Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Seuncang Beras
19
Suka
29,375
Dibaca

Harga beras sedang tinggi-tingginya ketika aku dilahirkan, begitu kata Emak. Itu yang ia ingat di kepalanya tentang kelahiran aku –putri satu-satunya– dari suami yang kini sudah tak ada lagi di bumi ini.

Emak hidup dari baju-baju kusut dan kain-kain kotor yang minta dicuci-rapikan. Tak tahu kenapa, Emak sebagai anak “tengkulak” di kampungnya, memilih berangkat ke kota dan menjadi buruh pembilas.

Emak bilang, janganlah kau hidup menjadi jamur di sela kaki orang. Aku tak pernah tahu apa maksudnya.

Suatu hari, Emak membahas harga beras dengan pelanggan cuciannya.

“Harga beras sedang tinggi-tingginya, waktu si Sumi lahir,” umpatnya sambil mengacungkan telunjuknya ke langit. “Di kampung kami waktu itu, beras jadi barang mewah.”

“Bukannya kau ini anak saudagar beras? Tentu setiap hari, kau bisa melihat padi menghampar.”

Ia mendengkus. “Harga beras yang tinggi itu, seperti gatal-gatal di sela kaki. Mau digaruk salah, tak digaruk pun tetap salah.”

Pelanggannya tak banyak bicara. Ia membiarkan Emak melagu tentang harga beras yang tak pernah turun, hingga bapakku mangkat dari bumi ini.

Suatu hari, Emak mendapatkan order besar untuk menyetrika kaos-kaos yang dikenakan orang-orang berkampanye. Ia memanggilku.

“Hari ini kau bantu emakmu menyetrika, agar kita bisa makan nasi lagi. Sebakul untuk dua hari.”

“Bukannya harga beras sedang naik, Mak?” tanyaku.

“Aku membantu orang-orang yang bisa menurunkan harga beras.” Ia bertutur dengan kukuhnya. “Mereka orang-orang yang bisa kita percaya.”

“Menurunkan harga beras?”

“Mendatangkan beras untuk hari ini dan besoknya lagi. Tak peduli harganya naik sekalipun.”

Aku makin tak paham. “Gatal-gatal di sela kaki?”

“Bisa kita obati nanti,” kilahnya.

Betul saja, seminggu berturut-turut, emak tak mengeluh soal harga beras yang menjulang. Bahkan, tak lagi mengungkit hari-hari kelahiranku –saat harga beras naik di kampungnya.

Rasa penasaranku membuntang. “Tengkulak itu pekerjaan apa?”

Alis Emak yang tadinya rata, kini membeliut seperti ulat. Matanya memicing murka. “Darimana kau dapat kata-kata itu?”

“Setiap kali Emak bercerita tentang hari kelahiranku. Pelanggan kita selalu bilang, kan Emak anak tengkulak, mana bisa kesulitan beras?”

Emak diam. Lama sekali. Sampai besoknya tak pernah menjawab.

Hingga hari yang mengejutkan akhirnya datang. Emak mendapatkan order cuci setrika, kaos-kaos warna lainnya.

Aku mengintip persediaan beras kami di dapur, dan tergemap melihat seuncang beras di dalam lemari. Lantas kuhampiri Emak, yang sedang menggaruk telapak kakinya yang telanjang. “Gatal-gatal, Mak?”

Ia mengangguk. “Jamur air di sela kaki ini, sungguh bayaran yang luar biasa.”

“Kenapa kaosnya berbeda warna?”

Ia menggaruk-garuk jemari kakinya dengan langkas. “Warna jingga, bisa mendatangkan seuncang beras. Warna lainnya hanya sanggup mendatangkan beberapa genggam.”

“Bagaimana dengan kakimu yang gatal?”

“Sekujur tubuh gatal pun aku rela, kalau setiap hari seuncang beras jadi gantinya.”

“Bagimana kalau tak sembuh, Mak?”

Emak diam. Lalu kembali bercerita, harga beras sedang tinggi-tingginya ketika aku dilahirkan, sampai suaminya pergi dan tak pernah bernapas lagi. Sambil menemaniku, yang sibuk mencari arti “tengkulak” dalam buku-buku pelajaranku. Semoga setelah dewasa nanti, aku tak perlu bekerja seperti emak, hingga jamur air tumbuh di sela jari-jarinya.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (8)
Rekomendasi dari Drama
Skrip Film
24/7
Kata Aksara
Flash
Seuncang Beras
Foggy FF
Novel
Sewindu Nirwana
Popromca
Novel
DANUM
Abroorza Ahmad Yusra
Novel
Mengabdi Dengan Hati, Mengajar Dengan Arti
Puspa Artheria
Skrip Film
From the Rain
Siam Fitriana
Cerpen
Bronze
Tempat Paling Sunyi untuk Menunggu Mati
Erna Widi
Cerpen
Bronze
Tengkorak Kakek di Makam Pahlawan
Muram Batu
Flash
Bronze
Si Penengah
Singkat Cerita
Novel
Bronze
The Leaving Co.
Bramanditya
Skrip Film
Cinta Kasih
Novia Br Sipakkar
Flash
Bronze
Sulis dan Kenangan tentang Bunda
Nuel Lubis
Novel
Bronze
Dare to Love
Anik Ives
Novel
Hope beyond my limits
Nur dotul jannah
Novel
HELP
Kismin
Rekomendasi
Flash
Seuncang Beras
Foggy FF
Novel
Bhanuresmi
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Milo dan Silo
Foggy FF
Novel
Mesin Jahit Bapak Awing
Foggy FF
Novel
Proyek Buku Besar
Foggy FF
Flash
Kapan-Kapan Kita Foto Berlatar Biru
Foggy FF
Cerpen
Ohrwurm
Foggy FF
Cerpen
Namaku Luka
Foggy FF
Flash
Merindu di Safarwadi
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Cikgu Cleo
Foggy FF
Novel
Bronze
Sulur Waktu
Foggy FF
Flash
Rohaya dan Secangkir Sidikalang
Foggy FF
Flash
Putra
Foggy FF
Cerpen
KETIKA KEMATIAN MENGEDIPKAN SEBELAH MATANYA.
Foggy FF
Cerpen
The Legacy
Foggy FF