Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Daun di Atas Bantal: Cemburu Ketika Angin Mencocoli Daun
76
Suka
29,411
Dibaca

Sudah enam hari presipitasi cair tak mencocoli Bumi Lancang Kuning. Gerah, ia aku gerah. Bukan! ternyata bukan cuma aku! rakyat seantero Rumbai Pesisir dan sekenanya pun merasakan hal serupa, mungkin.

"Rumingkang! sudah kau jemur kasur? Tak perlu kau tunggu matahari tiarap di ufuk baratkan?" Suara penyimpan surga di bawah telapak kakinya terdengar gurih seraya gigitan pertama wafer dengan ratusan lapis, bedanya ia sedang gerilya di dapur mengaduk-aduk gulai agar tak pecah santan, aromanya sesumbar di udara membuat yang mencium bak sedang ngantre di emperan surga. Nikmat.

"Ia Ma, sekejap!" congorku berteriak dari bilik bisu di mana itu adalah ruang yang paling nyaman untuk tidur, berkhayal, menulis, nonton film dan tentunya tempat paling aman bersembunyi dari kenyataan hidup, termaksud pertanyaan pernyataan sukses versi tetangga.

Batang matoa milik tetangga yang tumbuh subur tepat di garda terdepan antara daerah kuasa Ibuku dan tetanggaku, lebat akan daun yang mulai menguning rupanya. Mereka melambai-lambai mengolok-olok ku saat keluar dari home sweet home dengan seonggok kasur di pelukan.

Eh kelewatan! sebelum membahas garda terdepan, kuletak dua kursi dengan posisi saling membelakangi agar mereka tak saling lihat satu sama lain, berharap tumbuh rasa rindu di antaranya. Kuletak kayu selebar empat jengkal dan panjang yang malas ku hitung di kepala kursi tersebut agar mereka bisa menahan beban kasur yang akan kuletak dan kujemur nanti di atasnya.

"Kalian harus diberi beban, agar ketika nanti berdampingan di hadapan meja makan, kalian bisa mengerti dan menghargai arti kebersamaan," ujarku pada kedua kursi bisu itu.

Tak butuh waktu lama bagi angin sepoi-sepoi pembawa panas udara satu persatu menyapa daun matoa kuning. Mereka bercumbu, angin memaksanya bercumbu. Daun mengerang-ngerang gemetar, hingga satu waktu salah satu daun harus mengalah atas lelahnya bertahan.

Satu helai daun berwarna kuning, lebih kuning dari daun yang lain, kuning matang lebih tepatnya, terlepas dari batang matoa. Untungnya angin perkasa itu adalah raja lembut yang bertanggungjawab, menuntun daun mendarat dengan sempurna di atas bantal tepat beberapa detik setelah kuletakan benda petak itu di atas kasur yang siap menerima sengatan bhanuprakash.

"Oh, inikah yang dinamakan Daun di Atas Bantal?" Ujarku cemburu melihat semua peristiwa tadi berujung berpasang-pasangan.

________________________

Presipitasi cair = Air hujan (Ilmiah)

Bhanuprakash = Matahari yang bersinar (Hindu)

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (23)
Rekomendasi dari Drama
Novel
CALL YOU MINE
Fadila Damayanti
Novel
Rayla
Rivaldi Zakie Indrayana
Skrip Film
Anak Kos
Kinanti Atmarandy
Skrip Film
Matahari Dan Rembulan
Rosidawati
Flash
Si Cantik dari Bukit Sopai
Lisa
Flash
Daun di Atas Bantal: Cemburu Ketika Angin Mencocoli Daun
Ari S. Effendy
Novel
Bronze
Persona
Melvi Kolondam
Novel
Bronze
Writing is My First Love
d Curly Author
Novel
Genius Insane
Ilma Ilhami
Novel
Bronze
Merenda Cinta Di Atas Duka
Rainzanov
Novel
arti kehidupan
Eko prihatin
Novel
Bronze
Perjalanan Sembilan Delapan
Silvarani
Novel
Kosan Bu Djoko
Sarah Teplaka
Flash
Bronze
Takdir Cinta
Reza Lestari
Flash
Bronze
Gaza Feminine Energy
Silvarani
Rekomendasi
Flash
Daun di Atas Bantal: Cemburu Ketika Angin Mencocoli Daun
Ari S. Effendy
Skrip Film
Rita dan Kebun Absurd
Ari S. Effendy
Cerpen
Semoga Hidup Kita Terus Begini-begini Saja
Ari S. Effendy
Cerpen
Pekanbaru Sebelum 33°C
Ari S. Effendy
Cerpen
DIRUNDUNG
Ari S. Effendy
Flash
Nikmati Saja Hidup, Jangan Dilawan
Ari S. Effendy
Flash
TERSESAT DI GANG YANG BENAR
Ari S. Effendy
Flash
Punggung Kecil dan Nasi Menangis
Ari S. Effendy
Flash
Jalan yang Jauh, Jangan Lupa Oleh-oleh
Ari S. Effendy
Flash
Ada Anak Bertanya Pada Ibunya
Ari S. Effendy
Flash
Aku Mencintaimu, Seperti Kau Mencintai Istriku
Ari S. Effendy