Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Gugur
1
Suka
23,577
Dibaca

Kata-kata beraroma sendu sudah biasa terdengar, seraya percikan hujan mendominasi, didukung petir menggelegar.

Bertubi-tubi kamu mendapat pukulan melalui kalimat, tapi dengan keyakinan diri, kamu percaya apa yang terlontar dari bibirnya adalah kesedihan amat mendalam.

"Kamu anak haram!"

"Seharusnya kamu mati!"

Fisikmu sudah memar, batinmu ikut membiru, hampir membusuk jika tidak punya harapan barangkali setelah melihatmu secara sering luka-lukanya dapat berguguran.

Kamu tahu benar, bukan kamu yang haram, melainkan kedua orang tua yang melakukan hal bejat dan membuahkanmu. Bukan kamu yang mesti mati, melainkan pemikiran sang bunda terhadapmu.

Iya, ini kisah sederhana, tapi rumit. Kisah klasik, tapi senantiasa menjadi topik tiada henti. Menjamur, dan berakhir menjadi budaya. Sungguh, kamu tidak paham letak kesalahanmu. Apakah hanya sebab kamu terlahir?

Namun, di luar kendali, kamu menyayangi sang bunda. Jauh amat dalam melebihi rasa sakitmu, kamu memahami bagaimana bunda bersedih. Saat mengandung, bunda selalu membagi kesedihannya kepadamu, membagi luka serta cemooh orang. Kamu selalu ingin memeluknya, kemudian berjanji akan membawa sinar.

Lantas ketika kamu harus tidak bernapas di kedua tangan hangat itu, kamu tidak paham; mengapa setelah lahir ke dunia, bunda tidak pernah membagi deritanya lagi, dan justru melampiaskan semua lara kepadamu?

Mengapa, seseorang begitu mudah menyakiti orang lain di luar diri, hanya karena mereka terluka?

Memberi luka besar, padahal belum tentu lukanya akan sebesar itu jika mau berbagi dibanding menghakimi.

Tubuhmu masih begitu mungil, tapi kamu pernah punya angan-angan tinggi untuk memeluk dan bersinar di hadapan bunda sehingga kamu bisa menyaksikan senyumnya meski secuplik.

Kamu gugur, harapanmu turut gugur.

Demikian, hatimu juga layu lalu mati. Kamu tidak ingin memahami lagi bagaimana situasi berjalan, kamu sudah terlalu lelah hingga pasrah.

Kamu membiarkan udara memanas turun, membiarkan telingamu tuli, dan bibirmu rapat sampai bisu.

Jika bisa mendaur ulang waktu soal perjanjian dari Tuhan yang bahkan jauh sebelum kamu lahir, kamu tidak mau memilih bunda sepertinya. Kamu, tidak sudi jika hanya dianggap sebagai timbangan berat.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
HOW I AM
Ziierin25
Komik
Coconut
Nisrina Nur
Flash
Gugur
Ilestavan
Flash
Amarah
A. R. Tawira
Cerpen
Bronze
Bunga Apa yang Kau Masukkan ke Mulutmu?
Cicilia Oday
Cerpen
Nemo
Maruki
Cerpen
Bronze
Elara
P12
Novel
Lemonade
jesy-chan
Cerpen
Bronze
Dering Telepon Tua
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Aluna dan Sepatu Kiri
Mahalawan
Cerpen
Induk Anjing
E. N. Mahera
Cerpen
Bronze
Soul Impact
Adi Kurniawan
Cerpen
Bronze
SAAT SUSUK MERASUK SUKMA
Siti Nashuha
Cerpen
Ibu di Balik Jeruji
Tresnaning Diah
Novel
Bronze
Renjana (1998)
Riska Gustania
Rekomendasi
Flash
Gugur
Ilestavan
Flash
Sintas
Ilestavan
Cerpen
Halo, Selamat Tinggal!
Ilestavan
Cerpen
Pretensi
Ilestavan
Cerpen
Gandark
Ilestavan
Novel
Irama Bulan
Ilestavan
Flash
Buta Nikmat
Ilestavan
Flash
Kucing Pencuri
Ilestavan
Flash
Bertumbuh
Ilestavan
Flash
Tali Takdir
Ilestavan
Flash
Memang, Kamu Siapa?
Ilestavan
Flash
Bronze
Secangkir Kopi tak Bersuara
Ilestavan
Novel
VII Diebus
Ilestavan
Flash
Rasa Sakit
Ilestavan
Flash
Di Titik Nol
Ilestavan