Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Pertemuan Keluarga
2
Suka
35,325
Dibaca

Pandangan sederhana dengan atmosfer harmonis adalah salah satu prinsip keluarga kami. Berpikir material dengan jalan-jalan yang sederhana namun tetap menggunakan akal dan sikap kesabaran juga tak lupa ditanamkan sebagai tiang kokoh dalam setiap diri kami.

Kakak pertamaku, Rinai. Seperti biasa ia akan duduk pada kursi yang paling nyaman di ujung dekat dengan dinding. Lalu selanjutnya ia akan sibuk membuka gadget miliknya untuk melihat beberapa pekerjaannya.

Kakak kedua, Guntur. Akan duduk di tengah ruangan sambil cerita berapi-api, tapi ia tak paham betul dengan apa yang diceritakan. Kadang ia terjebak di tengah cerita dan argumennya, dan menghentikannya atau mengganti topik cerita yang baru lagi.

Aku, jangan ditanya. Aku biasa menceritakan ambisi dan mimpiku lagi. Kukatakan pada mereka tahun depan aku ingin mendaftar program beasiswa. Ibuk dan bapak menimpali dengan setuju. Sangat setuju malah. Tapi juga mengingatkan, tidak akan mudah. Aku harus melewati proses yang lumayan berat, meski berat bukan berarti juga aku tak bisa. AKU PASTI BISA. Kataku dalam hati.

Selain itu kami tertawa karena lawakan bapak yang tidak pernah berubah. Tetap lucu. Dilanjut dengan cerita ibu yang selalu diakhiri dengan beberapa kalimat motivasi. Hari semakin larut, wajah kami satu persatu menjadi cemberut. Karena beberapa ada berita yang tak mengenakkan, atau larangan baru dari aturan rumah ini bertambah. Khususnya aku. Untuk mengurus semua keperluan yang kuutarakan tadi, akan dibatasi. Kakak keduaku, mas guntur yang mulai dengan jelas mengutarakan keinginannya, harus mengadu mulut hingga urat nadi lehernya kadang keluar. Kakak pertamaku, mbak Rinai hanya terdiam dan untuk yang kesekian kali ia menengok gadgetnya dan menatapnya seolah ia berharap ada panggilan kekantor hari ini agar tak terlibat adu mulut panjang. Terlihat jelas sekali ia lelah, ia sengaja menyimpan apa yang terjadi di dalam hatinya sendiri.

Begitulah akhir pertemuan keluarga ini, semakin informasi dan ambisi diri diungkapkan maka sudah dipastikan terjadi adu mulut panjang. Aku tak tau apakah ini pantas atau tidak. Tapi, sikap egois kami perlahan mengikis kesabaran yang kokoh terbangun, prinsip kesederhanaan kami semakin rumit karena tumpuan ambisi tersendiri yang tak pernah dipaksa untuk berdamai

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Pertemuan Keluarga
Singkat Cerita
Skrip Film
Selamat Tidur Pagi
Ardi Rai Gunawan
Skrip Film
HALAMAN PALING BELAKANG
Vitri Dwi Mantik
Novel
PUTARAN WAKTU SALMA
essa amalia khairina
Skrip Film
Revenge Porn
Aliurridha
Flash
KEROPOK LEKOR BASAH
Flora Darma Xu
Flash
Akhir Kehidupan
Wilis Juharini
Novel
The Sparks
Gie Salindri
Novel
Seremoni Rasa
Dinda Ratri
Komik
Meet My Deadline
kuthilust
Flash
Bronze
Cangkir Ketiga (Membicarakan Adam 17)
Silvarani
Novel
Bronze
SELALU ADA RUANG UNTUK PULANG
Ifha Karima
Novel
BANDARA CHANGI TUNGGU AKU 2
Iis Siti Napisah
Novel
Bronze
Sofia
silvi budiyanti
Komik
Cinta Bukan Pemeran Utama
Kyriepoda
Rekomendasi
Flash
Pertemuan Keluarga
Singkat Cerita
Flash
Rahasia nasi goreng emak
Singkat Cerita
Flash
Bronze
Si bungsu
Singkat Cerita
Novel
Dear, Script
Singkat Cerita
Cerpen
Bronze
Relationfit
Singkat Cerita
Flash
Segelas Tehku
Singkat Cerita
Flash
Bronze
Si Sulung
Singkat Cerita
Flash
Bronze
Si Penengah
Singkat Cerita
Cerpen
Derita Mawar Merekah
Singkat Cerita