Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Aksi
Aksara Puisi
3
Suka
11,953
Dibaca

Suara piano dan langkah kaki itu terdengar menyiksa didalam pendengaranku, tak heran? Karena malam yang semakin mencekam. Ku dongakkan kepalaku seraya berlutut sambil berdo'a agar aku senantiasa selamat dari marabahaya. Lantunan do'a itu semakin menggema seiring langkah kaki itu semakin mendekat di telinga. Ku lafadzkan lagi do'a-do'a yang telah ku hafalkan. Namun, tak kunjung usai semua pendengaran. Ku coba tuk hilangkan rasa cemas itu seraya menggulirkan tasbih bacaanku, sambil berucap ku meminta pada Tuhan agar ambil saja nyawaku dulu sebelum rasa sakit itu memukulku, tak kuasa menahan rasa takut ku coba tuk mendekati letak suara itu. Namun, tanpa kusadari suara itu berasal dari arah kamar mandi lantai satu.

Namun ku tak peduli, lantas langkah kaki membawa diriku menuju ke depan pintu kamar mandi itu berada. Tak lupa ku ketuk pintu itu seraya memanggil nama nama yang sudah aku ingat diluar kepala. Namun, jawaban tak kunjung terlontarkan melainkan suara itu semakin menakutkan seiring dengan berembunnya air mata. Jelas Aku takut, karena kakakku berada di lantai dua kamarnya sedangkan, kamar mandi yang aku pikir tempat berlindungnya mahluk astral itu ada di lantai satu. Aku coba menyakinkan diri, agar pikiran buruk itu tersingkirkan dalam pikiran ini. Sesuai kenyataan.... Kamar mandi itupun kini telah terbuka lebar seusai dengan pengajian yang telah aku lafadzkan.

Dengan berlinangan air mata aku ucapkan terima kasih pada Tuhan, karena telah memberikan kepercayaan atas hamba yang berlumuran dosa. Lantas kenikmatan mana lagi yang kau dustakan wahai hamba. Rasa kesal mana lagi yang kau panjatkan wahai hamba? Sudah cukup melodi piano yang mengalun merdu itu terucap dengan syair yang begitu nikmat. Bukankah engkau yang memutuskan untuk terlahir di dunia bahkan sudah diperlihatkan segalanya dengan matang oleh penjaga suci nan mulia, lantas mengapa kau memilih jalur pergi dengan seenaknya, bukankah kau sudah tau kalau pergi tanpa pamit itu lebih menyiksa daripada pergi tanpa kenangan yang lara. Sesungguhnya letak kaki itu adalah letak dari perjalananmu bukan hanya langkah kaki yang tidak ada ujungnya, sudahlah..... Tidak usah berbelit-belit terima dan syukuri saja alur cerita yang sudah kau jalani.

Halo halo halo salam kenal semuanya mulai hari ini kita akan jadi teman ya, salam kenal semuanya yang udah hadir di cerita puisi aksara ini, mari kita bantu yuk ramaikan ceritaku, insya Allah aku bakalan terusin ceritaku sampai kalian mau membacanya semoga ceritanya ini bermanfaat bagi semuanya atau puisi ini bermanfaat bagi semuanya kalaupun kalian nggak mau ya nggak papa wis. Intinya kalau kalian suka kalian like atau kalau bisa mampir di akunku yah 😊 dan terima kasih semuanya semoga kalian betah yah 😊🤗

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Aksi
Flash
Aksara Puisi
Ainun Zakiyah
Flash
Bronze
Merah Putihku
Andri wananda
Flash
Bronze
Orca
Faisal Susandi
Flash
Bronze
test2
John Doe1
Flash
Wizard Monk
Arba Sono
Cerpen
Bronze
PENGUASA PARA DEWA: [Prequel] Kronik Kejam Break. Mengapa Menciptakan Jalur Elite, Rencana Kejam David Memanen Dunia Ilusi? Wajib Baca!
Sky Eyes
Cerpen
Bronze
TERSESAT DI IPOH
glowedy
Cerpen
Bronze
JAWAB NURANI
Alif Lambang
Flash
Kamar 13
Wulan Ews
Flash
Bronze
Desa Naga Logam
Silvarani
Cerpen
Bronze
KOMISARIS TAMBANG, PULANG PETANG
Ayub Wahyudin
Novel
VLINDER
Yohanna Claude
Cerpen
Bronze
Earth's Defenders, Pasukan Penjaga Bumi
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Kuroda Keadilan
Iman Ali Janovit
Novel
Gerbang awal
Moch Agni Nuryahya
Rekomendasi
Flash
Aksara Puisi
Ainun Zakiyah
Novel
Puisi dari army untuk army
Ainun Zakiyah
Novel
Perjalanan seonggok bulan bersama bayangannya
Ainun Zakiyah