Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Gito dan Gitarnya
1
Suka
28,548
Dibaca

Lima tahun Gito menjadi pengamen, sejak lulus SMA. Gitar bergambar kalajengking, tak pernah ia ganti. Ia selalu mampir ke masjid terdekat, tetapi yang paling sering ke masjid berkubah hijau. Suatu hari, saat duhur, gitarnya hilang di masjid berkubah hijau.

“Aku yang salah,” Gito bergumam. “Aku ceroboh, menaruh begitu saja gitar di teras masjid. Tak seharusnya aku begitu. Aku yang salah.”

Gito berjalan gontai meninggalkan masjid, pulang ke rumah. Ibunya bertanya, “mana gitarmu?”

“Hilang, Ibu,” lirih, Gito menyahut, lantas bercerita peristiwa di masjid. “Saya yang salah, Ibu. Biasanya, saya selalu menyandarkan gitar itu di dinding dekat saya salat. Tapi, tadi saya tergesa-gesa, waktu duhur hampir habis. Lalu saya menaruh gitar begitu saja di teras masjid.”

“Sudahlah, yang penting kamu selamat, Nak,” ibunya menghibur. “Gitar bisa dibeli lagi. Berapa harga gitar sekarang, Nak?”

“Harga-harga sudah pada naik, Ibu. Harga gitar baru mungkin sekitar tiga ratusan ribu.”

“Mahal sekali? Apa ndak ada yang lebih murah?”

“Mungkin di Pasar Senggol ada yang murah, Ibu.”

***

Gito telah menyiapkan sejumlah uang di saku depan celana jins lusuhnya. Semalam ia telah rembugan dengan ibu. Ia akan mengambil sebagian tabungan untuk membeli gitar bekas. Pagi ini, Gito berjalan menuju Pasar Senggol.

Gito menyusuri kios-kios yang berderet di pasar barang bekas itu. Tetapi sulit menemukan kios yang menjual gitar. Sampai akhirnya di pojok pasar, ia melihat sebuah gitar tergantung di sebuah kios.

Gito terkesiap, lalu melangkah gegas mendekati kios itu, seakan berpacu dengan waktu. Napasnya terengah-engah ketika sampai di kios. Ia mendongak memandang sebuah gitar yang tergantung di langit teras kios.

“Berapa harga gitar ini, Pak?” Gito bertanya

“Dua ratus ribu.”

“Tinggi sekali, Pak? Seratus ribu, ya?”

“Tidak bisa, Mas. Kalau gitar biasa, mungkin saya lepas. Tapi gitar ini ada air brush-nya,” kata si pemilik kios menunjuk gambar kalajengking di bodi gitar itu.

“Seratus lima puluh?” Gito menawar

“Harga pas, Mas.”

Gito tak mau berdebat. Ia tak pandai menawar. Lebih dari itu, ia harus menyelamatkan gitar bergambar kalajengking itu. Ia tak ingin gitar itu menjadi milik orang lain.

Gito berpikir, inilah garis nasibnya. Bayangkan, kemarin ia kehilangan gitar, dan sekarang ia menemukan gitarnya di sebuah kios. Bila bukan karena kehendak Tuhan, gitar itu tentu tak lagi tergantung di kios itu.

Gito membayar gitar itu. Mendekapnya. Dadanya gemuruh. Matanya terasa hangat. Ia berjalan menunduk dan beberapa kali menyeka matanya yang basah. Beberapa orang memandangnya heran.

Gito ingin pulang untuk mengabarkan keajaiban ini pada ibunya. Ia yakin, ibunya pun akan bahagia. Bergegas, ia mempercepat langkah.

Gito mendengar teriakan seorang wanita. 

“Jambret! Jambret!”

Gito melihat seorang lelaki berlari ke arahnya. Sigap, Gito mengayunkan gitarnya. Krak! Lelaki penjambret itu terkapar di aspal, kepalanya berdarah.

Gito tertegun. Gitarnya patah!

***

Dua hari Gito tidak mengamen. Gitarnya masih di kantor polisi, untuk barang bukti. Sebuah sedan merah berhenti di halaman rumah. Seorang gadis berkulit putih, berambut panjang, turun, menemui Gito di teras.

Gadis itu mengucap salam, mengenalkan diri, lalu menyerahkan sebuah gitar baru pada Gito.

“Sebagai tanda terima kasih saya. Maaf, baru hari ini saya bisa menemui Mas Gito. Terimalah,” kata si gadis.

“Ini gitar mahal,” sahut Gito.

“Mas Gito suka?”

“Ya, tentu saja. Ini gitar bagus. Terima kasih, Mbak Marina.”

“Jangan panggil Mbak, dong? Kan saya lebih muda dari Mas Gito. Panggil saja Marina.”

“Terima kasih, Marina.”

Gito membelai gitar itu. Ada desiran lembut di hatinya.

“Maukah Mas Gito memainkan gitar ini?” pinta Marina.

“Lagu apa?”

“Bagaimana kalau Panggung Sandiwara? Saya suka lagu itu.”

Gito mengangguk dan tersenyum. Gito memetik dawai-dawai gitar dan menyanyikan lagu pesanan gadis cantik di depannya. Marina memejamkan mata mendengarkan denting dawai dan lantunan suara Gito. Ketika Gito usai memainkan lagu, Marina bertepuk tangan.

“Bagus. Suara Mas Gito bagus sekali,” kata Marina.

“Terima kasih.”

Gito menatap Marina, Marina menatap Gito. Gito tersenyum, Marina tersenyum. Gito kikuk, Marina kikuk. Apa yang terjadi kemudian? Ah, sudahlah, itu urusan mereka.

***SELESAI***

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Romantis
Novel
Bukan Selamat Tinggal Yasmin
Sandra Arq
Flash
Gito dan Gitarnya
Sulistiyo Suparno
Novel
Danasmara
Ifa Alif
Novel
Bronze
PARAGRAF CINTA
Eva yunita
Novel
Bronze
Dersik
Chika Manupada
Novel
Petrichor
Kal Q Fawzie
Flash
Yang Terlewat di Halte Bus
Listian Nova
Novel
Sketsa Rana
Mukti
Cerpen
Bronze
Keindahan yang Tak Tergapai: Bidadari dalam Bayangan Hati
Mochammad Ikhsan Maulana
Cerpen
Bronze
Perjanjian Bersama Sehari Malam
Aneidda
Novel
Bronze
Takdir Tuhan yang Tersesat
Agum Bahenggar
Novel
zwischen
Gurlzend
Cerpen
Bronze
Arti Sebuah Ciuman
Nuel Lubis
Novel
Be A Mate To Syifa
Syifa Annisa Sirait
Novel
Bronze
Biar Tersampaikan oleh Semesta
Ansar Siri
Rekomendasi
Flash
Gito dan Gitarnya
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Gadis Penanam Bunga
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Rolet dan Pisau Lipat
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Gadis Panggilan di Pelataran Masjid
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Disiplin
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Setelah Tidak Bermotor Lagi
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
"Tolong, Sembelih Saya!"
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Potong Tangan
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Jangan Jadi Orang Baik
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Dua Perjaka Tua
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Romeo Bukan Jodoh Juliet
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Mengampuni Maling
Sulistiyo Suparno
Flash
Bronze
Skripsi
Sulistiyo Suparno
Cerpen
Bronze
Menembak Gagak
Sulistiyo Suparno
Flash
Jodoh di Balik Pintu
Sulistiyo Suparno