Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Putra
13
Suka
28,173
Dibaca

Saya menamainya "Putra". Kerdip kilau matanya baru bisa terbuka di usianya yang ketiga, ketika ia menghirup udara dunia. Kulit bersihnya seperti pualam yang digosok saban malam, bersanding dengan rambut ikal berkelok tipis laksana kapas.

Ini saya dengan perut membuncit, tengah menunggu persalinan sang buah hati di kurun yang sama. Jangan tanya kenapa saya ada di sini.

Mila si ibu, bertubuh tinggi semampai, kulit putih bersih, dengan rambut panjang bergelombang seperti ombak Pantai Penganak. Begitu kentara bercahaya, dibanding penghuni panti yang lain. Yang sama hanya nasibnya di antara sekian puluh perempuan di panti ini.

Ia turun dari taksi diantar sopir, yang tak sanggup ia bayar meski serupiah.

Sopir bilang, perempuan ini tak sanggup bayar biaya melahirkan di sebuah klinik bersalin. Maka dihantarkannya kemari, dengan selembar surat di tangan, yang menyatakan dirinya satu dari sekian penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kota Jakarta. Di sinilah ia kini, di gedung panti sosial berlantai dua milik Pemprov DKI Jakarta.

Mila berusia dua puluh satu tahun saat itu. Nasib membawanya dari Bangka ke Jakarta, dalam kondisi berbadan dua. Putra lahir, tanpa mengenal ayah. Begitupun si ibu, yang tak pernah memiliki buku nikah dari lelaki yang dipujanya. Ia mencari ayah anaknya yang katanya politisi partai besar tanah air, yang sempat mengantarkannya hingga masuk klinik bersalin mentereng di Menteng, namun tak kelihatan lagi batang hidungnya.

Hingga kemudian Putra dan ibunya menghuni panti sosial, sampai usia si bayi genap dua bulan. Sudah cukup waktunya untuk diputuskan, apakah bayi itu akan sanggup dipelihara ibunya atau dititip di panti saja.

Di panti sosial tempat kami memasak di dapur yang sama, masih banyak Putra-Putra yang lain. Menunggu hingga usia dua bulan, menunggu disapih dari peluk dan hangatnya air susu ibu. Hingga

nasib memutuskan, akan dipelihara ibu dan keluarganya atau tinggal di panti bersama teman-temannya yang lainnya. Menunggu nasib waktu.

Putra si bayi berkulit pualam, usianya mungkin sudah delapan belas tahun saat ini, ketika waktu terus berjalan dan saya sudah tak lagi ada di sana. Entah apakah ia sudah berada di tangan ibunya lagi, atau terpaksa dititip di panti asuhan, hingga nasib membawanya entah kemana.

Hingga detik saya menulis kisah ini, saya tak pernah bertemu Mila lagi. Apalagi bertemu seorang anak lelaki tampan, yang saya beri nama "Putra". Semoga nasib baik berpihak padanya, juga pada mereka semua penghuni di sana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Gold
Words in Deep Blue
Noura Publishing
Novel
Bronze
Dua Sisi
Amalia Dwiyanti
Novel
Angkat Tangan yang Lajang
moris avisena
Novel
Carsiva School's Moments
Annurul Hasan
Novel
CINTAKU BERSEMI SAAT VIRUS CORONA MELANDA
Irma Fransisca Rumondor
Novel
Cinta Tak Bertepi
Niken Sari
Novel
Bronze
Baling Kipas Angin Yang Berputar
Lady Mia Hasneni
Novel
ANGIN DARAT ANGIN LAUT
Maximillian Masehi
Novel
Gold
Pangeran Kelas
Coconut Books
Novel
My Dignity
Retno Dinartini Rahayu
Novel
Bronze
Menggapai Mimpi di Tengah Keterbatasan
E. Precious
Flash
Putra
Foggy FF
Flash
Pangestri, Sebuah Anak Panah Dari Raga Yang Menari
Foggy FF
Flash
Bronze
Kala Sains Sebatas Pratikum Politik Jilid 2
Silvarani
Novel
Gold
Big Magic
Bentang Pustaka
Rekomendasi
Flash
Pangestri, Sebuah Anak Panah Dari Raga Yang Menari
Foggy FF
Flash
Putra
Foggy FF
Flash
Laju Lari
Foggy FF
Flash
Kapan-Kapan Kita Foto Berlatar Biru
Foggy FF
Cerpen
Hati
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Milo dan Silo
Foggy FF
Novel
Bhanuresmi
Foggy FF
Flash
Seuncang Beras
Foggy FF
Cerpen
The Legacy
Foggy FF
Flash
Aku, Dirimu, dan Palung Mariana
Foggy FF
Flash
Rohaya dan Secangkir Sidikalang
Foggy FF
Novel
Bronze
Sulur Waktu
Foggy FF
Flash
Merindu di Safarwadi
Foggy FF
Cerpen
Ohrwurm
Foggy FF
Flash
Aku Akan Menemuimu di Senja yang Sama
Foggy FF