Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Kisah Nyonya Nredom
3
Suka
25,150
Dibaca

KETIKA terbangun dari tidurnya yang risau pagi itu Ny. Nredom mengeluh padaku bahwa ia ingin sekali pada suatu hari yang lain dia terbangun dan dia saat itu tidak tahu sedang berada di mana dan tak tahu pada jam berapa hari apa bulan apa dan tahun berapa. 

"Kenapa begitu?" tanya saya. Saya bayangkan Ny. Nredom di seberang jalur telepon itu sedang duduk di tempat tidurnya yang mewah, lebar, empuk, dan menyimpan sejuk mesin pengatur suhu udara. Saya bayangkan dia masih dengan baju tidurnya yang nyaman, rambutnya yang sudah 10 persen putih tentu acak-acakan. Dia tak pernah puas dengan rambutnya itu.

"Saya hanya ingin lupa sebentar saja. Saya ingin lupa," katanya.

Ingat rupanya jadi beban Ny. Nredom. "Pergilah ke suatu tempat yang Anda tak tahu namanya. Tinggallah di sana tanpa menghitung berapa hari dan tak usah berencana kapan Anda kembali," kata saya. Ny. Nredom setuju. Dia minta aku mengatur kepergiannya itu. Saya bilang padanya ini semacam permainan melupakan. Jadi semuanya harus dimulai tanpa ia ketahui. 

Aturan permainannya begini: Ny. Nredom akan patuh sepenuhnya pada saya sebagai - sebutlah penguasa permainan. Saya akan membeli tiket ke kota yang dia tak perlu tahu. Dia akan menutup telinga selama di pesawat agar tak mendengar ketika awak pesawat menyebut nama kota tujuan atau sedapat mungkin dia akan berusaha tidur. Kami akan naik pesawat lagi dari kota itu. Lalu naik pesawat lagi. Kota tujuan berikutnya saya tentukan secara acak di bandara tempat kami singgah sementara.  

Ny. Nredom tak membawa bekal apa-apa. Kecuali paspor dan belasan kartu kredit. Di tiap bandara dia akan berganti pakaian yang bisa dibeli di bandara. Pakaian lama ditinggalkan di toilet bandara. Kami berusaha tak banyak bicara. Semua transaksi dilakukan lewat kartu kredit Ny. Nredom. Akhirnya di suatu tengah malam saya putuskan mengakhiri perjalanan melupakan itu. Dia menginap di sebuah hotel dan langsung tidur. Saya pulang tanpa setahu dia. Saya membawa serta paspor dan kartu kreditnya. Ini bagian dari permainan. 

Akhirnya? Mengakhiri? Justru permainan baru saja dimulai. 

SUDAH sebulan berlalu sejak saya tinggalkan Ny. Nredom. Tak ada kabar dari dia. Apakah dia sudah benar-benar lupa? Seminggu yang lalu petugas hotel tempat saya meninggalkan Ny. Nredom ada menelepon saya. Saya memang meminta pada pihak hotel supaya jangan bertanya apa-apa pada dia. Semua hal ihwal dia saya minta ditanyakan ke saya. Saya sudah membayar sewa kamar untuk sebulan. Pihak hotel bertanya apakah masa sewa diperpanjang. Saya langsung membayar biaya sewa untuk sebulan lagi.  

Sudah setahun berlalu. Saya kira Ny. Nredom sudah benar-benar berhasil lupa. Saya pun perlahan tak terlalu memikirkan dia lagi. Urusan Ny Nredom sejak enam bulan lalu sudah saya serahkan kepada Nn. Agnew, sekretaris pribadi Ny. Nredom. Nn. Agnewlah yang selama ini mengurusi bisnis Ny. Nredom, terutama bagian 50 saham pada perusahaan besar warisan suaminya. Ny. Nredom tidak punya anak dari suaminya itu. Dari Nn. Agnew saya tahu beberapa kali Ny. Nredom menggunakan kartu kreditnya untuk transaksi pembelian barang di beberapa toko, berobat di rumah sakit - dia memang mengidap sejumlah penyakit ringan - dan pengambilan uang tunai.

