Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Secangkir Kopi tak Bersuara
2
Suka
34,982
Dibaca

"Tuliskan alur cerita yang bagus untukku, mari kita bertukar tempat. Biarkan aku menjadi tokoh di cerita yang kamu tulis."

Memandangku skeptis, dia, perempuan itu membuang muka sesudahnya.

"Tolong aku, aku mohon ...."

"Kamu memohon seolah-olah akan mati besok." Tanggapannya di luar jangkauan, maka aku menangis lagi. Aku tahu bahwa akan ada satu persepsi tambahan darinya tentangku; cengeng.

"Apakah dunia nyata begitu menyakitimu?"

"Sangat. Dia menekanku setiap hari. Ayolah, kita tukar tempat. Aku ingin sepertimu yang bisa tegas, mengatakan enggak atau mampu melabrak orang kalau kamu nggak suka. Aku ingin."

"Berhentilah menjadi bodoh." Dia yang sebelumnya tak acuh, kembali memberi atensi dengan memandangku lagi. "Aku nggak yakin apakah aku akan kuat sepertimu. Kalau aku jadi kamu, mungkin aku udah nggak ada, nggak akan terdengar keluhan, tinggal nama."

Mata yang sudah banyak air tidak terlalu jelas melihat wajahnya, mendengar kata-kata yang keluar dari dia sungguh menyinggung ego.

"Kamu juga, nggak akan mampu menjadi aku di dunia fiksi. Jangan kira hidup dalam sekotak dunia palsu itu mudah, aku harus selalu menjalankan kehidupan sesuai apa yang pengarangnya mau. Memang kamu sudi hidupmu diatur-atur dari hal terkecil sampai kesukaanmu? Kamu bahkan nggak bisa mengubah tingkahmu kalau si pengarang nggak menuliskan perubahan. Tapi di dunia nyata? Kamu bisa mengubah apa pun yang kamu mau."

"Tapi kita nggak bisa mengubah masa lalu."

"Itu lain cerita, Bodoh." Menekan satu kata terakhir, alih-alih sakit hati, aku merasa memang pantas mendapat kata kasar. Terkadang, kekasaran dari seseorang bisa membuat kita sadar akan suatu hal.

"Di duniaku juga masa lalu nggak bisa diubah, tapi seenggaknya di duniamu, kamu berhak untuk menjadi lebih baik. Kamu bisa mencegah hal-hal busuk merebut pikiran cemerlang, intinya kamu bisa mengendalikan dirimu sendiri. Aku? Nggak bisa."

Demi Tuhan, aku ingin memeras air mata sampai habis. Jelas-jelas aku tahu bahwa sesuatu yang baik pasti datang kendati hal buruk begitu membabi buta menyerangku hingga memar. Aku hanya lelah bersabar.

"Kamu bisa tegas kalau mau, kamu bisa memaki orang kalau mau. Jadi nggak perlu menjadi aku, kamu hanya perlu menjadi dirimu sendiri. Dimulai dari kamu. Itu saja. Sederhana, 'kan? Nggak ada yang sepertimu, nggak akan ada yang sanggup menjadi kamu, percaya deh."

Percakapan kami terhenti di sana. Iya, terhenti, bukan berhenti, karena aku baru mengingat secangkir kopi di atas meja depan mata.

Dia amat setia menunggu tanpa suara. Menungguku kembali pada dunia nyata. Segera, aku menyeruputnya pelan-pelan, menikmati sensasi pahit serta manis, tidak lupa asam menyusul.

Ah, bukankah hidup juga selayaknya rasa kopi?

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Secangkir Kopi tak Bersuara
Ilestavan
Cerpen
Bronze
Tentang Seorang yang Ingin Melempar Tahi ke Wajah Koruptor
Habel Rajavani
Novel
PESAN KISAHKU
Fitri Nurhasna Fauziah
Novel
Bronze
Kutitipkan Wajahmu Pada Bulan (Edisi Cerbung)
Imajinasiku
Novel
Ipah
Tika Sofyan
Cerpen
Bronze
Kebangkitan
Ahmad Muhaimin
Novel
Bronze
Mellifluos - The Melody of Heart
Nia Dwi Noviyanti
Cerpen
Selepas Ayah Berpulang
Rizki Mubarok
Novel
Sulung
Ayeshalole
Flash
Bronze
Sebuah Kisah yang Tertinggal
Nabil Bakri
Cerpen
Mendahului Matahari
Sifah Nur
Novel
GALUH
Muala
Skrip Film
Before Tomorrow (SCRIPT)
Noor Cholis Hakim
Flash
Bronze
Menimang Senja
Arianto Pambudi
Novel
Bronze
Charming Twins
wardhanisofi
Rekomendasi
Flash
Secangkir Kopi tak Bersuara
Ilestavan
Cerpen
Bronze
Halo, Selamat Tinggal!
Ilestavan
Flash
Rasa Sakit
Ilestavan
Flash
Pena Tuhan
Ilestavan
Flash
Tali Takdir
Ilestavan
Novel
Irama Bulan
Ilestavan
Flash
Jangan Percaya Narasi Ini
Ilestavan
Flash
Gugur
Ilestavan
Flash
Delusi Cinta
Ilestavan
Flash
Di Titik Nol
Ilestavan
Flash
Eskapisme
Ilestavan
Flash
Sintas
Ilestavan
Novel
VII Diebus
Ilestavan
Cerpen
Bronze
Gandark
Ilestavan
Flash
Buta Nikmat
Ilestavan