Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Awan
4
Suka
15,861
Dibaca

Rintik hujan masih turun ketika kami memutuskan untuk berjalan kaki ke gerbang kampus. Di bawah payung merah, kami berdua berjalan membelah rinai hujan. Langit masih kelabu, dan tak ada tanda-tanda hujan akan reda dalam waktu dekat.

Bulir-bulir hujan yang turun seolah-olah sedang berlomba menyentuh tanah. Ketika mereka menyatu dengan tanah, aroma petrikor menguar di udara. Gemericik air, daun yang bergoyang, dan desau angin pun ikut melengkapi suasana sendu. Hujan selalu membawa perasaan khusus di sela-sela rintiknya. Begitu juga denganku saat ini, perasaanku bercampur aduk karena rasa-rasa yang ditimbulkan oleh hujan dan laki-laki ini.

Semalam, dia bertanya, "Gimana kabar Bandung?"

"Bandung baik-baik aja."

"Aku kangen Bandung. Aku kangen kampus," ungkapnya.

"..."

"Bagaimana kalau besok aku ke Bandung? Mau temani aku?"

Begitulah ceritanya, hingga kini kami berjalan bersama.

Aku melempar pandangan canggung pada lelaki di sebelahku. Kami begitu dekat sehingga aku bisa merasakan bahunya yang menggigil ketika angin berhembus. Sebelah bahunya sedikit basah karena tetesan hujan yang melolos dari payung. Aku sudah menyerah untuk menggeser posisi, tahu dia akan kembali menggeser payungnya meskipun bahunya basah.

Aku hanya bisa diam, menatap bulir-bulir air yang melompat dan menari-nari di antara langkah kaki kami. Mereka seolah-olah menertawakan kecanggunganku.

"Bukankah hujan itu romantis?" pertanyaannya membuyarkan lamunanku.

"Hmm, biasa aja sih."

"Ohh. Kamu suka hujan atau panas?"

"Hmm, hujan mungkin?"

"Kok mungkin?"

"Kalau dibandingkan panas, aku lebih memilih hujan. Karena aku suka sejuk dan gak suka gerah."

"Baiklah."

Ada jeda sejenak sebelum muncul pertanyaan yang membuatku penasaran, "Ngomong-ngomong, kenapa kamu diberi nama Awan?"

"Kata ibuku, agar aku memberikan kesejukan di tengah panasnya sinar matahari," katanya di sela-sela suara hujan.

"Hahaha, boleh juga."

"Dan membawa romantisme hujan." Ada hening sejenak sebelum akhirnya ia melanjutkan, "Seperti sekarang ini."

Pandangannya kini tertuju padaku, seolah dengan sengaja membuat denyut jantungku melompat, lalu gaduh. Kurasa, laki-laki ini buruk untuk kesehatan jantungku.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Romantis
Flash
Awan
Cheri Nanas
Novel
GERA
disasalma
Novel
Butterfly
Franciska Ardana
Novel
Bronze
Alfa Beta
Rizky Ade Putra
Flash
Namamu, Namaku
Vica Lietha
Cerpen
Menatap dan Menetap
Marino Gustomo
Novel
What's Done can't be Undone
siucchi
Novel
Bahagialah Cigugurku
A. Sholeh
Flash
Just a Moment With You
Nimas K. Manggalih
Cerpen
Bronze
Jejak Yang Tak Terhapuskan
lidia afrianti
Cerpen
Sandiwara Reuni
Dear An
Novel
M I R A G E
Noficha Priyamsari
Skrip Film
Waktu kenangan
FAIQ NABILAH APRILIA
Skrip Film
Pacar Masa Lalu
Sathya Vahini
Novel
PERFECT MATE
Anisa Muna
Rekomendasi
Flash
Awan
Cheri Nanas
Flash
Ruang Tersembunyi dalam Hati
Cheri Nanas
Flash
Runway Lights
Cheri Nanas
Cerpen
Sup Ikan Gurame
Cheri Nanas
Flash
Tangent
Cheri Nanas
Flash
Arti Hujan
Cheri Nanas
Flash
Potret
Cheri Nanas
Flash
Percakapan di Atas Gedung
Cheri Nanas
Cerpen
Ruang Tersembunyi dalam Hati
Cheri Nanas
Flash
Hujan Pertama
Cheri Nanas
Flash
Jantungku Berdebar
Cheri Nanas
Flash
Anonim di Argo Parahyangan
Cheri Nanas
Flash
Ketika Gerimis Bermula
Cheri Nanas
Flash
Rahasia Kucing
Cheri Nanas