Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Berakhirnya Pesta Karaoke
3
Suka
29,445
Dibaca

Kalau ada yang menanyakan siapa yang berani menghentikan karaoke malam itu, maka jawabannya adalah aku.

Minggu - pukul dua dini hari

Malam yang seharusnya tenang kini diusik oleh suara sumbang bapak-bapak yang sudah ketagihan karaoke. Kalau dihitung, ini sudah mejadi malam minggu ke-12 sejak acara karaoke itu dimulai. Awal mulanya karena hajatan dan kini malah menjadi kebiasaan. Sudah berulang kali aku menegur bapak-bapak itu, tapi sepertinya tidak mempan karena mereka adalah 'bapak-bapak'.

Aku mencoba menahan diri tapi sepertinya malam ini adalah malam terakhir aku bisa bersabar.

"Jangan jangan dulu, janganlah diganggu," begitu menurut liriknya.

"Jangan diganggu? Harusnya aku yang ngomong begitu," ucapku dengan sinis sambil beranjak membuka pintu kamar.

Suara sumbang itu semakin terdengar dengan jelas ketika aku sampai ruang tamu. Kini aku bisa mendengar suara bapak-bapak tertawa dengan keras dan bercanda satu sama lain. Aku semakin mempercepat langkah untuk keluar dari dalam rumah bersamaan dengan selesainya lagu yang tadi dinyanyikan.

Aku semakin mempercepat jalanku karena bertarung dengan waktu.

"Jangan keduluan," ucapku dalam hati dan benar saja, aku sampai terlebih dahulu dibandingkan dengan lagu selanjutnya.

Kini aku sudah berdiri di sebelah speaker yang langsung mengarah ke rumahku. Bapak-bapak itu sedang mengobrol sembari menyeruput kopi hitam, tidak lupa dengan rokok yang menggantung di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah. Angin yang berhembus dengan pelan menggoyangkan dedaunan dan membuat malam itu menjadi lebih dingin.

"Permisi pak," ucapku.

Pak Heru melihatku.

"Astaghfirullah hal adzim!" Ucapnya dengan lantang dan membuat 7 orang bapak-bapak lainnya melihatku dengan terkejut.

"Maaf pak, udah malem," ucapku yang masih berusaha menahan diri untuk tidak membuat keributan. "Saya ngga bisa tidur."

"I ... iya mbak," jawab Pak Heru dengan terbata-bata.

"Makasih pak."

Aku meninggalkan mereka yang sepertinya terburu-buru mematikan speaker dan microphone. Terdengar pula ada seseorang yang merapalkan doa sambil membereskan makanan dan minuman yang mereka santap.

Ah ya, kalau kalian bertanya mengapa mereka terkejut saat melihatku malam itu, mungkin jawabannya karena malam itu aku memakai daster putih polos milik ibu dan tidak sempat mengikat rambutku yang panjangnya sudah mencapai pinggang.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bronze
Ajari Aku Syahadat Cinta (Novela Edisi Revisi)
Imajinasiku
Flash
Berakhirnya Pesta Karaoke
Gita Sri Margiani
Novel
Bronze
Menjahit Retak di Langit-Langit
Prasetya Catur Nugraha
Komik
Re-Fate
djun
Novel
Matahari dan Langit: segala di antaranya
Erzsi
Novel
Bronze
Heart Calling (Serah Attona)
Ruceh Simanjuntak
Flash
Bronze
Pertemuan
Anisa Ratna kania
Flash
Retori Ironi Cinta
Aneidda
Novel
Lingkaran Popcorn
galih faizin
Skrip Film
Maafkan Aku
YENI AMALIA ILAHI
Flash
Kotoran
myht
Flash
Rahasia
Binar Bestari
Novel
Wanita dalam Pasung
Rina Anggraeni Safia
Komik
Bronze
Simpang Laras
Abidary
Cerpen
Bronze
Ular Tangga Pernikahan
Iena_Mansur
Rekomendasi
Flash
Berakhirnya Pesta Karaoke
Gita Sri Margiani
Flash
Jujur Untuk Kebenaran Atau Bohong Untuk Pencitraan?
Gita Sri Margiani
Skrip Film
di balik layar : FIRASAT
Gita Sri Margiani
Novel
JOANA
Gita Sri Margiani
Novel
Namaku Pingku
Gita Sri Margiani
Cerpen
Atma dan Jivana
Gita Sri Margiani
Flash
Pembunuh Mimpi
Gita Sri Margiani
Flash
Siapa Yang Tertawa Tadi Malam
Gita Sri Margiani