Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
My Special Aromatherapy
1
Suka
22,030
Dibaca

"Semua lampu sudah dimatikan? Pintu dan jendela dikunci 'kan?"

"Iya. Aku mengantuk, tapi tidak bisa tidur."

"Apa yang kamu pikirkan?" Hilda menoleh, menampakkan sebentar wajahnya yang masih ditutupi masker kupas. Dia sedang ingin membersihkan itu saat ini.

"Tidak ada."

"Biasa kamu mau cerita. Entah itu masalah pekerjaan di kantor atau sama pimpinan, rekan kerja?"

"Hubunganku dengan mereka selalu baik. Kamu lupa kalau aku ini dinobatkan sebagai karyawan teladan setiap bulannya dan dalam setahun berturut-turut? Yang sering kita bicarakan juga tidak jauh-jauh tentang keberhasilan timku atau pencapaian tinggi yang kami peroleh di divisi pemasaran."

"Mungkin ada serigala berbulu domba di antara mereka, atau teman yang suka menusuk dari belakang."

"Hah?!" Mendadak raut Nino menjadi aneh gara-gara penggalan kata yang diucapkan istrinya di ujung, samar-samar dia bergidik, "Berbahaya sekali ucapan kamu."

"Memang benar 'kan? Ini aku ingatkan ya, hati-hati dan tetap awas kepada siapapun. Rambut sama hitam, hati siapa yang tahu?"

"Rambut aku pirang, sayang. Sejak kapan hitamnya?"

"Pokoknya begitulah, pasti kamu mengerti maksud aku." Akhirnya Hilda tuntas dengan produk-produk perawatan kulitnya. Dia beranjak untuk kemudian ikut naik ke atas ranjang.

Jangka Hilda berbaring di dalam selimut mereka, Nino refleks memiringkan badannya. "Sini, lebih dekat lagi," kata pria ini seraya membentangkan sebelah otot lengannya.

"Aroma terapinya kok tidak tercium, ya sayang?" Berkerut-kerut hidung Hilda selagi dia membaui harum bergamot yang biasa menemani tidur malam mereka.

"Lupa? Stok aroma terapi kita sudah habis. Besok ingatkan aku untuk memesannya ke Inge. Kamu mau aroma apa?"

"Apa saja sih boleh, tidak masalah buat aku. Kemarin juga Inge mengirim varian beragam. Dia kirim bergamot lebih banyak, karena dia tahu kamu paling suka yang itu."

"Ya sudah, kali ini kamu yang pilih. Lavender, vanila, mawar atau mau aroma buah?"

Bukannya menjawab pertanyaan Nino, Hilda justru merapat dengan kelopak mata terpejam. Dia menyamankan kepala di lengan suaminya, "Aku punya favoritku sendiri," kata dia, menampakkan pula senyuman tipis dari bibir pualamnya.

"Apa?!"

"Wanginya kamu itu yang paling menenangkan buat aku, cuma aku yang bisa menciumnya sedekat ini." Senyum Hilda merekah cantik saat mengutarakannya, meski mata tetap menutup.

Sementara, Nino tidak dapat menahan dorongan akal untuk mengecup pelipisnya berulang-ulang. "Kamu wanitaku yang paling berharga. Segalanya, sayang."

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
My Special Aromatherapy
Ceena
Skrip Film
Dia Datang,., [Script]
Dinda Puspitasari
Flash
Senyum Sabit
Dhea FB
Cerpen
Bronze
Sri : Elegi Cinta Sang Penari Serimpi
Hadis Mevlana
Novel
Perjanjianmu Tahun Ini
Karine A.
Flash
Bronze
Jika Rasa Gak Pernah Bohong...
Shabrina Farha Nisa
Flash
Rasi Bintang
Selvi Diana Paramitha
Flash
Bronze
I Found You First
Farah Maulida
Novel
Bronze
Satu dan Terakhir, Kisah Cinta Bersama Sang CEO
silvi budiyanti
Flash
Pamanku Pendiam
Dirman Rohani
Novel
Bronze
Sesuatu Tentang Kita
Shayma karan
Novel
Marrilied
Savage Page
Novel
Moreau's Secret
Lefayesme
Flash
Bronze
Fake Account
Vebrian D. Langkai
Cerpen
Bronze
BELENGGU DIRI
Gie_aja
Rekomendasi
Flash
My Special Aromatherapy
Ceena
Cerpen
Bronze
PAPA
Ceena
Flash
Bronze
Beautiful Widow 'Sake' Seller
Ceena
Novel
The Secret of the Young Master
Ceena