Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Mengutuk Tuhan Palsu
7
Suka
12,034
Dibaca

Siri dan penyelam lainnya sedang melakukan ekspedisi untuk mengarungi dasar Laut Tasman yang terletak di bagian barat daya Samudra Pasifik. Saat dalam pengarungan, tak sengaja ia terpisah dengan timnya. Ia pun linglung. Baru kali ini, ia merasa sendirian dalam Laut Tasman. Berkali-kali, ia berusaha naik ke permukaan, tetapi selalu gagal. Seperti ada sebuah tangan yang menggenggam erat pergelangan kakinya. Di tengah keputusasaannya ia melihat sebuah cahaya. Ia mengikuti cahaya misterius yang bergerak lebih dalam ke dasar laut itu, berharap setidaknya menemukan sebuah petunjuk.

Namun cahaya itu malah mengantarkannya ke sebuah tempat misterius yang dipenuhi puluhan patung. Siri dibuat takjub melihatnya. Di antara semua patung, matanya tertuju pada satu patung. Patung itu terlihat seperti wanita dengan tekstur penuh keriput. Sosoknya yang kaku tertancap pada sebuah batu yang serupa tiang kayu. Ia menghampiri patung itu. Sebuah perasaan aneh muncul sehingga ia tak dapat lagi menahan penasaran. Tangannya perlahan bergerak menyentuh patung itu.

****

“Bunuh saja cenayang tua itu!”

“Bakar saja, dia dukun tua tak berguna!”

“Penyihir kolot gila! Tua bangka penghianat!”

“Ia hanya mempermalukan Suku Māori!

“Tunggu apalagi, bakar saja!”

“Dia ingin menghancurkan Marakiha, sang penyelamat kita, tuhan baru kita. Bakar dia!”

“Bakar! Bakar! Bakar!”

Suara mereka terlontar bergantian, menusuk telinga Akenahi. Ia hanya bisa pasrah. Dengan tubuhnya yang terpasung di sebuah tiang kayu, ia tak bisa apa-apa lagi. Tetapi mata Akenahi tak terlihat mati. Masih ada setitik harapan di mata Akenahi, harapan untuk terus hidup. Orang-orang di sukunya memutuskan mengeksekusi mati Akenahi.

Setelah dilempari batu bertubi-tubi, tubuhnya ditutupi tumpukan kayu. Dinyalakannya api di ujung kayu, yang perlahan akan melahap seluruh tubuh Akenahi. Di ujung kematiannya, Akenahi mendengar suara yang tak asing. Suara yang basah, berat namun terasa hangat dan lembut.   

Ma te whakahua i tou ingoa, e te Atua kotahi, whakaorangia toku wairua i te kino. Āmine[1],” suara itu berbisik, Akenahi ikut merapalkannya lalu tersenyum. 

Seketika langit yang terik menjadi gelap, butiran air menghujam deras. Badai datang secara tiba-tiba. Badai menerpa, dan apa yang diterpanya seketika berubah menjadi batu. Pada detik-detik terakhir sebelum wajah Akenahi ditampar badai, ia memejamkan matanya dan tertawa.

****

Setelah menyentuh patung itu, mata Siri segera bergerak mencari sesuatu. Tangannya meraih batu sebesar kepalan tangan. Ia kemudian bergerak menuju patung lain yang berdiri di atas sebuah altar. Altar itu terlihat seperti pusat persembahan, terdapat banyak sesajen yang membatu di sekitarnya. Ia mengambil ancang-ancang, lalu menghantamkan batu yang digenggamnya ke patung itu sambil menjerit dalam hati.

”Dasar patung terkutuk! Tuhan palsu! Iblis terkutuk! Laknat kau menjadi batu!”

 

 

 

[1] Bahasa Māori, dalam Bahasa Indonesia memiliki arti “Memanggil namamu, Tuhan yang satu, selamatkan jiwaku dari kejahatan. Amin.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Mengutuk Tuhan Palsu
Arba Sono
Flash
Sekolah yang Pulang Lebih Dulu
Aulia umi halafah
Flash
Bronze
Garis Putih di Langit
Mxxn
Flash
Fly Away
Ryan
Flash
Bronze
Dunia Yang Berbeda
Rere Valencia
Flash
Percakapan di Kereta Hantu Manggarai
Galih Citra
Flash
Getaran Itu
arke milieu
Flash
Arya Vati
Silvia
Flash
RUN!
Alviona Himayatunisa
Flash
Bidadari Pembohong
Alwinn
Flash
Lukisan Bedhaya Ketawang (I)
Rifatia
Flash
Bronze
Ada Apa dengan Rasa
Farida Zulkaidah Pane
Novel
Bronze
ISSUES
Athar Farha
Novel
Curtain of Fate
Vsiliya Rahma
Novel
Gold
Digital Fortress
Mizan Publishing
Rekomendasi
Flash
Mengutuk Tuhan Palsu
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Baaa-baba-baaa-bababa-baaaanguuun!
Arba Sono
Flash
Tiga Botol yang Tersesat
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ada Maling dalam Tubuhku
Arba Sono
Flash
Wizard Monk
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Percakapan Orang Mati
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ketika Seluruh Orang di Dunia Menjadi Gundul
Arba Sono
Flash
Ritual Gelap
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Kognisi
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Misteri Celana Dalam Olda Veyotta
Arba Sono
Cerpen
Bronze
Ingin Mati saat Rekreasi
Arba Sono