Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
MANTAN PER*K
3
Suka
28,388
Dibaca

“Rusli!” teriak ayah memanggilku.

Aku menarik napasku kesal. Ayah selalu bersikap seperti ini padaku. Aku beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati ayah yang berada di ruang tamu. Duduk bersebelahan dengan perempuan muda yang terpaksa kupanggil dengan sebutan mamah.

“Duduklah!” ucap ayah dengan wajah kemarahan.

“Ada apa ayah?” tanyaku setelah aku duduk berhadapan dengan ayah.

“Mengapa kamu berani membantah ibumu Rusli!”

Perempuan muda itu menggeleng panik.

“Sudahlah mas, mungkin Rusli sedang banyak pikiran,” perempuan muda itu menenangkan.

Aku memutarkan kedua bola mataku. Rasanya aku sangat enggan membicarakan hal ini. Berkali-kali ayah memarahiku dengan sebab yang sama.

“Aku sudah besar,” jawabku singkat.

“Kamu tidak menghormati ibumu Rusli!” wajah ayah semakin memerah.

“Dia bukan ibuku! Dia seorang perek!”

Ayah terperanjat dan mengerutkan dahinya. “Kamu lancang Rusli!” tangan ayah hendak menamparku.

“Sudah mas. Sudah. Aku sudah melupakan semuanya,” seru perempuan muda itu sembari menahan lengan ayah.

Aku kembali menarik napas kesalku. Aku merasa perempuan muda itu selalu mengadu hal yang tidak perlu diadukan kepada ayah.

“Dia tak pantas kupanggil ibu!” aku menoleh, menyapukan pandanganku pada penampilan perempuan muda itu.

Rani, perempuan muda yang ayah nikahi secara sembunyi-sembunyi tiga tahun yang lalu saat ibu masih hidup tak pantas kupanggil seorang ibu. Berok pendek dengan kaus tanktop, biasa dia gunakan sehari-hari membuatku risih. Usia dia sepantaran denganku. Bahkan lebih muda dua tahun dariku. Aku tak pernah habis pikir, mengapa ayah sangat menyayangi bahkan mengawini perempuan muda itu.

“Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia menggoda lelaki hidung belang di terminal sana ayah!”

“Cukup Rusli!” ayah menamparku.

Aku mematung beberapa saat setelah ayah menampar wajahku dengan begitu keras. Lalu aku melangkahkan kaki dengan cepat masuk ke kamar. Mengemasi beberapa kaus yang kumasukkan ke dalam ranselku.

Ayah masih berdiri tegak dengan tanduk yang tajam di atas kepalanya, ketika aku melewatinya begitu saja lalu membuka pintu dengan kasar.  Tanpa pikir panjang, kunyalakan mesin motor vespa kesayanganku, menerjang hujan yang cukup deras dalam gelapnya langit kota Malang.

“Bang Rusli! Bang Rusli!” tepukan pada bahu memudarkan lamunanku.

“Abang, ayo kita pergi,” ajak Dhea adik tiriku yang masih berumur 2 tahun.

“Sebentar Dek!” jawabku singkat sembari mengelus lembut kepalanya.

Di tanah pekuburan ayah dan ibuku, aku menangis. Teringat pertengkaranku dengan ayah waktu itu adalah pertengkaran terakhir bagi kami. Selepas aku pergi, ayah terkena serangan jantung. Ada sesal yang tersisa di hati. Tapi hati ini tetap sulit untuk menerima Rani, sebagai ibu tiriku. 

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (3)
Rekomendasi dari Drama
Novel
GARIS PEREMPUAN
Maysanie
Novel
How Was Your Life
sindi haqiqi
Novel
Just Say Goodnight And Go
Silvi Monica
Skrip Film
Bunda, Di Rumah Saja
Monica Petra
Flash
MANTAN PER*K
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Klitsco vs Ras Terkuat
Yovinus
Novel
Bronze
Negeri Para Pembohong
DameNingen
Novel
GUKAPI: Lelaki yang Tak Suka Air Mata
tettyseptiyani02
Novel
Becoming a Mother to Myself
aether.writes
Skrip Film
Si Bro
MIELS
Flash
Cafe
Aneidda
Cerpen
Bronze
Malam-Malam Wadam
Aneidda
Cerpen
Bronze
Ratu di Tengah Kota
Baiq Desi Rindrawati
Cerpen
FTV
Cassandra Reina
Cerpen
Bronze
22 Desember
candra adi wibowo
Rekomendasi
Flash
MANTAN PER*K
Shinta Puspita Sari
Cerpen
MENDEKAP MARAPI
Shinta Puspita Sari
Cerpen
The Moon
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Flash
HANUM
Shinta Puspita Sari
Novel
Takdir yang Tak Pernah Kusepakati
Shinta Puspita Sari
Novel
Unfair Marriage
Shinta Puspita Sari
Novel
Jadi, Boleh Aku Mencintaimu?
Shinta Puspita Sari
Cerpen
Senja di Langit Lahewa
Shinta Puspita Sari