Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Panti Asuhan
1
Suka
16,591
Dibaca

Panti asuhan pelita kasih sudah berdiri sejak tujuh belas tahun yang lalu. Awalnya, Nyonya Leticia, kepala panti, tidak pernah berniat untuk mendirikan panti asuhan itu. Hanya saja, hatinya tergerak saat menemukan seorang bayi di kebun pisang miliknya. Bayi itu berkulit putih, matanya biru seperti orang bule. Saat itu, tidak ada yang bisa dilakukan Nyonya Leticia selain membawanya pulang.

Bayi malang itu dinamainya Luna, mirip nama seorang artis idola Nyonya Leticia. Apalagi artis itu juga seorang blasteran, jadi benar-benar pas. Leticia selalu mengira bahwa Luna adalah anak seorang pribumi yang hamil di luar nikah dengan seorang bule.

Sewaktu tetangganya mengeluhkan keponakannya yang yatim piatu, hati Nyonya Leticia tergerak untuk membuat sebuah panti asuhan. Awalnya, banyak donatur yang mengirimkan bantuan ke panti asuhan itu. Anak-anak panti pun ber tambah satu satu hingga kini berjumlah dua puluh orang. Luna menjadi anak panti terbesar yang ada.

Sejak pandemi, keadaan panti sangat mengenaskan. Gentong-gentong beras sering kosong, karena para dermawan yang biasanya membantu panti mengalami kebangkrutan. Nyonya Leticia bahkan harus mengemis-ngemis bantuan di berbagai tempat. Meskipun terkenal sangat cerewet dan galak, dia sangat tulus menyayangi anak-anak panti.

Sebagai anak panti tertua, Luna sangat menentang tindakan kepala panti yang dianggapnya merendahkan martabatnya. Dia tidak mau Nyonya Leticia merendahkan dirinya, mengemis kepada dermawan demi sesuap nasi. Maka diapun menjalankan idenya untuk membuat Nyonya Leticia diam di dalam panti.

Pagi itu, Nyonya Leticia hanya duduk dan berdiam diri di meja kerjanya. Tak terdengar lagi suara cerewetnya mengatur atau melarang ini itu kepada anak-anak panti. Luna yang dikenal cerdas di kalangan panti menjadikannya seperti itu. Dan Nyonya Leticia pun tak lagi mengemis-ngemis bantuan.

Saat sarapan tiba, anak-anak bergembira. Terlihat lauk daging di meja. Padahal biasanya mereka hanya makan nasi dengan garam atau tahu dan tempe.

"Apakah semua sudah lengkap?" tanya Luna sambil menatap adik-adik pantinya. "Sebaiknya kita berhitung. Satu ...."

"Dua."

"Tiga."

Mereka terus berhitung.

"Sembilan belas," seru seorang gadis kecil di hitungan terakhir. "Bukankah kemarin kita berdua puluh?"

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Panti Asuhan
Nunik Farida
Cerpen
LOCK IT DOWN
Rama Sudeta A
Novel
Jelaga Di Lidah
Dava Kalandra
Flash
PRIA MISTERIUS
Arthur William R
Novel
Togashi Uzura: Detektif Bayangan
Ariaria
Flash
Payung Hitam
Mer Deliani
Flash
Warna
Halimah RU
Cerpen
Sihir Si Tunasihir
hyu
Flash
Ledakan
Aneidda
Novel
Bronze
Tuju
EZAZ QI
Cerpen
Bronze
MARWAH MENARI DI ATAS BUNGA-BUNGA
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Novel
Pohon Keramat
Bulan Separuh
Flash
Tanpa Jejak
Ika nurpitasari
Flash
ACELE
Dira Rahayu
Flash
Bronze
Ada Apa dengan Rasa
Farida Zulkaidah Pane
Rekomendasi
Flash
Panti Asuhan
Nunik Farida
Flash
Mendua
Nunik Farida
Flash
Bukan Anak Durhaka
Nunik Farida
Flash
Perguruan Silat
Nunik Farida
Flash
Truntum
Nunik Farida
Flash
Hutan Angker
Nunik Farida
Flash
Reinkarnasi
Nunik Farida
Flash
Lahar dan Kemarahan
Nunik Farida
Flash
Penari Topeng
Nunik Farida
Flash
Amnesia
Nunik Farida
Flash
Gurindam Terakhir
Nunik Farida
Flash
G o n g
Nunik Farida