Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku Mencintaimu, Seperti Kau Mencintai Istriku
65
Suka
27,916
Dibaca

"Berhenti di situ!" Teriak istri saat sang suami mengejarnya di taman halaman rumah empat hektar miliknya.

DUAAAR!!! Menggelegar suara gemuruh menembus angkasa. Air hujan seketika turun mengeroyok tanpa ampun seraya sedih pada kejadian yang menimpa sepasang penghuni bumi itu.

Lama terdiam di antara mereka, isi hati sang istri hanyalah berharap suami kembali mengejarnya dengan seonggok kata-kata maaf.

Suasan terlalu hening lantas membuat hujan busuk hati tak tinggal diam, ia mengajak angin lalu menambah kapasitasnya membasahi bumi wilayah itu.

"Aku sudah tahu semuanya, suamiku. Aku sudah menduganya!" Ucap istri dengan pose masih membelakangi suaminya yang seketika mematung dengan rambut lepek bak ayam jago kebasahan. Suami hanya pasrah memperhatikan punggung istrinya yang kuyup ditelan hujan.

"Belakangan kamu pulang kerja selalu telat dan larut sampai di rumah. Aku coba sabar. Suatu ketika di senja nan elok, aku telepon kantor kamu untuk investigasi kebenaran praduga tak bersalah ini. Tapi kenyataan yang aku temukan di lapangan, kamu selalu pulang tepat waktu dengan Pak Joko. Kamu ke mana suamiku?!"

Sekonyong-konyongnya istri membalikkan badan dengan keras membuat air hujan yang tertahan di rambut dan pakainya menampar wajah dan badan sang suami dengan tegas.

"Istriku, kau salah paham!" Rengek suami dengan derai air mata yang tersamarkan air hujan. Entah benar ia sedang menangis atau cuma sandiwara. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

"Diam kau!" Dengan cepat telunjuk istri mendarat bebas di ujung bibir sang suami yang tipis rona merah merekah menyuruhnya diam.

"Aku sibuk ngurusin rumah delapan lantai kita! Sementara kamu sibuk di luar entah ngapain! Aku capek suamiku! Aku capek tiap hari ketika masak nasi dari dapur berjalan ke ruang makan selalu nasinya jadi basi! aku capek tiap bangun pagi jalan dari kamar ke teras hari sudah senja, aku capek berada di sangkar emas! Aku lelah selalu berkata innuendo sementara sikapmu selalu litotes-in aku!" Teriak istri tak memberi ruang untuk suami membela diri.

DUAAAR!!! Petir menyambar sekali lagi, kitlatnya menjelma bak paparazi yang sibuk memotret-motret pertikaian itu. Air hujan dan angin sorak-sorai semakin lebat seraya antusias tak mau ketinggalan setiap adegan finale battle itu.

Sang suami dengan gagah berpakaian basah nyeplak dada bidang tampak perkasa berlari dengan slow motion mengejar sang istri. Air hujan pun khusyuk mendramatisir keadaan ikut serta memperlambat gerakan jatuhnya. Cahaya kilat 15juta volt kembali menyambar hebat tak tentu ujungnya seolah mengoyak atmosfer menerangi tiap angle taman halaman rumah empat hektar itu.

Tak mau kalah, sang istri yang mengetahui suami ingin mendekatinya membalikkan badan dengan cepat. Namun ia sadar bahwa itu adalah satu frame yang sama dengan suaminya membuat geraknya pun ikut slow motion.

HAAAP! Sebuah pelukan mendapat di punggung sang istri, "Istriku. Maafkan aku, apapun yang kamu ucap dan kamu asumsikan itu semua sungguhlah tidak benar adanya," ucap suami yang berhasil meraih dan memeluk badan istrinya dari belakang.

"Selamat ulangtahun, kami ucapkan.

Selamat panjang umur, kita kan doakan.

Selamat sejahtera, sehat sentosa.

Selamat panjang umur, dan bahagia."

Terdengar suara bass lelaki tua dari belakang mereka, "Selamat ulangtahun, sayang."

Istri membalikkan badannya; masih dalam pelukan suaminya; mencari sumber suara yang tertutup badan tegap sang suami.

"Ayah!" Kata istri melihat ayahnya muncul dari belakang suaminya dengan payung Hello Kitty.

Telapak tangan suami kini berada di wajah sang istri memintanya memperhatikan kata-katanya, "Aku mencintaimu," ucap sang suami pada istrinya yang kini berhadapan dengannya.

"Seperti kau mencintai istriku," lanjut sang suami, setelah melihat mertuanya ada di samping mereka.

"Suamimu telat pulang kerja beberapa hari ini karena mempersiapkan surprise buat kamu, nak," timpal sang ayah menenangkan hati anak perempuannya.

***

Ggggrrrrrr!!! Tanah bergetar. Gempa magnitudo 9,7 menimpa daerah mereka. Tsunami menelan keluarga itu hingga habis tanpa sisa.

_______

*Innuendo adalah majas yang menurunkan kebenaran fakta yang ada.

**Litotes adalah majas yang mengungkapkan suatu perkataan dengan rendah hati dan lemah lembut.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (16)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Aku Mencintaimu, Seperti Kau Mencintai Istriku
Ari S. Effendy
Flash
KAMU ITU CANTIK CLARISA
Hans Wysiwyg
Cerpen
Manusia Berjantung Pisang
Rizky Anna
Cerpen
Until Someday
Dian N Khan
Cerpen
Hujan yang Tak Pernah Turun di Hari Selasa
Fredhi Lavelle
Novel
Negeri Fir'aun Dan Rujak Ibu
Rosikh Musabikha m
Novel
Gold
Mellow Yellow Drama
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
CHRISTABEL QUEENZA
Basmalahku
Novel
Bronze
Wedding in Pandemic
Tinta Teje
Novel
Bronze
Lost in Your Heart
Septa Putri
Novel
Wood, Fire, and Rain
naomi leon
Novel
One Fine Day (Become Mama)
Arinaa
Novel
Bronze
Suratan Takdir
Rita wedia
Komik
Bronze
Love to You
LUDY
Cerpen
Di Balik Sebuah Fitnah
Hendra Wiguna
Rekomendasi
Flash
Aku Mencintaimu, Seperti Kau Mencintai Istriku
Ari S. Effendy
Flash
Bronze
TERSESAT DI GANG YANG BENAR
Ari S. Effendy
Flash
Ada Anak Bertanya Pada Ibunya
Ari S. Effendy
Flash
Bronze
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Oleh-oleh
Ari S. Effendy
Flash
Punggung Kecil dan Nasi Menangis
Ari S. Effendy
Cerpen
Pekanbaru Sebelum 33°C
Ari S. Effendy
Flash
Nikmati Saja Hidup, Jangan Dilawan
Ari S. Effendy
Cerpen
Semoga Hidup Kita Terus Begini-begini Saja
Ari S. Effendy
Flash
Bronze
Daun di Atas Bantal: Cemburu Ketika Angin Mencocoli Daun
Ari S. Effendy
Cerpen
DIRUNDUNG
Ari S. Effendy
Skrip Film
Rita dan Kebun Absurd
Ari S. Effendy