Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Pergumulan Pohon Cemara
0
Suka
9,607
Dibaca

Pergumulan Pohon Cemara

Manusia, makhluk biadab. 

Setiap tahun, mereka memantik kehangatan dengan batang kami. 

Kami bukanlah pendosa, kami hanya penjejak tanah. Sama seperti mereka, tuan kami sama. 

Entah mengapa, tuan memberi mereka kaki. Supaya mereka bisa melangkah membantu kami, katanya. 

Tapi nyatanya, kaki mereka menginjak kami yang telentang di bawah. 

Seakan kami adalah barang sial, kami ditebang sembarang. Katanya untuk natal. 

Entah apa hubungannya pohon cemara dengan hari raya itu. 

Tapi jika aku manusia, tidak sedikit pun aku tertarik masuk golongan itu. 

Ribuan pohon, teman-temanku, dijejal bak budak. 

Kami dihiasi lampu-lampu kerlap-kerlip persis seperti mendandani dara belian. 

Kami indah, tapi kami tidak hidup. Seolah menghias mayat pengantin mereka lukis kami. 

Padahal hari rayanya, tidak apa-apa jika tidak ada kami. Tapi mengapa, selalu kami diburu? 

Kami tak ada bedanya dengan bunga-bungaan. 

Kami disangka pohon-pohonan. Tapi kami pohon sungguhan. 

Betapa kami berharap yang menjual kami orang-orangan, yang sedang main tuhan-tuhanan, untuk natal-natalan. Semuanya penuh kemunafikan. 

Aku muak. Uang bisa membeli kebahagiaan, tapi bukan kebahagiaan kami. Uang, juga dari kertas. Kertas dari pohon, pohon teman kami. Apalah arti uang jika hidup kami dirampas demi kebahagiaan fana? 

Betapa suram nasib tanaman. Kenapa tuan beri kaki ke yang lebih tidak butuh ketimbang kami yang sangat butuh? 

Kami butuh kaki buat lari tuan! 

Janganlah pilih kasih! 

Kami beri mereka napas. Mereka ambil napas itu dan memantik api. Mereka menukar napas kami dengan api. 

Sungguh biadab! 

Oh tuan, tolong lepaskan kami dari tangan manusia. 

Kami hanya ingin hidup, apakah sebegitu murahnya hidup kami? 

Hidupku penuh kemelut. Di tengah-tengah kegelapan, 

Aku menyaksikan langit penuh bintang. 

Aku berharap, 

Kaki dan tangan itu jadi punya kami. 

Dan manusia hanya ditinggalkan mulut saja. 

Supaya ketika aku perbuat apa yang mereka perbuat kepadaku, 

Aku bisa mendengarkan jeritan mereka. 

Sampai batas waktu telah dicapai. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Pergumulan Pohon Cemara
Astromancer
Novel
Gold
Dan Muhammad adalah Utusan Allah
Noura Publishing
Novel
I'm The Motivator
Azza Aprisaufa
Novel
Bronze
Panitia Surga
Alifah Azizah
Novel
Gold
Jihad Julia
Mizan Publishing
Novel
Gold
Bisnis ala Nabi: Teladan Rasulullah Saw. dalam Berbisnis
Bentang Pustaka
Novel
ශුභාරංචිය
roma dhon
Novel
Bronze
Hanya karena Aku Wanita: Tak Berhakkah Aku Punya Cita-Cita?
lina sellin
Novel
Gold
Makelar Rezeki
Mizan Publishing
Flash
Bronze
Zigot Maryam
Silvarani
Flash
Bronze
Aku Dan Ramadhan
silvi budiyanti
Novel
Bukan Insan yang Baik
Wafiqah
Novel
A Bad Girl Who Wanna Be Khadijah
Iis Y. Mutia
Novel
Langit di balik jendela
dimas Pratama
Novel
Bronze
Butiran Tasbih Arini
Diyah Ayu NH
Rekomendasi
Flash
Pergumulan Pohon Cemara
Astromancer
Skrip Film
-Gelombang-
Astromancer
Cerpen
Celana Pensil
Astromancer
Flash
Selamat Natal
Astromancer
Cerpen
Panjang Umur Perjuangan
Astromancer
Novel
Bronze
Gelombang°°
Astromancer
Cerpen
Bronze
Stranger's Jacket
Astromancer
Cerpen
Masak-masakan
Astromancer
Cerpen
Senggol Tonjok
Astromancer
Cerpen
Lebih dari Seragam
Astromancer
Cerpen
Tiwah
Astromancer
Novel
Bronze
Sampah dan Bertuah
Astromancer
Novel
Ranuh: The Island of Beast
Astromancer
Cerpen
Bronze
Mesin Tik Tua
Astromancer
Cerpen
Bronze
Sedan Lebaran
Astromancer