, dan tak pernah sedikit pun membayangkan sebuah penolakan.

Tapi gimana kalo ternyata ditolak?

Kadang otak dan hati memang bekerja saling berlawanan. Dia bahkan belum menyiapkan rencana cadangan.

Ujung jarinya terus mengetuk meja tak sabaran. Berulang kali Eris menarik napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. Ini memang bukan yang pertama kali, namun rasanya masih saja menegangkan melebihi masuk ke dalam ruang guru. Ini sungguh menyebalkan.

Sekarang sudah jam lima. Jemarinya yang penuh kapal sana-sini menari-nari di atas keyboard dengan lincahnya. Namun sudah kodratnya, memasak nasi akan lebih lama matangnya saat kita sudah sangat lapar. Alamat website yang Eris tuju hanya terus berputar-putar tanpa menunjukkan perkembangan.

Lima, sepuluh, lima belas, dan setengah jam sudah berlalu tanpa mendapatkan sebuah jawaban. Ini makin menyebalkan, jantung Eris sudah jatuh entah kemana dari asalnya. Berulang kali ia menekan enter, namun hanya lingkaran kecil di ujung kiri monitor laptopnya masih saja kejar-kejaran.

Ponselnya terus bergetar, mungkin ada belasan pesan masuk dalam waktu yang berdekatan. Eris mematikan data ponselnya, mematikan sambungan data di laptopnya dan ia memilih istirahat sejenak. Ini sedikit melegakan, ketimbang terus-terusan memaksa keadaan.

Minum segelas air putih bisa menjadi salah satu cara menenangkan irama jantung yang berdetak melebihi batas kewajaran. Sekali lagi ia memulai dari awal untuk masuk ke website yang satu bulan ini ia tunggu mati-matian. 

Beton yang menghimpit paru-parunya mendadak lengser entah kemana. Pundaknya tak terasa berat lagi, dan yang utama adalah pikirannya berhenti.

Semua emosi negatif itu berkumpul di satu tempat otaknya, membuatnya bingung harus bagaimana. Rasanya menangis tidak cukup untuk menggambarkannya. Alhasil dia hanya menghela napas kemudian seulas senyuman langsung menguar dari wajah lesunya.

“Gue gagal.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Jam Lima
SIONE
Flash
Kakek Uranus : Lelaki Tua VS Kucing Gila
Alwinn
Flash
Bronze
Sudut Pandang
Noveria
Flash
Semangkuk Bakso
Jasma Ryadi
Novel
Continuity
Mutia Rahmadyanti
Novel
Bronze
Ilusi Lusi ~Novel~
Herman Siem
Novel
Sampai Jumpa Besok
Rafael Yanuar
Novel
Sisa Waktu di Rumah Kita
Sutan Azis
Skrip Film
Ambang
Dessy Oktavia
Cerpen
SAPTO
Muhammad Adli Zulkifli
Novel
Before the Silence
Renja Permana
Novel
Arjuna
Istuti
Novel
Bronze
Madah di Balik Tabir
ANINZIAH
Novel
My Tantrum Mommy
Sukma Maddi
Novel
KABUT GELAP DARI BLANG GELE
Heru Sanjaya
Rekomendasi
Flash
Jam Lima
SIONE
Flash
Bronze
Pertama
SIONE
Cerpen
Ricuh
SIONE
Flash
Jiwa Kecil
SIONE
Cerpen
Bronze
Pengakuan
SIONE
Flash
Bronze
Mendung dan Bayangan
SIONE
Flash
Bronze
Biru dan Tamunya
SIONE
Flash
Bronze
Ulang Tahun
SIONE
Flash
Bronze
Dialog Kematian
SIONE
Flash
Abe's Journey
SIONE
Flash
Bronze
Bocah Cilik
SIONE
Cerpen
Bronze
Kasur depan TV itu
SIONE
Flash
Bronze
Frekuensi
SIONE
Novel
Rumahku?
SIONE
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE