Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku Dan Bapak
9
Suka
38,075
Dibaca

Mengayuh sepeda ontel lawas dengan perlahan. Pria berusia 40 tahun itu menyusuri jalanan malam Kota Kediri yang ramai, serta dihiasi oleh lampu yang berpijar dengan terangnya, seakan menjadi teman Pak Suratno setiap hari.

“Bapak kesuwen gak, Nduk?” sapanya sembari turun dari sepeda.

Endak, Pak.” Menyambut bapak dengan seulas senyuman.

Devi melingkarkan satu tangannya ke perut bapak. Tersenyum, mengucap syukur sebab masih diberi kesempatan melihat senyum dan tawa bapak. Oh, dan juga, kemarahan bapak tentunya.

Sepulang bekerja, Devi selalu dijemput oleh bapaknya. Meskipun masih berstatus sebagai siswi SMA, Devi melamar pekerjaan di salah satu stand minuman kekinian di kotanya. Pemilik stand minuman itu adalah tetangganya, beruntung ... ia diperbolehkan untuk bekerja dari pukul 3 siang hingga pukul 9 malam. Karena, paginya ia harus mengerjakan tugas sekolah.

Nduk, besok kamu libur, to?” tanya bapak saat mereka sudah sampai di rumah. Memasukkan sepeda lalu mengunci pintunya.

“Iya, Pak.” Devi mengangguk, melepas tas selempang yang ia pakai lalu menaruhnya di kursi rotan yang terdapat di ruang tamu.

“Besok jalan-jalan, ya? Kayak biasanya.”

“Iya,” sahut Devi bersemangat. “Tapi besok aku, loh, Pak, yang bayarin makan. Devi hari ini gajian!” Mengeluarkan beberapa lembar uang 50 ribuan, ia menunjukkannya kepada bapak dengan senyuman yang merekah sempurna.

Bapak mengangguk, ia terharu setiap kali Devi menunjukkan gajinya. Dua tahun sudah, ibu pergi meninggalkan Devi dan bapak. Dan setahun sejak pandemi, perekonomian bapak dan Devi berkurang. Bapak yang dulu bekerja di salah satu perumahan mewah sebagai tukang taman pun harus berlapang dada ketika namanya disebut dalam pengurangan karyawan. Sekarang, bapak bekerja sebagai kuli bangunan yang tak menentu.

Maafkan bapak, Nduk, masa remaja kamu hilang karena bekerja. Maafkan bapak.

Setetes demi setetes air mata bercucuran dari mata sayu bapak. Hatinya terasa pilu setiap kali putrinya berpamitan untuk bekerja. Rasa gagal menjadi orang tua selalu menyiksa batinnya.

Devi belum tidur. Mendengar suara tangisan lirih bapak, ia pun membuka mata.

“Pak, Devi ndak apa-apa. Devi senang bisa kerja, nambah pengalaman juga, to?” Begitulah Devi setiap kali ia mendapati bapak menangis.

“Kamu belum tidur?” tanyanya sembari menghapus sisa air mata.

Devi bangun, ia duduk menghadap bapak. Menggenggam tangannya lalu berkata, “Bapak itu yang terbaik. Jangan sedih lagi, ya, Pak? Devi ndak mau lihat, Bapak, nangis. Bapak, ndak boleh—”

“Maafkan bapak, nduk, maaf ... kamu kehilangan masa remaja karena bapak.”

Devi menggeleng keras, ia mengusap air mata yang kembali menetes di pipi bapak. “Ndak ada bapak yang gagal mendidik dan menafkahi anaknya, semua bapak di dunia ini adalah yang terbaik. Dan, Bapak, satu-satunya yang terbaik dari semua yang terbaik. Nomor satu di hati Devi. Aku sayang, Bapak.”

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Qodrat Merancang Tuhan Karyawala
Lilis Alfina Suryaningsih
Novel
Mariyam dan Ali
Azrai Putra Barumun Daulay
Flash
Aku Dan Bapak
Ummy Wachida
Novel
Love Letter
Benedikta Sonia
Cerpen
Bronze
Menyembunyikan Gajah
Agus Fahri Husein
Novel
Bronze
Secret Of Love
Sonya Mega Flourensia
Cerpen
Bronze
Meminta sepuluh menit berharga dalam hidup Anda
Rifatia
Cerpen
Perang Dunia Kaiju
Rama Sudeta A
Novel
Madu yang Beracun
Dara Kirana
Flash
Bronze
Anak Perempuan Ayah
Siti Soleha
Flash
Bronze
Si Lola Menyebalkan
Nuel Lubis
Novel
MELODI UNTUKMU
Diana Fitria
Novel
Tidak Apa-apa Tidak Ada Papa
Fatkhiyatu Rizkill
Cerpen
Bronze
Takdir Sang Ratu ular
Husnu zinni
Skrip Film
LITERATUR BERNYAWA ( SCRIPT FILM )
Rainzanov
Rekomendasi
Flash
Aku Dan Bapak
Ummy Wachida
Flash
Arini
Ummy Wachida
Flash
Halaman terakhir
Ummy Wachida
Novel
Adakah Do'a?
Ummy Wachida
Novel
Kakak! (Jangan Menikah)
Ummy Wachida