Explore
Pilihan
Genre
CAMPERNIK
"Dan sekarang aku bisa menetapkan relativitas jarak aku kepadamu. Semuanya menjadi konstanta. Bahwa kita tidak lagi nyata"
CAMPERNIK

Segalanya tampak sama, jika kita masih menghirup aroma yang sama selang ribuan masa. Semuanya masih kusimpan di otak besar. Tentang aroma yang khas dari tepung yang membauri moci. Apalagi bau atsiri yang selalu menjalari dari tubuh seorang yang selalu dipanggil campernik. Campernik punya segala macam aroma. Dari aroma tubuhnya hingga aroma kehidupannya. Aku ingin menghisapi baunya lekat-lekat. Sudah delapan tahun aku dan dirinya berada diantara jarak yang tak dekat.

Maka menapaki lagi tanah sukabumi, aku bisa menjadi saat-saat aku bermain layang-layang di gunung parigi. Tentu saja bersama campernik. dia yang membentangkan, aku yang membubungkan. Atau kami sama-sama ngaronce. Waktu itu, kami asyik berdua, menari-narikan layangan seirama dengan tarian angin. Sesekali campernik memainkan layangan, dituntun oleh tanganku. Matanya berbinar saat dia bisa membumbungkan layangan, lalu bersorak ketika layangannya berputar-putar tinggi.

" Aa … aku mau aa terbang tinggi seperti layangan!"

Begitulah pinta Campernik. Dan saat ini, aku sudah mewujudkan permintaannya. Terbang jauh menempuh pendidikanku di negeri kangguru. Aku tidak sabar bertegursapa dengannya.

***

Aku sempat mengira jika tanah sukabumi masih lapang. Ternyata makin sempit dilahap para ber-uang. Tanahnya menjadi tembok-tembok besar yang dijadikan orang-orang kecil mencari tuang[1]. Tahun depan, lahan samping rumahku akan dilumat buldoser serang. Aku meradang. Semuanya telah hilang. Bukan hanya tempat-tempat, bau campernik juga tak lagi melekat.

Dia sudah tak memakai atsiri. Dia lebih melumuri dirinya dengan air mani. Dia tak ingin menjadi layangan yang menari di awang. Dia terpaku untuk menjadi dayang. Lalu dia menari-nari di antara tiang-tiang. Membuat semua mata lelaki memandang. Tubuhnya untuk dinikmati orang.

Saat Campernik membalas chattinganku. Dia menjelaskan bagaimana kehidupannya sekarang. Aku terkejut benar, ternyata omongan orang-orang tentangnya itu benar. Aku yang sinting, menganggapnya bukan asing. Aku tahu sekarang, mengapa campernik  tidak mau video calling. Mengapa campernik sesekali bergeming saat aku tidak di sukabumi.

Saat aku baru memandangnya. Aku terkejut melihat Campernik yang memakai tengtop dan hotpan, menonjolkan betapa besar pertumbuhan payudara dan pahanya. Apalagi bibirnya yang merah merekah basah, goresan dari lipstik dicampur bilasan bibir para lelaki. Jemarinya mengapit sebatang yang mengepulkan asap-asap. Mengaburkan pandanganku kepadanya.Yang Semula dia jernih, sekarang tidak bersih. Hatiku sungguh terisak perih.

“Katanya, Kenapa Tuhan menciptakan jarak. Karena rindu itu mendekatkan. Tapi jika kita saling mendekat. Itu bukan rindu, Karena tidak ada lagi jarak diantara kita”

Aku memulai percakapan dengannya, di sebuah tempat sunyi di balik bangunan kosong.

“Bagaimana jika kita menjauh, kang ?”

Campernik bertanya, seolah dia ingin menolak teoriku tentang relativitas jarak (dalam hal ini perasaan).

“Jauh dekat tak masalah, jarak itu relatif”

“Apakah perasaan juga relatif?”

“Mungkin”

Dan sekarang aku bisa menetapkan relativitas jarak aku kepadamu. Semuanya menjadi konstanta. Bahwa kita tidak lagi nyata

[1] Makan (bahasa sunda)

7 disukai 4 komentar 3.5K dilihat
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
@tidakadashinahariini : Wkwkwkwkwk 😂
Capernik pasti kang nasgor. Soalnya dia pake hot-pan.
@imelyo26 : Makasih ...
Uniiikkk
Saran Flash Fiction