Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Horor
Jalan Setapak
1
Suka
9,883
Dibaca

Di minggu sore yang cerah, Dito memutuskan untuk mengambil jalan ke pedalaman hutan yang sebenarnya merupakan jalan paling dekat menuju rumahnya. Dito jarang sekali ke sana bukan karena jalan tersebut menakutkan seperti rumor-rumornya. Dia tidak terlalu memikirkan persoalan itu. Alasan dia tidak mengambil jalan itu karena Dito sudah terbiasa pulang pergi dari pekerjaannya atau lain-lain dengan berkendara. Dito harus melalui jalan setapak ini karena mobilnya sedang diperbaiki.

“Nyak.”

“Hayu, hayu.”

Dito mulai masuk setelah dia berpisah dengan teman sehobinya. Semakin dalam dia masuk cahaya matahari semakin redup karena pohon-pohon yang rapat juga tanda bahwa jam ke malam semakin dekat. Suasana sangat sepi hanya diisikan suara-suara jangkrik atau suara dari serangga kecil lainnya. Jalan ini sebenarnya cukup sering dilalui warga desa. Dito juga pada saat itu berpapasan dengan beberapa orang.

Ada semacam perasaan nostalgia karena mungkin sudah begitu lama tidak melewati jalan ini. Di pertengahan jalan ketika dia kembali mengingat masa lalu Dito dihentikan oleh percabangan jalan. “Dulu enggak ada kanan kiri deh, lurus-lurus aja.” Jalannya tidak lurus tetapi memang hanya satu jalan. “Ujungnya kemana ya yang kanan?” Begitu kata hatinya berbicara. Karena waktu semakin maju ke malam, Dito bergegas saja mengikuti yang dia ingat.

Matahari tenggelam lebih cepat dari yang Dito duga. “Terlalu banyak mikir gak kerasa udah malem aja,” kata Dito menghilangkan rasa kesepiannya. “Sayang sekali padahal di depan bisa lihat pemandangan desa.”

Hutan ini adalah kaki gunung. Daratannya sedikit lebih tinggi. Jalan setapaknya membentuk huruf S. Tidak lama dari posisi Dito terdapat area terbuka tepat menghadap ke desa dan perkotaan. Namun, ketika sampai di sana dia sangat-sangat terkejut dan rasa senangnya berubah waswas. Suara-suara serangga yang tadinya masih ramai tiba-tiba senyap menciptakan suasana yang benar-benar tanpa suara. Saat dia memandang ke arah desa instingnya berteriak, “LARI.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Horor
Cerpen
Tumbal Balik
Eve Shi
Flash
Jalan Setapak
Bima Kagumi
Novel
Gold
Fantasteen 22 Boards
Mizan Publishing
Novel
Gold
The Motion of Puppets
Mizan Publishing
Flash
Tatapan dari Jendela
Jasma Ryadi
Cerpen
Bronze
BAYANGAN DI WAKTU MAGRIB
Lestari Zulkarnain
Cerpen
Bronze
Rumah Tua
Christian Shonda Benyamin
Novel
Rajah Hitam
Fasihi Ad Zemrat
Novel
Dendam Dibayar Dengan Kematian
Theresia Erni
Novel
Gold
Fantasteen Wooley Dolley
Mizan Publishing
Novel
TAKKUT
zainab najmia
Flash
Bronze
Penulis Cerita Horor
bomo wicaksono
Novel
Erigeron k.
Fadhila Meisya Putri
Cerpen
Senyum Palsu Di balik Topeng
Jonathan Wijaya
Cerpen
MISTERI PETI KACA
Eddy Cahyo Tutuko
Rekomendasi
Flash
Jalan Setapak
Bima Kagumi
Flash
Pagi yang Damai
Bima Kagumi
Cerpen
Debu Pembangunan
Bima Kagumi
Novel
The Other Sides: Next World
Bima Kagumi
Flash
Terbaik Selamanya
Bima Kagumi
Novel
Proyek Superkuasa Part 2
Bima Kagumi
Cerpen
09 Halaman Kosong
Bima Kagumi
Cerpen
05 Path to Happiness
Bima Kagumi
Cerpen
07 Raesha
Bima Kagumi
Novel
Proyek Superkuasa
Bima Kagumi
Cerpen
01 Pemuja
Bima Kagumi
Cerpen
Bronze
04 Dia Tabib
Bima Kagumi
Cerpen
03 Rumah di Keabadian
Bima Kagumi
Cerpen
08 Air Suci
Bima Kagumi
Cerpen
Bronze
06 Sang Pengamat
Bima Kagumi