Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Pergumulan Pohon Cemara
0
Suka
7,379
Dibaca

Pergumulan Pohon Cemara

Manusia, makhluk biadab. 

Setiap tahun, mereka memantik kehangatan dengan batang kami. 

Kami bukanlah pendosa, kami hanya penjejak tanah. Sama seperti mereka, tuan kami sama. 

Entah mengapa, tuan memberi mereka kaki. Supaya mereka bisa melangkah membantu kami, katanya. 

Tapi nyatanya, kaki mereka menginjak kami yang telentang di bawah. 

Seakan kami adalah barang sial, kami ditebang sembarang. Katanya untuk natal. 

Entah apa hubungannya pohon cemara dengan hari raya itu. 

Tapi jika aku manusia, tidak sedikit pun aku tertarik masuk golongan itu. 

Ribuan pohon, teman-temanku, dijejal bak budak. 

Kami dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip persis seperti mendandani dara belian. 

Kami indah, tapi kami tidak hidup. Seolah menghias mayat pengantin mereka lukis kami. 

Padahal hari rayanya, tidak apa-apa jika tidak ada kami. Tapi mengapa, selalu kami diburu? 

Kami tak ada bedanya dengan bunga-bungaan. 

Kami disangka pohon-pohonan. Tapi kami pohon sungguhan. 

Betapa kami berharap yang menjual kami orang-orangan, yang sedang main tuhan-tuhanan, untuk natal-natalan. Semuanya penuh kemunafikan. 

Aku muak. Uang bisa membeli kebahagiaan, tapi bukan kebahagiaan kami. Uang, juga dari kertas. Kertas dari pohon, pohon teman kami. Apalah arti uang jika hidup kami dirampas demi kebahagiaan fana? 

Betapa suram nasib tanaman. Kenapa tuan beri kaki ke yang lebih tidak butuh ketimbang kami yang sangat butuh? 

Kami butuh kaki buat lari tuan! 

Janganlah pilih kasih! 

Kami beri mereka napas. Mereka ambil napas itu dan memantik api. Mereka menukar napas kami dengan api. 

Sungguh biadab! 

Oh tuan, tolong lepaskan kami dari tangan manusia. 

Kami hanya ingin hidup, apakah sebegitu murahnya hidup kami? 

Hidupku penuh kemelut. Di tengah-tengah kegelapan, 

Aku menyaksikan langit penuh bintang. 

Aku berharap, 

Kaki dan tangan itu jadi punya kami. 

Dan manusia hanya ditinggalkan mulut saja. 

Supaya ketika aku perbuat apa yang mereka perbuat kepadaku, 

Aku bisa mendengarkan jeritan mereka. 

Sampai batas waktu telah dicapai. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Pergumulan Pohon Cemara
Astromancer
Skrip Film
Life is different
Anes poetri
Novel
Gold
Beasiswa di Telapak Kaki Ibu
Mizan Publishing
Novel
Gold
Hanya dengan Mengingat-Mu, Aku Tenang
Mizan Publishing
Skrip Film
nothing is different
Anes poetri
Novel
Gold
Siapa Sebenarnya Markesot?
Bentang Pustaka
Novel
Jilbab (Love) Story
Redy Kuswanto
Novel
Gold
Love & Happiness
Mizan Publishing
Novel
Gold
Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat
Mizan Publishing
Novel
Bronze
My Husband Not Only Handsome
manna wassalwa
Novel
Gold
No More Broken Heart
Mizan Publishing
Novel
MENCARI SURGA
memia
Flash
Doa Pedagang Sepatu
Sulistiyo Suparno
Novel
Bronze
Sebuah Pengabdian
Anggrek Handayani
Cerpen
Bronze
History of A City
DMRamdhan
Rekomendasi
Flash
Pergumulan Pohon Cemara
Astromancer
Cerpen
Bronze
Sedan Lebaran
Astromancer
Cerpen
Bronze
Mesin Tik Tua
Astromancer
Cerpen
Panjang Umur Perjuangan
Astromancer
Cerpen
Manusia Bermain Tuhan
Astromancer
Novel
Bronze
Gelombang°°
Astromancer
Skrip Film
-Gelombang-
Astromancer
Flash
Selamat Natal
Astromancer
Cerpen
Bronze
Stranger's Jacket
Astromancer
Cerpen
Cewek itu Gula
Astromancer
Cerpen
Lebih dari Seragam
Astromancer
Novel
Bronze
Sampah dan Bertuah
Astromancer
Flash
Tabula Rasa
Astromancer
Cerpen
Masak-masakan
Astromancer
Cerpen
Tiwah
Astromancer