Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Putra
13
Suka
39,018
Dibaca

Saya menamainya "Putra". Kerdip kilau matanya baru bisa terbuka di usianya yang ketiga, ketika ia menghirup udara dunia. Kulit bersihnya seperti pualam yang digosok saban malam, bersanding dengan rambut ikal berkelok tipis laksana kapas.

Ini saya dengan perut membuncit, tengah menunggu persalinan sang buah hati di kurun yang sama. Jangan tanya kenapa saya ada di sini.

Mila si ibu, bertubuh tinggi semampai, kulit putih bersih, dengan rambut panjang bergelombang seperti ombak Pantai Penganak. Begitu kentara bercahaya, dibanding penghuni panti yang lain. Yang sama hanya nasibnya di antara sekian puluh perempuan di panti ini.

Ia turun dari taksi diantar sopir, yang tak sanggup ia bayar meski serupiah.

Sopir bilang, perempuan ini tak sanggup bayar biaya melahirkan di sebuah klinik bersalin. Maka dihantarkannya kemari, dengan selembar surat di tangan, yang menyatakan dirinya satu dari sekian penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kota Jakarta. Di sinilah ia kini, di gedung panti sosial berlantai dua milik Pemprov DKI Jakarta.

Mila berusia dua puluh satu tahun saat itu. Nasib membawanya dari Bangka ke Jakarta, dalam kondisi berbadan dua. Putra lahir, tanpa mengenal ayah. Begitupun si ibu, yang tak pernah memiliki buku nikah dari lelaki yang dipujanya. Ia mencari ayah anaknya yang katanya politisi partai besar tanah air, yang sempat mengantarkannya hingga masuk klinik bersalin mentereng di Menteng, namun tak kelihatan lagi batang hidungnya.

Hingga kemudian Putra dan ibunya menghuni panti sosial, sampai usia si bayi genap dua bulan. Sudah cukup waktunya untuk diputuskan, apakah bayi itu akan sanggup dipelihara ibunya atau dititip di panti saja.

Di panti sosial tempat kami memasak di dapur yang sama, masih banyak Putra-Putra yang lain. Menunggu hingga usia dua bulan, menunggu disapih dari peluk dan hangatnya air susu ibu. Hingga

nasib memutuskan, akan dipelihara ibu dan keluarganya atau tinggal di panti bersama teman-temannya yang lainnya. Menunggu nasib waktu.

Putra si bayi berkulit pualam, usianya mungkin sudah delapan belas tahun saat ini, ketika waktu terus berjalan dan saya sudah tak lagi ada di sana. Entah apakah ia sudah berada di tangan ibunya lagi, atau terpaksa dititip di panti asuhan, hingga nasib membawanya entah kemana.

Hingga detik saya menulis kisah ini, saya tak pernah bertemu Mila lagi. Apalagi bertemu seorang anak lelaki tampan, yang saya beri nama "Putra". Semoga nasib baik berpihak padanya, juga pada mereka semua penghuni di sana.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Bolehkah Aku Menciummu Sedetik Saja?
M Fadly Hasibuan
Skrip Film
Cinta Kasih
Novia Br Sipakkar
Flash
Putra
Foggy FF
Flash
Aku Tidak Berniat Kembali ke Masa Lalu
awod
Cerpen
Bronze
langkah di atas bintang
susi purwaningsih
Novel
Senandika
Salsabila Octavia Ismail
Novel
Kegabutan Yang HQQ
Nycha_
Flash
Dusta
Rifatia
Flash
Ketika Doa Tak Mengubah Takdir
tita agnesti
Flash
Bronze
Europe Trip bersamamu dan Keluarga Kecilmu
Silvarani
Cerpen
Negri Sonooharu
Tourtaleslights
Cerpen
Bronze
Orang-Orang Yang Dibuang
Rere Valencia
Novel
Reaching For The Star
Dian hastarina
Novel
Bronze
Money Baby
Naomi Saddhadhika
Novel
MATAHARI DAN REMBULAN
Rosidawati
Rekomendasi
Flash
Putra
Foggy FF
Cerpen
Bronze
Save the Last Dance
Foggy FF
Novel
Proyek Buku Besar
Foggy FF
Flash
Rohaya dan Secangkir Sidikalang
Foggy FF
Flash
Kapan-Kapan Kita Foto Berlatar Biru
Foggy FF
Flash
Aku Akan Menemuimu di Senja yang Sama
Foggy FF
Flash
Merindu di Safarwadi
Foggy FF
Flash
Seuncang Beras
Foggy FF
Flash
Pangestri, Sebuah Anak Panah Dari Raga Yang Menari
Foggy FF
Novel
Bronze
Sulur Waktu
Foggy FF
Cerpen
Hati
Foggy FF
Cerpen
KETIKA KEMATIAN MENGEDIPKAN SEBELAH MATANYA.
Foggy FF
Novel
Bhanuresmi
Foggy FF
Flash
Mendedah Mimpi Warhol
Foggy FF
Cerpen
Namaku Luka
Foggy FF