Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
Wisnu terus mengetuk-ngetuk setir kemudi mobilnya dengan gelisah. Tak terhitung berapa kali dirinya melirik jam tangan. Sudah lebih dari setengah jam, istri dan dua anaknya masih saja belum keluar dari rumah mertuanya. Apa mereka bertiga begitu sulit berpisah dan mengucapkan selamat tinggal setiap pulang lebaran? Apa susahnya segera pamit pulang tanpa harus ada drama tangis-tangisan dulu?
Tak sabar menunggu lebih lama lagi, Wisnu akhirnya membunyikan klakson beberapa kali sebagai peringatan agar istri dan dua anaknya itu bisa secepatnya keluar. Sebagai suami, Wisnu tahu kalau Nindy, istrinya memang anak semata wayang orang tuanya. Pasti berat jika harus berpisah setelah sekian lama tak bertemu. Dan putra dan putrinya yang masih kecil, mungkin masih ingin bersama lebih lama dengan Kakek dan Nenek.
Tapi, sekarang sudah waktunya kembali pulang ke rumah. Sudah lebih satu minggu menghabiskan libur lebaran di kampung mertua, Wisnu ingin segera balik ke kota, menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor yang sebelumnya sempat tertunda. Kalau masih cuti lebih lama, bisa gawat nih.
Bisa-bisa nanti kena peringatan atau lebih parah nanti bisa dipecat. Pasti ia akan lebih direndahkan mertuanya, jadi bahan hinaan sepanjang hari dan makian setiap waktu kalau jadi pengangguran. Sebagai pegawai swasta, ia terus disindir dengan gaji pas-pasan yang kurang menjamin masa depan istri dan dua anaknya. Bagaimana kalau nanti keluarganya disuruh tinggal di kampung?
Wisnu kembali menekan klakson beberapa kali. Berbagai hal buruk itu, terus mengusik pikirannya. Ia tak bisa tinggal lebih lama lagi di kampung ini. Cukup sudah seminggu yang berat dan penuh kepura-puraan. Cukup sudah segala hinaan dan sindiran yang menyakitkan itu.
Sudah lebih dari lima tahun jadi menantu mereka, tapi tetap saja sikap mertuanya itu tak pernah berubah. Selalu saja membandingkan dengan para lelaki yang pernah mendekati dan hampir melamar Nindy. Konon katanya sih jauh lebih kaya raya, lebih gagah, punya jabatan dan gaji tinggi, juga dari keluarga terpandang makmur sentosa.
Wisnu tersenyum tipis memikirkan semua itu. Mau gimanapun juga, pada akhirnya Nindy telah menentukan dengan yakin, tanpa keraguan dan tanpa paksaaan sama sekali memilih Wisnu yang baik, perhatian, dan lucu sebagai suaminya. Kalau mertuanya masih berusaha menyindir dan membandingkan menantu mereka dengan lelaki manapun yang katanya jauh lebih baik. Semua sudah terlambat dan tak akan ada gunanya.
Kembali membunyikan klakson kesekian kalinya, Wisnu semakin tak sabar untuk segera pulang. Tak ingin lagi menunjukkan wajah dan bertemu mertuanya yang sangat menyebalkan itu. Waktu seminggu libur ini di sini terasa begitu lama.
Tak lama, istri dan dua anaknya akhirnya keluar rumah juga. Wisnu melirik kesal saat mendengar suara pintu mobil dibanting. Tak ada kata yang terucap, Wisnu langsung tancap gas melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan terasa sepi dan tenang. Tak ada sedikit pun kata yang terucap. Wisnu terus fokus mengemudi. Ia masih sebal dengan sikap istri dan dua anaknya yang terus ingin berlama-lama di rumah mertuanya hingga memperlambat waktu akan pulang. Mungkin, mereka semua tak ada yang mau mengerti gimana perasaanya sebagai kepala keluarga yang terus direndahkan dan diremehkan oleh mertua sendiri selama bertahun-tahun.
“Hmmm, nanti siang kita mau makan di mana?” tanya Wisnu memecah keheningan. Berlama-lama tak saling sapa, tak akan baik juga kalau nanti sampai di rumah.
Tak terdengar jawaban apa pun.
Seketika Wisnu merasa bersalah dan tak nyaman dengan keheningan di dalam mobil. Situasi terasa canggung dan berbeda dari biasanya.
“Tak ada yang mau usul rumah makan atau warung sekitar daerah sini yang paling enak?”
Masih belum ada jawaban.
Wisnu merasa semakin tak tenang. Biasanya sang istri sudah sibuk mencari-cari rekomendasi rumah makan favorit di ponselnya, dan dua anaknya sudah ribut mau makan apa. Tapi sekarang, kenapa mereka semua hanya diam? Apa mereka semua benar-benar marah dengan sikapnya yang tak sabar menunggu dan terus membunyikan klakson mobil biar segera pulang?
“Ya sudah. Maafkan Papa ya,” ucap Wisnu merasa bersalah. “Tadi kalian lama sekali pamit pulangnya, jadinya Papa bunyikan klakson biar kita bisa cepat pulang. Sekali lagi maaf ya.”
Masih belum ada jawaban juga.
Keheningan semakin membuat Wisnu tak nyaman. Mungkin berhenti di minimarket lalu membeli cemilan atau es krim akan membuat istri dan dua anaknya tak marah lagi.
Wisnu segera menepikan mobilnya di suatu minimarket terdekat.
“Gimana kita jajan atau beli es krim dulu di sini?” tanya Wisnu saat menoleh ke belakang.
Namun, betapa terkejutnya Wisnu saat melihat kursi belakang mobilnya kosong. Kemana istri dan dua anaknya?
Segera mencari ponsel di dalam tas dan ternyata ponselnya mati. Wisnu bergegas ke luar mobil dan pinjam cas ponsel di minimarket.
Setelah beberapa menit mengisi baterai ponselnya, ternyata ada puluhan miscall dan pesan yang belum terbaca dari istri dan mertuanya yang mengabarkan kalau mereka sejak tadi masih tertinggal di rumah mertuanya.
Saat menerima telpon, Wisnu pasrah mendengar semua luapan emosi istrinya. Mau tak mau, ia terpaksa harus putar balik lagi ke rumah mertuanya lagi untuk menjemput istri dan dua anaknya. Tak terbayang seperti apa sindiran dan komentar pedas sang mertua dengan kejadian seperti ini.