Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Sepenggal Rasa Yang Tertinggal
3
Suka
34,058
Dibaca

Tiga tahun berlalu sejak kelulusan, teman-teman kuliah sudah sudah sibuk mengajak reuni di rumah Rudi, salah satu teman yang baru naik jabatan. Hitung-hitung syukuran, katanya di grup WhatsApp.

Aku tersenyum masam membaca pesan tersebut, membayangkan orang-orang saling membanggakan diri. Reuni hanyalah ajang pamer harta dan pencapaian, sedangkan aku tak punya keduanya. 

Rumah masih menumpang orang tua, cicilan motor kurang sebelas bulan dan aku terlalu sibuk bekerja dengan gaji yang tak seberapa.

Aku tidak ingin pergi, tapi ketika membaca pesan kau akan datang , aku tahu, meski sebentar aku ingin bertemu lagi.

---

Sampai hari reuni tiba, kau datang mengenakan atasan biru muda, warna kesukaanku, dan celana bahan. Wajahmu tidak pernah berubah, selalu memesona setiap waktu. Perlahan kau menghampiriku dan tersenyum lembut.

"Hai, Fir. Apa kabar?" sapamu.

"B-baik, gimana kabarmu?" Ada rasa canggung setelah lama tidak bertemu.

"Baik ...." Sepersekian detik kita membeku, terjebak dengan pikiran yang tak menentu.

"E ..., kenalin ini Andin."

Dari belakangmu muncul sosok mungil berparas manis mengenakan gaun biru muda serasi denganmu.

"Andin."

Wanita itu tersenyum dan mengulurkan tangan.

"Fira," balasku singkat.

"Dia tunanganku, kami akan menikah akhir tahun ini."

Andin memeluk erat lenganmu, memperlihatkan cincin emas yang melingkar di jari manisnya.

"Kamu harus datang ya," katamu lagi.

Aku mengangguk lemah meski hati terluka.

---

Menjelang akhir tahun, sebuah panggilan masuk dari salah satu teman. Dia bilang kau meninggal karena kecelakaan tunggal.

Bohong! Itu tidak benar, kan?

Kau bilang akhir tahun ini akan menikah, mengapa malah pergi dengan tiba-tiba?

Apakah Tuhan sedang bercanda?

Lebih baik aku yang terluka melihatmu bahagia bersamanya daripada menyaksikan tubuhmu kaku tak bernyawa.

Lebih baik melihatmu naik pelaminan daripada dibungkus kain kafan.

Seandainya waktu dapat kuputar kembali, jauh sebelum kau bersama Andin. Saat pertama kita bertemu di taman kampus, saat kau menawarkan payung di hari hujan dan saat-saat menyenangkan yang kita lalui bersama. Seandainya waktu itu kembali, aku ingin mengatakan bahwa aku selalu mencintaimu.

Tamat

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Sepenggal Rasa Yang Tertinggal
Areta Swara
Novel
Ini Negeriku
R Fauzia
Cerpen
Bronze
Putri Penenun Bintang
Kemal Ahmed
Novel
Bronze
Unperfect Marriage
Elisabet Erlias Purba
Novel
Kita & Saling Part 2
Aneke Putri
Novel
Bronze
Janji palsu ayah anakku
Suci maisarah
Flash
Bronze
Hal yang melegakan di hari yang berat
AlifatulM
Flash
Boneka Beruang
BANYUBIRU
Novel
Tergapaikah?
Aditya Maulana Yusuf
Novel
Bronze
Cinta Dua Hati "Novel"
Herman Siem
Novel
Aku Anak Nakal?
Firmansyah Slamet
Skrip Film
KISAH ALIF
Nafika Riyanti
Cerpen
Jangan malu, Putri!
Raja Alam Semesta
Cerpen
Bronze
Ia yang Selalu Membayangkan Kematian
Dedy Tri Riyadi
Novel
Vengeance
Ria Rahmawati
Rekomendasi
Flash
Sepenggal Rasa Yang Tertinggal
Areta Swara
Flash
BAPAK
Areta Swara
Flash
PULANG
Areta Swara
Flash
Sepenggal Doa di Ujung Malam
Areta Swara
Cerpen
SENJA SEMERAH DARAH
Areta Swara
Cerpen
Takdir Cinta
Areta Swara
Flash
Manusia Kera
Areta Swara