Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku Bungkam
0
Suka
29,716
Dibaca

Jika ada kata yang bisa kuucapkan kali ini mungkin saja air mata pasti ikut meluruh juga. Hatiku sesak. Dada terus tersayat rasanya. Pikiranku penat sekali, seakan beban terpikul hanya olehku. Tapi, apa boleh buat saat mulut membisu. Tak ada sepatah kata bisa ku jelaskan kali ini. Semua runyam, amarah terus membuncah menjadi gumpalan yang kian hari menyulutkan diriku ketika berhadapan sosok itu.

"Durhaka kamu!! Semakin hari anak tidak tau sopan kepada orangtua!" Rasanya, aku ingin berteriak kalau semua yang kulakukan karnanya. Karena semua tindakan dirinya yang sama sekali tak ingin disalahkan.

Aku ini anak. Setiap anak tak ingin melihat ibunya menderita, bahkan tak tega juga melihat sang pahlawannya hidup sendirian. Namun, dia, kebohongannya harus sudah diselesaikan. Tindakannya dahulu harus dihentikan. Asusila yang dilakukannya benar-benar tidak dapat dibiarkan.

Terkadang aku bertanya, mengapa kejadian delapan belas tahun lalu masih teringat jelas di kepalaku? Kenapa juga aku mengingat detail kejadian itu? Aku tak suka, jika teringat itu setelah mengetahui apa saja yang diperbuat pahlawanku membuatku selalu ingin marah. Bahkan untuk mempercayainya lagi sulit bagiku.

Jika ada yang bilang, seseorang itu bisa berubah saat menemukan titik hidayahnya. Lagi, apakah ia bisa? untuk saat ini saja hubungan diriku dengannya malah semakin mengerucut kepada titik selesai. Harusnya.

Tapi apalah dayaku. Hati nuraniku masih tak tega ketika melihatnya sakit, tubuh yang kian renta, kerutan keriput semakin jelas tergambarkan, juga rambut berwarna putih kini sangat jelas sekali, tak tega lagi ketika melihat dirinya kesulitan memakan sesuatu saat gigi kuatnya telah habis termakan usia. Bagaimana bisa aku membiarkannya jika melihat kondisi seperti itu? Jasanya pasti melekat dalam perjalanan hidupku.

Lagi-lagi, kesalahannya pasti membuatku kecewa. Tapi hati ibu, alangkah besar sekali. Dua puluh lima tahun dirinya bertahan menutupi luka yang tak ada sembuhnya akibat terus tergores hingga detik ini, aku memintanya cukup. Cukup sampai sini atas seluruh kesakitan yang dia derita.

Jika pergi adalah kebaikan untuk kewarasannya, maka pergilah. Tenangkan dirimu juga damaikan hatimu. Walau sesak rasanya berada jauh darimu tapi aku lega, tak melihat air matamu terus jatuh setiap harinya

Tak ada rumah yang sempurna, pastinya ada celah kecil hingga mengakibatkan kebanjiran ketika hujan lebat. Seperti kehidupan rumah tangga tak sepenuhnya sempurna walaupun telah menemukan orang yang tepat, akan ada masalah yang datang untuk menguji sampai mana kapal ini mengarungi kehidupan. Jika yakin semua bisa dijalani perlahan maka setiap kapal itu akan sampai pada tujuannya namun semua akan berbalik saat ego menguasi penumpang kapal itu. Antara masalah yang tak kunjung terpisahkan hingga menyudahinya atau tak memilih berangkat dalam kapal yang sama dari awal.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
ISYARAT
LeeNaGie
Novel
Prasada
Aletha Eng
Flash
Aku Bungkam
Lisnawati
Novel
Bronze
a girl in the lighthouse
Rumpang Tanya
Novel
MATAHARI DAN REMBULAN
Rosidawati
Novel
We are?
Aulia Choirun Nisa
Novel
Bronze
Impian Dalam Tragedi
W
Skrip Film
Rice to Meet You (Screenplay)
Muhammad Ghifari Aldiansyah
Skrip Film
Harumi
Gyul
Skrip Film
Persona (Script)
Imajiner
Novel
Bronze
Ini aku, bukan dia
Kartika kurniati
Skrip Film
Dunia Reva
Hanasteen
Novel
AYM
Ismahayati
Novel
Bronze
Serendipity's Paradox
nandini s
Komik
Tari-Tari
I Komang Nopan Adiputra
Rekomendasi
Flash
Aku Bungkam
Lisnawati
Skrip Film
Satu Cara Untuk Pergi
Lisnawati
Novel
Bronze
You Are Too LATE
Lisnawati
Flash
Bukunya Sampai, Harapannya Usai
Lisnawati
Novel
PERPANJANG KONTRAK
Lisnawati
Flash
Bronze
Menunggu Moment
Lisnawati
Flash
Bronze
Tentangmu
Lisnawati
Flash
Hai, Apa kabarmu?
Lisnawati
Novel
Bronze
25 TAHUN PERNIKAHAN
Lisnawati
Novel
Bronze
SPEECHLESS
Lisnawati
Flash
Setahun berlalu
Lisnawati
Flash
Ketupat Sayur Sudah Basi
Lisnawati
Flash
Di Kafe Kala Ini
Lisnawati
Novel
Aku sepi setelahmu
Lisnawati
Flash
ORANG YANG SAMA PADA MUSIM BERBEDA
Lisnawati