Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Laju Lari
19
Suka
35,555
Dibaca

Empat deret angka tercetak di kertas kusut yang menempel di dadanya, bergoyang seiring kaki mengayun, menapaki lintasan aspal Simpang Karet menuju Simpang Ngroto. Ia tak sempat menyimpan oksigen lebih banyak lagi, ruang di paru-parunya mengembang dan mengempis terlampau cepat.

Riuh tepuk tangan bocah di jalanan menerbangkan sekelebat kenangan tahun lalu, mengembalikan memori yang sempat hilang menguap direbus rutinitas ibukota. Ada kenangan dalam jalinan kokoh otot betisnya, tentang berlari dari masa lalu, dan hantu bernama etos kerja.

Ia berdoa, semoga saja, tubuhnya tak kalah pada pikiran yang meracuni setiap sel dengan lelah; perih; pegal; dan kesakitan. Hampir empat jam bersama lejit otot yang mengokang kakinya berlari, menembus riuh pemukim sekitar jalanan yang dilalui, menuju gapura buatan di kaki candi, mengarah ke Taman Lumbini.

Cadangan glikogennya menipis, tubuhnya didera rasa lelah tak berkesudahan. Kenapa pelari melakukan hal ini lagi dan lagi, meski mereka tahu rasanya dikejar beban letih. Ia tahu itu sejak kakinya baru saja memulai pelariannya, meskipun tak pernah bisa dijawab dengan sempurna, tungkai itu tak pernah lelah memijak lajur kakinya menapak.

Ada kalanya gerimis datang mengoyak keyakinannya menambah endorphin dalam darah, tetapi lagi dan lagi, sepatunya selalu menemukan jalan untuk menggentus kaki itu tetap melaju.

“Kamu seperti lari dari kenyataan”, kata mereka. Tetapi ia tak pernah ambil peduli untuk sekadar gubris apalagi berhenti. Keruwetan rutinitas mencari nafkah, menjadi alasannya mengambil jeda sejenak sebelum kembali bernapas lagi, bersama manusia statis lainnya. Ia menemukannya pada jarak laju, sebuah suaka bernama kecepatan.

Kita hanya bisa bergerak, jika ada jarak. Maka berpuluh kilometer yang ditempuh pun tak jadi tegahan, menarik garis tempuh dalam mencipta keseimbangan.

Pada hari-hari rutinitasnya berjalan, konstelasi kehidupan berputar searah kesepakatan kolektif, materi sebagai porosnya. Semesta selalu mencipta manusia untuk berperan ganda, memerankan oposisi biner menjadi Si Statis dan Si Dinamis.

Peluh meleleh di setiap kelenjar permukaan tubuhnya, menetes seperti lilin yang dipanaskan, di bawah pijar Sang Baskara. Laju kakinya menembus 4,5 menit pe kilometer, menuju garis akhir yang mulai tampak.

Seperempat kilometer terakhir, bendera-bendera sponsor mulai tampak berkibar di kiri-kanan jalan, kerumunan penonton bersorak sorai. Ia menjaga kokangan kakinya dengan konstan, detak jantungnya bergerak menuju angka di atas 120 BPM. Ketukan drum Brad Wilk bertalu-talu di telinganya, Zack de la Rocha memaki-maki, (Born of a Broken Man) ikut membakar langkahnya membelah rute. Meski tak yakin apakah cadangan kalorinya masih cukup untuk melaju lebih kencang lagi.

Ia memelesat dalam kecepatan tak tertangkap lensa wartawan. Seperti peluru, tubuhnya menumpu ke depan menyentuh garis akhir, menyalip kaki-kaki lain yang coba menahannya. Sorak sorai, gemuruh suara-suara tak dikenal mengalahkan musik yang menutup lubang telinganya. Ada adrenalin yang mengalir, membawa setitik rasa haru dan bangga di dadanya. Pelari itu menaklukkan trek dan hantu-hantu di kepala, ia menang berperang melawan rasa takut dan lelah.

Beberapa tubuh tergolek di tenda panitia, hit the wall katanya. Aliran glikogen mereka menipis, tak bisa memompa lagi energi untuk didistribusikan. Sebagian tak sanggup lagi melanjutkan perjalanannya menuju garis akhir.  

Pelari itu berjalan gontai, menuju kerumunan yang tak dikenalnya. Ia duduk di kerimbunan pohon, meneguk sebotol air isotonik dingin dalam genggamannya. Meski esok, kembali lagi menjadi robot kehidupan, dan bergabung bersama rotasi kelelahan yang lain. Pelari itu pulang membawa peluh dan senyum di wajahnya.  

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (9)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Sayap Burung Patah
rimachmed
Flash
Siang Seberang Istana
Aldi Cendikia Nugroho
Flash
Laju Lari
Foggy FF
Skrip Film
Forgotten Moon
Rifah Khodijah
Skrip Film
Tiga Cuan
Nurbaya Pulhehe
Flash
Bronze
Sial yang keluar, data yang hilang
Setiyarini
Novel
HARGA DARI SEBUAH SUARA
Desto Prastowo
Flash
Bronze
Photos behind the bookshelf
Ang.Rose
Novel
Tough Woman
Anggi faizta
Novel
Bronze
The Badboy
Fidya Damayanti
Novel
Bronze
Buku Harian Alana
Nur Chayati
Novel
Integritas Penyelenggara Pemilu
Yovinus
Novel
Bronze
End Of Age ~Novel~
Herman Siem
Flash
BUJANGAN BAJINGAN
Call Me W
Flash
Bronze
Pelecehan Verbal
Gia Oro
Rekomendasi
Flash
Laju Lari
Foggy FF
Cerpen
Jingga dan Pelangi di Manik Matanya
Foggy FF
Flash
Kapan-Kapan Kita Foto Berlatar Biru
Foggy FF
Flash
Rohaya dan Secangkir Sidikalang
Foggy FF
Cerpen
Warteg Cinta
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Milo dan Silo
Foggy FF
Cerpen
Hati
Foggy FF
Novel
Bhanuresmi
Foggy FF
Cerpen
Ohrwurm
Foggy FF
Flash
Merindu di Safarwadi
Foggy FF
Novel
Mesin Jahit Bapak Awing
Foggy FF
Flash
Seuncang Beras
Foggy FF
Flash
Mendedah Mimpi Warhol
Foggy FF
Flash
Aku Akan Menemuimu di Senja yang Sama
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Cikgu Cleo
Foggy FF