Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Tidak Hanya Wanita
1
Suka
32,251
Dibaca

Gelap. Tapi ada panas yang samar di pelupuk mata. Setelahnya, matanya yang besar kemudian terbuka. Cahaya horizontal membentuk bayangan di wajahnya.

Pada seragam sekolah TK-nya yang acak-acakan, ada penunjuk nama Mila. Boneka beruangnya melekat dalam dekap. Telapak tangan Mila mendorong pintu. Kakinya ke luar lemari dan menjejak di lantai dengan ragu-ragu. Kegelapan seketika berganti dengan sinar seolah nyalanya tungku.

Pendengarannya menangkap teriakan dan sahut-sahutan yang riuh. Asalnya dari pemilik suara bariton dan sopran yang beradu angkuh.

“Kamu egois,” kata Suara Bariton.

Suara Sopran membalas, “Kamu... aku... lemah,” dengan terputus-putus.

“Kamu istriku, nurut dong sama aku.”

Isakan tangis berlangsung beberapa saat sebelum digantikan dengan suara bantingan. Mila terkesiap.

“Aaargh,” teriakan tertahan muncul dari Suara Bariton.

Bukan hanya bantingan, kali ini bunyi kaca pecah mengisi gendang telinga. Tidak hanya sekali, tapi berentetan. Mila memegang dada seakan-akan menghentikan degupan jantungnya yang semakin kencang.

“STOP!” Ini kali Suara Sopran yang layangkan perintah.

Suara tamparan berbuah kesunyian.

Mila berjingkat-jingkat ingin mendekati tempat kejadian perkara.

“SINI KAMU!”

Jeda semenit kemudian, “Aaargh,” teriak Suara Bariton.

Mila berhenti. Derap langkah bertalu-talu mendekati kamarnya. Mila kembali ke lemari. Tergesa-gesa menutup pintu agar ia tersembunyi dengan sempurna.

Mila menutup mulut dan menahan perut agar napas tidak berembus.

Pintu lemari terbuka. Suara Sopran muncul di hadapannya. “Cepat, Nak. Ikut Mama. Kita harus pergi! Sekarang juga.”

Tangan Mila tertarik dan kakinya terseret ketika Mama menggandeng lengannya, sampai-sampai boneka beruangnya terlepas. Keduanya silam dari pandangan.

Sunyi dan sepi menyelimuti.

***

Tidak sampai setengah jam kemudian, seorang laki-laki masuk ke dalam kamar dengan langkah yang tergopoh-gopoh.

“Milaaa,” panggilnya. “Nak! Mila sayaaang.”

Suara Bariton meneliti seluruh ruangan, termasuk pintu lemari yang terbuka lebar. Meskipun telah melihat lemari itu dipenuhi baju-baju semata, ia tetap memeriksanya.

Bahunya melorot menyadari orang yang ia cari tidak ada di sana. Ia memiringkan wajah dan pandangan matanya tertubruk pada sebuah benda. Boneka beruang milik Mila.

Ia mengambilnya dan terduduk lemas di pinggiran tempat tidur. Ia lalu menengadahkan kepala.

Tampaklah wajahnya yang penuh lebam dan goresan berdarah. Dahinya dibalut perban yang tidak dapat menyembunyikan bercak merah. Ia meringis karena gembung pipi yang tidak juga mereda.

Perlahan-lahan air mata mengaliri pipinya. Benaknya dipenuhi kebingungan yang melanda. Bagaimana jelaskan pada dunia bahwa ia bukanlah pelaku dan justru ia yang harus menyelamatkan Mila?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Negeri Fir'aun Dan Rujak Ibu
Rosikh Musabikha m
Flash
Mask
Wuri
Flash
Tidak Hanya Wanita
SURIYANA
Novel
Bronze
Love is a Battlefield - Teman Hidup
Wnath
Novel
Rintik dan Rincik di Istanbul
Eka Retnosari
Flash
Pieces of Hearts D: Wangsa
Adinda Amalia
Cerpen
Bronze
Eno Hamil (seperti) Wiwin Hamil
Habel Rajavani
Komik
Shift
Eru neru
Flash
Bronze
Kalau Nanti
Itata
Cerpen
Lahir dari luka, Tumbuh dari cinta
Weni Artika Untarie
Novel
Gold
Spotlight
Mizan Publishing
Novel
Rumah Bunda
Asbihany Fany
Novel
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Novel
Baby Si(s)tter
Annisa Diandari Putri
Novel
ROBIN
cynthia ocarina
Rekomendasi
Flash
Tidak Hanya Wanita
SURIYANA
Flash
Badut
SURIYANA
Flash
BAHASA
SURIYANA
Novel
Bronze
Pinjaman Berbunga Cinta
SURIYANA
Flash
Tumbal Tambal
SURIYANA
Cerpen
Obituarium
SURIYANA
Cerpen
Usia 12
SURIYANA
Cerpen
Nanti juga Bahagia
SURIYANA
Cerpen
Karmini Karmila
SURIYANA
Cerpen
Pashmina Perpisahan
SURIYANA
Flash
TERLALU BAIK
SURIYANA
Cerpen
Kembar Satu Jiwa
SURIYANA
Flash
Sang Pengasuh
SURIYANA
Flash
Tiga Menit untuk Selamanya
SURIYANA
Flash
Hidup tanpa Warna
SURIYANA