Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Aku benci keramaian, tapi aku juga tidak ingin kesepian. Orang-orang menyebutku ambivert—karena sikapku yang berubah-ubah. Kadang aku ramah, kadang pemarah, emosional, lalu tiba-tiba bisa sedih tanpa alasan. Semua tergantung pada mood.
Kisah ini dimulai dariku, seorang gadis berumur 19 tahun dengan karakter yang sulit ditebak. Apakah aku memang terlahir seperti ini? Tidak.
Aku tumbuh di sebuah kampung kecil yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Sehari-hari aku membantu ibu berkebun dan berladang. Dari enam bersaudara, aku yang paling berbeda. Orang-orang di sekitarku sering bingung dengan sikapku—bahkan keluargaku sendiri tak selalu mengerti. Kadang aku ramah, tapi sejam kemudian bisa berubah dingin. Sahabatku bilang aku manusia yang sulit ditebak. Aku hanya tersenyum dan tidak menggubris.
Aku tahu, ada yang aneh dalam diriku. Mood-ku bisa berubah beberapa kali dalam satu jam.
Suatu masa, aku merantau jauh dari kampung. Hidup di tempat asing, dikelilingi orang-orang baru. Setelah tamat SMA, aku tidak melanjutkan kuliah. Aku bersyukur, tapi tidak munafik—aku juga ingin menggapai pendidikan yang lebih tinggi. Di perantauan, aku jarang bergaul. Hanya beberapa orang yang benar-benar aku kenal. Mereka menganggapku gadis ceria dan asik, padahal di balik senyum itu ada beban besar yang kupikul sendiri.
Aku jarang bercerita tentang masalahku. Sejak SMA, aku tidak punya banyak sahabat perempuan—hanya satu atau dua. Aku lebih nyaman berteman dengan laki-laki. Karena itu, banyak cibiran datang.
“Untuk apa kau bergabung dengan laki-laki? Dasar centil.”
Padahal aku bukan mencari perhatian. Aku hanya ingin berada di tempat yang membuatku nyaman. Bukankah memaksakan diri di lingkungan yang tidak nyaman sama saja membuang waktu?
Aku lebih suka berbicara dengan teman laki-laki karena logika mereka berbeda. Mereka mendengar tanpa menghakimi. Sedangkan perempuan sering menasihati panjang lebar, dan aku tidak suka itu. Aku hanya ingin didengar, bukan diceramahi.
Namun, sikap ramahku sering disalahartikan. Banyak yang menilai aku murahan. Mereka tidak tahu, di balik keramahan itu aku sebenarnya pendiam—sering dijauhi oleh tetangga di kampung. Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya mereka membenciku.
Aku masih ingat saat kecil, ketika aku duduk di kelas 3 SD. Seorang teman laki-laki menaburi wajahku dengan segenggam tanah merah. Aku punya gangguan pernapasan, dan debu membuatku hampir tak bisa bernapas. Hidungku berdarah, tapi aku tetap berkata pada ibuku, “Aku hanya jatuh, Umi.”
Padahal aku tahu, aku disakiti. Tak lama kemudian asmaku kambuh. Ibuku menangis melihat jarum infus di tanganku dan selang oksigen di hidungku. Sejak saat itu, aku mulai membenci orang-orang kampung yang membuat ibuku menangis.
Sejak itu pula aku berubah. Aku menjadi pendiam, hidup dalam kesunyian. Saat anak-anak lain bermain di luar, aku hanya bisa melihat dari balik jendela. Tubuhku lemah, tapi hatiku perlahan menguat.
Kini, di usia 19 tahun, aku masih bersahabat dengan gangguan pernapasan. Aku mulai belajar menjaga kesehatan dan membuka diri. Aku sadar, aku adalah seorang ambivert—wanita dengan dua sisi: pendiam dan ceria.
Di lingkungan yang akrab, aku kembali menjadi introvert. Tapi di tempat baru, aku bisa berubah menjadi ekstrovert. Aku tidak bisa menetap di satu sisi.
Itulah aku. Aku tidak bisa ditebak. Aku tidak bisa dijelaskan dengan satu kata. Aku hanya ingin dimengerti, bukan dihakimi.