Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Jiwa Kecil
6
Suka
22,137
Dibaca

Ada seseorang yang pantas untuk ku benci sebegitu banyaknya.

Dia seorang pecundang, pengecut, dan tidak punya nyali apa-apa. Seseorang mungkin bisa membodohinya kapan saja.

Mengingatnya saja membuatku tertawa. Dia akan gemetar hebat hanya karena mendapatkan perhatian. Dia tidak akan marah bahkan jika seseorang menginjak kepalanya.

"Harusnya kamu memarahinya, dia menginjakmu dengan sengaja." Kataku geram.

"Dia anak sebatang kara yang berjuang juga untuk hidupnya, bagaimana mungkin aku marah. Aku masih bisa memaafkannya, aku akan lebih hati-hati kedepannya agar tidak terinjak lagi." Jawabnya tenang.

Aku tahu ada tangis yang tertahan di pelupuk matanya, tapi kenapa dia sebegitu hebatnya menahan air mata itu hingga tidak tumpah ruah di pipi halusnya?

"DIA YANG SALAH! Kenapa kamu yang harus berhati-hati?!" Amarahku meledak seketika.

"Aku tidak punya hak."

"Apa maksudmu?"

"Aku seorang pendosa."

Aku menatapnya hati-hati. "Kita semua pendosa."

"Aku sering berbohong, kadang iri dan berpura-pura, bahkan aku pernah menyumpah-serapahi atau mengutuk orang lain. Sampai sekarang ada banyak janji yang belum kutepati. Aku ini benar-benar bajingan."

"Kamu?" Aku terhenyak mendengar semua pengakuannya.

"Aku bahkan tak tahu harus berada dimana."

"Bagaimana bisa kamu tidak menghargai dirimu sendiri?"

"Aku harus bagaimana?" Tanyanya dengan mata bergetar. "Semua tempat yang kutuju buntu. Aku tahu kalian semua juga punya masalah hidup sendiri, bagaimana mungkin aku menambahinya."

"Kenapa kamu bicara begitu?" Aku benar-benar tidak habis pikir.

"Aku sering berdoa agar menghilang, tapi dilain sisi aku tidak bisa menghilang begitu saja. Aku anak pertama, ada ibu yang menungguku pulang ke rumah. Tapi aku ini tidak bisa apa-apa."

"Bertahanlah."

"Aku sudah melakukannya."

"Jangan menghilang."

"Aku berusaha."

"Minta tolonglah, akan ada yang membantumu."

"Tidak bisa, aku sudah berhenti melakukannya. Mereka membuatku kecewa kesekian kalinya. Jangan membuatku berharap."

"Teruslah berharap, kamu sudah jatuh berkali-kali, berharap tidak membuatmu rugi."

"Tidak, berharap juga mematahkan hatiku berkali-kali."

Aku memeluknya canggung. Aku belum pernah memeluk seseorang lebih dulu. Hanya ini yang bisa kulakukan.

Kuusap pelan punggungnya yang kini bergetar. "Setidaknya harapan memberimu sedikit keinginan. Kumohon."

"Kamu kini memberiku harapan. Ini menyakitkan."

"Tidak apa-apa, aku akan menemanimu."

Tangisnya pecah, begitu pula rasa benciku padanya. Seharusnya aku memeluknya lebih cepat. Dia hanya jiwa kecil yang menunggu seseorang meraihnya.

"Maafkan aku karena terlambat memahamimu."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Apoge
Kinalsa
Novel
Sebuah Rasa yang Kusebut Rumah
fotta
Flash
Bronze
Sebuah Kisah yang Tertinggal
Nabil Bakri
Flash
Bronze
Dengarkan Kata Si Bisu
Erena Agapi
Flash
Jiwa Kecil
SIONE
Flash
Ibuku Ingin Menantu Bisu, Buta, dan Lumpuh
Mario Matutu
Flash
Bronze
Bahu dan Sandaran
White Blossom
Novel
Gold
KKPK Little Ballerina 3
Mizan Publishing
Novel
Momentum
Imajiner
Skrip Film
Kata-Kata Kunci Dari Ayah
Ega Pratama
Flash
Amnesia
Nunik Farida
Flash
Delana
Donny Setiawan
Skrip Film
Ijab-zah
Nadya
Flash
Pulkam
Rahmatul Husni
Novel
Bronze
Re-Married
Rahayu Ditira Jayanty
Rekomendasi
Flash
Jiwa Kecil
SIONE
Flash
Jam Lima
SIONE
Flash
Bronze
Pertama
SIONE
Flash
Bronze
Ulang Tahun
SIONE
Flash
Bronze
Dialog Kematian
SIONE
Flash
Ambil porsimu
SIONE
Flash
Marah
SIONE
Flash
Bronze
Frekuensi
SIONE
Cerpen
Bronze
Jejal Nestapa
SIONE
Flash
Bronze
Mendung dan Bayangan
SIONE
Flash
Bronze
Abe's Journey
SIONE
Cerpen
Bronze
Pengakuan
SIONE
Cerpen
Bronze
Kasur depan TV itu
SIONE
Flash
Bronze
Foto Keluarga
SIONE
Cerpen
Bronze
NURAGA
SIONE