Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Thriller
CERMIN ANTIK
12
Suka
19,182
Dibaca

Sepi. Lengang. Rumah ini masih terlalu luas, jika hanya ditempati sepuluh orang. Aku benar-benar kesepian. SELASIH.

Bi Ratna sudah selesai membereskan meja makan saat Gendis mendekati Selasih. Diletakkannya nampan berisi kelopak-kelopak bunga mawar, kantil dan cempaka di atas meja, serta dupa kecil yang masih mengepul.

"Masih penasaran nggak?" bisik Gendis di telinga Selasih.

"Soal?"

Gendis, sang kakak melihat ke sekeliling. Lalu kembali membisiki adiknya. "Kamarnya Simbah."

Selasih menarik kepalanya menjauh. Matanya terbelalak. "Nggak, ah! Aku kan dipantang masuk ke sana!"

"Cekk. Simbah sudah meninggal ini," ujarnya enteng. "Katamu mau nyari inspirasi soal hal-hal klenik? Di kamarnya penuh tuh! Termasuk cermin antik."

Mata Selasih terbuka lebar. Tertarik. Tapi sejurus kemudian, ronanya kembali meredup. "Takut ah, aku!"

"Ish!" Gendis menepuk meja. Sebal. "Takut sama siapa? Rumah ini kan sudah resmi jadi milikmu. Kamu majikannya sekarang!"

Selasih goyah. Sedari kecil memang dia penasaran. Tapi selalu dilarang ke sana oleh Simbahnya. Sedangkan kakaknya, Gendis malah diserahi tanggung jawab mengurus kamar itu. Biasa disebut kuncen.

Kalau bisa jujur, Selasih sebenarnya iri. Daripada harta benda, dia lebih suka dipercaya jadi kuncen. Tapi karena sayangnya Simbah, terutama dengan mewariskan seluruh hartanya atas namanya, membuat Selasih cukup tahu diri agar tidak melanggar.

"Kebakaran!"

Gendis meraung-raung dalam dekapan Bi Ratna dan lainnya. Dia berupaya berontak, ingin berlari ke arah api. Sedangkan si jago merah tampak melalap rakus bangunan kuno di depannya.

"Jangan ke sana, Cah Ayu! Bahaya!"

Tak lama, atap rumah roboh. Menyemburkan percik-percik api. Semua orang yang melihat menjerit. Terutama Gendis. Gadis itu langsung tersungkur. Meraung. Menangis.

Selasih tak mungkin selamat. Dia pasti sudah mati terpanggang!

Kamu sebagai kuncen, jangan sampai membiarkan ahli warisku melihat cermin antik! Nanti dia bisa terbakar! Itu pesan Simbah.

Lalu, kenapa?

Apalah itu artinya jadi kuncen! Semua peninggalan Simbah, harusnya jadi milikku! GENDIS.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (4)
Rekomendasi dari Thriller
Flash
CERMIN ANTIK
Call Me W
Skrip Film
INSIDER TRADING
Vitri Dwi Mantik
Flash
Deathskull
Rama Sudeta A
Flash
Tangan di atas Tuhan
Adi Rizaldi
Novel
DENDAM 2 NYAWA
Ahmad Barnash
Novel
2000 In Memoriam
Nuel Lubis
Novel
Jangkitan: Wabah Zombie di Bogor
Kingdenie
Skrip Film
DpD
Adelaide vina rae
Novel
Like a Boar to a Flame (Bahasa Indonesia Version)
Endri Irfanie
Novel
Bocah dari Lembah Pesakitan
Auli Inara
Novel
𝐌𝐞𝐥𝐮𝐩𝐚𝐤𝐚𝐧𝐧𝐲𝐚 𝐓𝐢𝐝𝐚𝐤 𝐒𝐞𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐌𝐞𝐧𝐠𝐞𝐧𝐚𝐥𝐧𝐲𝐚
Rii Mlny
Cerpen
Bronze
Desir Angin, Gemuruh, Langkah Kaki
Adnan Fadhil
Novel
Sheen, Bunga Matahari yang Merunduk
Iqne zakiah
Flash
Bronze
Tetangga
Febby Arshani
Flash
Bronze
Cermin Malu
Andre Donas
Rekomendasi
Flash
CERMIN ANTIK
Call Me W
Flash
BUJANGAN BAJINGAN
Call Me W
Cerpen
Modus Operandi
Call Me W
Flash
PETELOT (PENSIL / INDO)
Call Me W
Flash
PONSEL
Call Me W
Flash
PETELOT (Jawa)
Call Me W
Flash
Kopi & Gorengan
Call Me W
Flash
Kalau Bukan Jodoh
Call Me W
Novel
Bronze
Sang Penyihir
Call Me W
Flash
SUARA LEBAH
Call Me W
Flash
SHAMPOO
Call Me W