Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Aku Bungkam
0
Suka
28,667
Dibaca

Jika ada kata yang bisa kuucapkan kali ini mungkin saja air mata pasti ikut meluruh juga. Hatiku sesak. Dada terus tersayat rasanya. Pikiranku penat sekali, seakan beban terpikul hanya olehku. Tapi, apa boleh buat saat mulut membisu. Tak ada sepatah kata bisa ku jelaskan kali ini. Semua runyam, amarah terus membuncah menjadi gumpalan yang kian hari menyulutkan diriku ketika berhadapan sosok itu.

"Durhaka kamu!! Semakin hari anak tidak tau sopan kepada orangtua!" Rasanya, aku ingin berteriak kalau semua yang kulakukan karnanya. Karena semua tindakan dirinya yang sama sekali tak ingin disalahkan.

Aku ini anak. Setiap anak tak ingin melihat ibunya menderita, bahkan tak tega juga melihat sang pahlawannya hidup sendirian. Namun, dia, kebohongannya harus sudah diselesaikan. Tindakannya dahulu harus dihentikan. Asusila yang dilakukannya benar-benar tidak dapat dibiarkan.

Terkadang aku bertanya, mengapa kejadian delapan belas tahun lalu masih teringat jelas di kepalaku? Kenapa juga aku mengingat detail kejadian itu? Aku tak suka, jika teringat itu setelah mengetahui apa saja yang diperbuat pahlawanku membuatku selalu ingin marah. Bahkan untuk mempercayainya lagi sulit bagiku.

Jika ada yang bilang, seseorang itu bisa berubah saat menemukan titik hidayahnya. Lagi, apakah ia bisa? untuk saat ini saja hubungan diriku dengannya malah semakin mengerucut kepada titik selesai. Harusnya.

Tapi apalah dayaku. Hati nuraniku masih tak tega ketika melihatnya sakit, tubuh yang kian renta, kerutan keriput semakin jelas tergambarkan, juga rambut berwarna putih kini sangat jelas sekali, tak tega lagi ketika melihat dirinya kesulitan memakan sesuatu saat gigi kuatnya telah habis termakan usia. Bagaimana bisa aku membiarkannya jika melihat kondisi seperti itu? Jasanya pasti melekat dalam perjalanan hidupku.

Lagi-lagi, kesalahannya pasti membuatku kecewa. Tapi hati ibu, alangkah besar sekali. Dua puluh lima tahun dirinya bertahan menutupi luka yang tak ada sembuhnya akibat terus tergores hingga detik ini, aku memintanya cukup. Cukup sampai sini atas seluruh kesakitan yang dia derita.

Jika pergi adalah kebaikan untuk kewarasannya, maka pergilah. Tenangkan dirimu juga damaikan hatimu. Walau sesak rasanya berada jauh darimu tapi aku lega, tak melihat air matamu terus jatuh setiap harinya

Tak ada rumah yang sempurna, pastinya ada celah kecil hingga mengakibatkan kebanjiran ketika hujan lebat. Seperti kehidupan rumah tangga tak sepenuhnya sempurna walaupun telah menemukan orang yang tepat, akan ada masalah yang datang untuk menguji sampai mana kapal ini mengarungi kehidupan. Jika yakin semua bisa dijalani perlahan maka setiap kapal itu akan sampai pada tujuannya namun semua akan berbalik saat ego menguasi penumpang kapal itu. Antara masalah yang tak kunjung terpisahkan hingga menyudahinya atau tak memilih berangkat dalam kapal yang sama dari awal.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Filosofi Keluarga
Niken Ayu Winarsih
Flash
Aku Bungkam
Lisnawati
Novel
Marnie
Zi Hea
Skrip Film
KPK (KUCINTA PRIA KORUPTOR)
zae_suk
Skrip Film
Dzikir Sebuah Cincin Retak
Encep Nazori
Skrip Film
Me Love Me
Romaliah
Skrip Film
Calon Istri Ayah
Eko Hartono
Flash
Someone Take Me Home
Dwi Budiase
Flash
Nana
9inestories
Novel
Bronze
Kattok Mencari Dalang
Gusty Ayu Puspagathy
Novel
Bronze
Tapak Kecil Gayatri
Rinmunchhhii
Novel
Di Bawah Langit Para Hawa
Shinta Larasati Hardjono
Flash
Bronze
Teleponmu Dari Benua Seberang
Silvarani
Flash
Episode 365
Devita Sukma Nur Alifa
Novel
Benih Terlarang
Iis Susanti
Rekomendasi
Flash
Aku Bungkam
Lisnawati
Flash
Bronze
Aku Menulis Lagi
Lisnawati
Novel
Bronze
25 TAHUN PERNIKAHAN
Lisnawati
Flash
Di Kafe Kala Ini
Lisnawati
Flash
ORANG YANG SAMA PADA MUSIM BERBEDA
Lisnawati
Flash
Bronze
Menunggu Moment
Lisnawati
Novel
Bronze
You Are Too LATE
Lisnawati
Flash
ZONA NYAMAN BUKAN ZONA AMAN
Lisnawati
Cerpen
Buku Berbeda
Lisnawati
Flash
Ketupat Sayur Sudah Basi
Lisnawati
Flash
Hai, Apa kabarmu?
Lisnawati
Flash
Keras Hati
Lisnawati
Novel
TEROR JIN DALAM PESANTREN
Lisnawati
Flash
Seharusnya, selesai.
Lisnawati
Flash
Bronze
Kata orang, jangan berhenti di satu titik.
Lisnawati