Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Perang Terbuka
2
Suka
26,255
Dibaca

Siska membuka pintu dengan wajah memerah serta tatapan mata amat sayu. Joni beranjak menghampiri sambil meraih tangan Siska agar ia duduk dan berbicara empat mata dengannya. Siska jelas tidak suka atas pemaksaan ini. Ia mendadak menghentikan langkahnya kemudian berjalan menjauhi kekasihnya. Sayangnya keinginan itu tidak jadi berhasil. Joni berhasil memaksanya duduk selama beberapa menit dengannya.

Siska melirik tajam. "Kita nggak bisa ngomongnya besok pagi aja ya?"

Joni menggelengkan kepalanya. "Kita harus berbicara sekarang. Masalah hubungan gelap kamu sudah terlalu jauh. Aku tidak suka akan hal itu."

Siska menahan tawanya. "Kalau kamu sudah tahu aku selingkuh dari kamu. Kenapa kamu tidak putusin aku ya? Oh iya, aku lupa kalo kamu numpang hidup sama aku ya?"

Joni bangkit berdiri lalu berjalan mondar-mandir selama satu detik lamanya. "Aku tahu kamu pasti berkata seperti itu. Namun, perlu kamu tahu satu hal kalau hubungan kamu dengan pria hidung belang itu tidak akan bertahan lama. Aku tahu pria semacam itu hanya suka gadis muda yang hilang tujuan hidupnya."

Siska sudah berdiri sambil mendorong tubuh Joni sampai mundur beberapa langkah. "Bicara soal tujuan hidup aku itu jelas sekali. Aku mau menjadi kurator yang mampu membuat kebaharuan dalam dunia lukis. Kamu justru malah mempelajari gaya lukis lama dengan materi objek yang sama. Sebaiknya kamu ngaca sebelum bicara hal itu ke aku. Ternyata kamu sama dengan pelukis maestro jaman dulu!"

Joni mengambil sebatang rokok putih dari dalam bungkusan rokok yang ditaruh di saku celana. "Masalah kamu itu memang ada di kamu. Kamu harus paham jika di bawah langit ini tidak ada karya baru. Yang ada hanya karya yang berulang hanya beda kontennya. Jadi kamu nggak perlu sok-sokan revolusioner gitulah."

Siska menghela nafas panjang. "Dari kata-kata kamu barusan kita sudah tahu kalo kita sudah tidak sepaham bukan. Alangkah baiknya kalo kita berpisah saja. Silahkan angkat kaki dari penginapan ini. Dan selamat menempuh hidup menjadi seniman jalanan."

Siska bergegas berjalan meninggalkan Joni. Ia menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Joni terpaksa duduk di ruang tengah. Ia membiarkan Siska tertidur lebih dulu. Karena ia harus mengemas pakaiannya yang masih di dalam kamar. Dalam keheningan itu ia menyadari satu hal. Dalam beberapa bulan saja hidupnya berubah secara konsisten. Ia tidak pernah tahu hidup ini akan membawanya kemana. Yang jelas ia tahu sekarang kalau ia harus duduk di pantai itu sebelum matahari terbit di sana. Siapa tahu ia bisa bertemu dengan gadis bernama Ria.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (1)
Rekomendasi dari Drama
Novel
Air mata istri
Mawar Hitam
Flash
Perang Terbuka
Berkat Studio
Flash
Perempuan
Donny Setiawan
Novel
Airlangga
Yeni fitriyani
Novel
A Letter
Shelly Habsari
Novel
Bronze
Solo Balapan
Herman Sim
Novel
Bronze
Rekata Laila
FAKIHA
Flash
DI BALIK KEBUTUHAN
Senna Simbolon
Flash
Bronze
Kamalia Dalam Mimpiku
Omius
Flash
Pamit
Rahmi Azzura
Flash
Titik Kesia-Siaan
Rahmi Azzura
Novel
My Home
Nur Irawati
Novel
Brother In Drizzle
V. Akhiriana Widi
Novel
Behind My Mask
Kanza Anieq
Novel
EMPAT MUSIM TANPA DIRINYA
mahes.varaa
Rekomendasi
Flash
Perang Terbuka
Berkat Studio
Flash
Merinci Segala
Berkat Studio
Flash
Karya Berteriak
Berkat Studio
Flash
Berkomunitas
Berkat Studio
Flash
Pulau Seniman
Berkat Studio
Flash
Orang Tanpa Penghasilan
Berkat Studio
Flash
Konsisten Menjalani
Berkat Studio
Flash
Berselimut
Berkat Studio
Flash
Karisma Seniman
Berkat Studio
Flash
Kepala Bawah Tanah
Berkat Studio
Flash
Merinci segala-gala
Berkat Studio
Flash
Keluar Pulau Dewata
Berkat Studio
Flash
Menjadi Bawahan
Berkat Studio