Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jam Lima
5
Suka
23,213
Dibaca

Rasanya waktu terlalu serakah sampai-sampai tak terasa matahari sudah melambaikan perpisahan. Hari ini detak jarum jam terdengar lebih keras dari biasanya. Gadis itu terduduk penuh was-was di kamarnya. Penuh harap, dan tak pernah sedikit pun membayangkan sebuah penolakan.

Tapi gimana kalo ternyata ditolak?

Kadang otak dan hati memang bekerja saling berlawanan. Dia bahkan belum menyiapkan rencana cadangan.

Ujung jarinya terus mengetuk meja tak sabaran. Berulang kali Eris menarik napas panjang sebelum menghembuskannya perlahan. Ini memang bukan yang pertama kali, namun rasanya masih saja menegangkan melebihi masuk ke dalam ruang guru. Ini sungguh menyebalkan.

Sekarang sudah jam lima. Jemarinya yang penuh kapal sana-sini menari-nari di atas keyboard dengan lincahnya. Namun sudah kodratnya, memasak nasi akan lebih lama matangnya saat kita sudah sangat lapar. Alamat website yang Eris tuju hanya terus berputar-putar tanpa menunjukkan perkembangan.

Lima, sepuluh, lima belas, dan setengah jam sudah berlalu tanpa mendapatkan sebuah jawaban. Ini makin menyebalkan, jantung Eris sudah jatuh entah kemana dari asalnya. Berulang kali ia menekan enter, namun hanya lingkaran kecil di ujung kiri monitor laptopnya masih saja kejar-kejaran.

Ponselnya terus bergetar, mungkin ada belasan pesan masuk dalam waktu yang berdekatan. Eris mematikan data ponselnya, mematikan sambungan data di laptopnya dan ia memilih istirahat sejenak. Ini sedikit melegakan, ketimbang terus-terusan memaksa keadaan.

Minum segelas air putih bisa menjadi salah satu cara menenangkan irama jantung yang berdetak melebihi batas kewajaran. Sekali lagi ia memulai dari awal untuk masuk ke website yang satu bulan ini ia tunggu mati-matian. 

Beton yang menghimpit paru-parunya mendadak lengser entah kemana. Pundaknya tak terasa berat lagi, dan yang utama adalah pikirannya berhenti.

Semua emosi negatif itu berkumpul di satu tempat otaknya, membuatnya bingung harus bagaimana. Rasanya menangis tidak cukup untuk menggambarkannya. Alhasil dia hanya menghela napas kemudian seulas senyuman langsung menguar dari wajah lesunya.

“Gue gagal.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
ANOMALI AIR
Mochammad Eko Priambudi
Novel
Bronze
Sang Pelancong
Zzzz
Novel
JEJAK
galih faizin
Flash
Engklek
Syafira Muna
Flash
Jam Lima
SIONE
Novel
Papercut
tane
Novel
Bronze
Flatulensi
asade
Skrip Film
Karsa
Ananda Galih Katresna
Flash
The Lost Memory
Yohana Gie
Cerpen
LILIN
Fredhi Lavelle
Novel
Bronze
Elia Sismona
Tumiesn
Novel
Spektrum
Akira Q
Novel
KEJORA UNTUK BINTANG
Sinar Yunita
Skrip Film
OSPEK
Nadya Wijanarko
Flash
Bronze
Habis Kuota
Reyan Bewinda
Rekomendasi
Flash
Jam Lima
SIONE
Cerpen
Bronze
Kasur depan TV itu
SIONE
Flash
Bronze
Nostalgia
SIONE
Flash
Bronze
Dialog Kematian
SIONE
Flash
Ambil porsimu
SIONE
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE
Flash
Bronze
Mendung dan Bayangan
SIONE
Flash
Bronze
Ulang Tahun
SIONE
Flash
Marah
SIONE
Flash
Bronze
Pertama
SIONE
Flash
Bronze
Frekuensi
SIONE
Flash
Bronze
Abe's Journey
SIONE
Flash
Jiwa Kecil
SIONE
Flash
Bronze
Foto Keluarga
SIONE
Cerpen
Bronze
Pengakuan
SIONE