Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Romantis
Lagu Kesukaanmu
5
Suka
28,711
Dibaca

"Gimana? Masakanku enak nggak rasanya?"

"Seperti biasa. Selalu enak."

Sang istri terdiam beberapa saat dan terus memandang wajah suaminya yang sedang lahap menikmati sarapan sederhana sebelum kerja.

"Kamu nggak makan?" tanya sang suami ketika tatapan mereka bertemu pandang.

"Nanti aja. Nunggu Mas berangkat. Kalau aku juga makan nanti aku nggak konsen, deh."

"Eh ... nggak konsen apa? Emangnya kamu lagi ngapain?"

Terdengar tawa kecil dari keduanya. Sang istri tetap tidak menjawab. Sementara si suami pun lupa bertanya ulang.

"Ya sudah. Aku berangkat dulu, ya." Sang suami menenggak teh manis hangat yang tinggal setengah. Kemudian ia langsung menyangklong tas kerjanya. Sang istri menyertai hingga pintu depan.

"Hati-hati, ya Mas."

"Iya. Kamu juga hati-hati di rumah. Jangan lupa matiin setrikaan, kompor, atau apapun kalau mau ditinggal," pesan sang suami sambil mengulurkan tangan kanannya yang segera disambut dengan kecupan hangat sang istri.

"Hati-hati, ya, Mas."

"Iya, kamu mau bilang berapa kali?" Lelaki itu tertawa lagi.

"Beneran, lho, hati-hati."

Sang suami geleng-geleng kepala. Ia lekas mengecup kening sang istri.

"Oh iya, earphone-ku mana, ya?" Sang suami merogoh-rogoh saku tas. Terus mencari hingga ketemu.

"Duh, nggak usah pake gituan ah. Ngapain, sih, Mas?"

"Kamu tuh nggak ngerti gimana bosennya di dalam kereta. Cuma benda itu yang bisa nemenin aku. Sambil denger lagu kesukaanmu."

Wajah sang istri bersemu merah, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan kegusarannya. "Udah, lah, Mas. Berangkat aja. Nggak usah pakai earphone hari ini. Ya, please!"

"Ketemu!!!" Sang suami mengangkat tinggi-tinggi benda itu. Lalu memasangnya di telinga.

"Dah ya, aku berangkat. Kamu mau dibawain apa?"

"Hati-hati," tegas sang istri tanpa memedulikan pertanyaan suami.

"Ya sudah. Bye."

Sang istri memandangi suaminya sampai menghilang di ujung jalan.

Entah kenapa aku ingin menangis. Rasanya ingin sekali aku memandangi wajahnya terus-menerus. Seperti saat di meja makan tadi.

***

Terdengar peluit panjang commuterline tujuan Tanah Abang. Para penumpang berlarian menyerbu kereta. Jauh dari situ, seorang lelaki justru bersepeda motor santai dan bernyanyi pelan di persimpangan perlintasan pintu kereta. Namun jelas sekali lagu yang didengarnya di telinga itu jauh dari kata pelan. Lelaki itu menyeberangi rel untuk mempersingkat waktu. Tanpa tengok kanan-kiri. Padahal jelas sekali dilarang, palang pintu pun sudah setengah jalan. Orang lain yang melihat berusaha berteriak sekencang mungkin.

Sayang.

Lelaki itu tak dengar. Hanya lagu kesayangan istrinya yang ia dengar.

Kemudian, ia tak dengar apa-apa lagi.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (2)
Rekomendasi dari Romantis
Skrip Film
A Deal with The Devil
Agung Pangestu
Flash
Lagu Kesukaanmu
Pikadita
Novel
Gold
Pelik
Bentang Pustaka
Flash
IBU, AKU DAN DIA
Hans Wysiwyg
Novel
RAMAYANI
RISFASA
Novel
Bronze
SINYO MARCO
Gie_aja
Skrip Film
Cinta dalam Doa
Leni Juliany
Flash
Bronze
Pangeran di Halte Tua
Sulistiyo Suparno
Novel
Gold
Reverse
Falcon Publishing
Novel
Tempat Mak Berpindah
Nova Yarnis
Flash
Gravitasi
lidia afrianti
Novel
REDIN
Salwa Shofiyatud Daliyah
Novel
Newsroom
Dwi Tirtowinoto
Skrip Film
Tawanan 13 Tahun
Delpiariska
Skrip Film
Lamun
Layaprilese
Rekomendasi
Flash
Lagu Kesukaanmu
Pikadita
Flash
Cerita Pendek Tentang Toko Kue
Pikadita
Flash
Aquarium
Pikadita
Flash
Gerbong Nomor Tiga
Pikadita
Novel
Lost In You
Pikadita
Flash
Me Time
Pikadita
Novel
Semata Wayang
Pikadita