  DRUSBA membawa laptopnya ke toko tempatnya membeli dulu yang juga melayani layanan purnajual. Laptopnya sudah lama rusak. Sudah hampir tiga tahun. Rusaknya sebenarnya sepele saja. Cuma program pengoperasinya saja yang perlu diinstal ulang. Data-data di dalamnya masih tersimpan baik. Selama laptop itu rusak ia mengetik di komputernya.  

"Beres," kata teknisi di toko itu. "Semua data masih ada."

Di rumah, Drusba menghidupkan laptop itu dan menemukan arsip cerita Ny Nredom yang belum ia selesaikan. Belum selesai? Tunggu. Drusba melihat ada sebuah arsip bernama "kepadapengarang.txt". Drusba tak pernah merasa membuat arsip itu. Dan memang tak pernah. Dia klik saja:

  "PENGARANG YTH. SAYA NY. NREDOM. TERIMA KASIH SUDAH MEMBUAT CERITA SAYA. SAYA KIRA SAYA SUDAH BISA MELUPAKAN SEMUA APA YANG PERNAH SAYA INGAT. CUKUPLAH CERITA ITU. JANGAN DILANJUTKAN. SAYA SUDAH BERBAHAGIA KINI SEBAGAI SAYA YANG BARU. JANGAN DITERUSKAN CERITANYA. SAYA MOHON. TERIMA KASIH. NY. NREDOM."

Drusba menutup arsip aneh itu. Lalu dihapusnya. "Ah, tidak penting," katanya. Cerita pun menurut Drusba tidak menarik. Itu sebabnya dia tak pernah melanjutkan cerita itu.  | (c) Habel Rajavani, 2024.

  

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
The Pianist
Luluk Mujiati☑️
Flash
Kisah Nyonya Nredom
Habel Rajavani
Flash
Bronze
Gelas Kedua
Afri Meldam
Flash
Orang Gila
Alifia Sastia
Cerpen
Bronze
Kucing Tak Kunjung Bahagia
Gesha Yuliani Nattasya
Cerpen
Bronze
Buku Mimpi Mimi
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Mr. Melancholic dan Subscriber-nya
Lady Mia Hasneni
Novel
Luka yang Tak Pernah Sembuh
Eunike Hanny
Komik
Pallid Dream
Ranvionist
Flash
Bacot!
Atsuka D
Flash
Bronze
Perilaku Aneh Paman Go
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Kapan Nikah : Flash Fiction Spesial Lebaran
Silvarani
Novel
Gold
Orang-Orang Bloomington
Noura Publishing
Novel
Bronze
MAKKUNRAI
Aldi A.
Komik
Florilegium
Galdev
Rekomendasi
Flash
Kisah Nyonya Nredom
Habel Rajavani
Flash
Apa yang Terjadi Setelah Pemakaman Itu. . . .
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Bagaimaan Frida Menemukan Persembunyian Skaramus
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Tentang Seorang yang Ingin Melempar Tahi ke Wajah Koruptor
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Tentang Kawanku Bob Si Anak Pasar
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Apa yang Tersimpan di Dinding Mercusuar Itu
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Apakah Kampus Hanya Melahirkan Sarjana sebagai Sekrup Kapitalis?
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Cerita Tukang Sulap dan Ibu yang Mencari
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Perihal Premis dan Penulis Aidul
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Cerita Cinta yang Tak Pernah Ingin Kuakhiri
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Bagaimana Dini Menemukan Subagio Sastrowardoyo
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Misteri Kampung Mati dan Hantu Berang-berang
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Kejutan Nanit untuk Hilmi, Sebelum Menikahkan Yulia
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Malam Itu Laut Sedang Surut
Habel Rajavani
Cerpen
Bronze
Kenapa Mang Enjang Tak Suka Khutbah Bertema Politik
Habel Rajavani