Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
TERISOLASI
10
Suka
7,867
Dibaca
Cerpen ini masih diperiksa oleh kurator

Hari ini adalah hari kemarin, mungkin juga hari esok. Aku hanya terbangun di saat matahari mulai benderang, menusuki pori-pori kulitku dari jendela kamar yang terdedah. Memang aku sengaja tidur diliputi angin malam. Aku hanya ingin merasakan aroma angin yang bergerak dari mana pun, mungkin saja itu dari pegunungan, sudah lama kutak melihat dekat awan-awan bertebaran. Mungkin saja itu dari lautan, sudah lama ku tak menelusuri ombak yang berdeburan.

Selepas bangun, aku menguap begitu lama. Jika uapku satu menit atau lebih, maka aku meringkuk lagi, kali ini kututup tirai jendela, agar aku tak kepanasan saat tidur, bisa saja membuat latar mimpiku berada di neraka. Namun jika uapku hanya sebentar setengah menit atau kurang, aku beranjak dari kasur, kusesar badan yang berat ini menuju dapur. Ada dua pilihan juga di tempat ini. Jika kucium aroma-aroma makanan yang menguar, aku membuka tudung saji, dengan terpaksa kucuci piring-piring makanku sehabis makan semalam, lalu dengan semangat kutonton acara TV yang membosankan.

Jika ibu lupa menyisakan makanan, aku kembali ke tempat tidur, memeriksa pesan masuk di handphone, lalu membuka pesan antar makanan. Sambil menunggu makanan datang, biasanya aku mengganjal perutku dengan sebungkus mie sampai aku tertidur, pulas hingga makanan yang kupesan habis oleh adikku yang hanya menyisakan bungkusan bergambar ayam. Sungguh, gambar ayam membuatku geram. Aku mengeram. Lagi, sampai kutunggu adzan dzuhur berkumandang menyadarkan telingaku dari dengungan mimpi-mimpi. Biasanya siang hari, ibu memasak begitu banyak karena dia lepas dari pekerjaannya di sekolah. Untung saja pekerjaan di masa sekarang ini dikerjakan dengan jeda waktu yang sedikit, maka aku bisa begitu juga dengan sedikitnya mencicipi masakan ibu.

Siang ini, ibu memasak mie. Bedanya, tidak memakai MSG, lalu diganti dengan garam. Ibu bilang MSG sangat tidak baik untuk tubuh. Sudah 10 bulan ibu menerapkan pola hidup sehat di rumah ini, tidak ada bahan-bahan buatan aditif, apalagi adiktif. Begitu juga ibu melarang keras ayah mengepulkan asap-asap dari mulut dan hidungnya. Tapi aku pernah lihat puntung rokok ada di lubang kloset, untung saja ku bersihkan dengan air bak, sebelum ibu yang memasuki wese.

Mengenai wese, sekarang sedang mampet. Mungkin saja karena banyak puntung rokok. Padahal aku mengalami tukak lambung, karena mie yang kumakan diam-diam tadi saat menunggu si ayam yang membuatku geram. Ditambah menu siang ini, ibu memasak mie garam. Sudah 50 puluh siukan, tetapi wese itu tetap mampet, malah si puntung-puntung rokok muncul ke permukaan. Sementara suara ibu begitu lantang terdengar, memaksaku untuk tidak berlama-lama di wese. Kata orang, wese itu tempatnya sarang setan. Sepertinya ayah yang kesetanan, berapa banyak puntung rokok yang dihabiskan, berapa banyak kebohongan ayah yang memfitnah kotak amal sebagai tempat beramalnya, demi alibinya menyulut rokok dan jongkok lama-lama di wese. Sialnya itu dilakukan saat ibu tertidur pulas sehabis menonton serial sinetron kesukaannya yang terkadang membuat mata dan hatinya lelah.

Ibu mengomel keras! Suaranya yang memekik membuat telingaku seketika tuli.

"Buka!! Jangan lama-lama di wese! Kamu lagi ngapain heh?"

Aku bimbang, aku benar-benar terisolasi di satu ruangan yang sempit dan bau ini. Dasar si ayah, mengapa aku menerima persekongkolannya hanya dengan sebatang rokok!!

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar
Rekomendasi dari Drama
Novel
Maafkan, Nayla Bu
Sriwahhh
Novel
Gold
Coupl(ov)e
Bentang Pustaka
Novel
My Real Espresso
Kandil Sukma Ayu
Novel
Bronze
DUKA IDUL FITRI
Safinatun naja
Novel
Bronze
Tanpa Nama
Paul Sim
Flash
TERISOLASI
zae_suk
Flash
Kepala batu
Seli Suliastuti
Novel
Relationswitch
Khnafia
Novel
Bronze
Gone
jingria_jk
Novel
Bronze
Dukung Penikung Cinta
Fizhi Vie
Cerpen
Bronze
Aku memilih yang baik, dan meninggalkan yang terbaik, aku memilih cinta dan meninggalkan yang setia.
Yanti suryanti
Cerpen
Bronze
Hujan & Sepatu Harapan
Dialogika Setiawan
Novel
Sembilan belas sembilan-sembilan
Suyanti
Novel
Lembar Kesekian Untuk Anda Baca
Dinda Rendrasetya
Novel
KALANDRA JOHSON DESMOND
Fabriana Hanif😍
Rekomendasi
Flash
TERISOLASI
zae_suk
Flash
CAMPERNIK
zae_suk
Skrip Film
KPK (KUCINTA PRIA KORUPTOR)
zae_suk
Flash
KAUSALITAS
zae_suk
Skrip Film
NAMA BELAKANGKU ISKANDAR
zae_suk
Skrip Film
Aku Wanita
zae_suk
Flash
Retaslah Benang Waktu Di antara Kita
zae_suk
Novel
SBMPTN
zae_suk
Flash
Signal
zae_suk
Novel
MANUSIA DALAM CINTA
zae_suk
Skrip Film
ADIK YANG NIKAH, AKU YANG GUNDAH
zae_suk
Novel
TIMUN EMAS, TERASI, DAN RAKSASA
zae_suk
Skrip Film
Seminggu Bersama Pembunuh
zae_suk
Skrip Film
Cinta Orang Lokal
zae_suk