Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Drama
Mawar Hitam
2
Suka
36,115
Dibaca

Nala merangkai kembang di atas meja makan. Matanya indah dengan bulu mata lentik dan bola mata bewarna kuning muda. Matanya mengedar ke kembang yang masih berceceran di atas meja.

"Ah, ini dia." Dipegangnya tangkai bunga mawar yang masih berduri -tangkainya pun bewarna yang sama dengan warna mahkotanya, hitam- diciumnya kelopak bunga mawar hitam dan setelahnya ditaruhlah di dalam vas. "Bunga yang diberikan oleh Wak Inah. Katanya bunga yang langkah. Jikapun ada, hanya setahun sekali tersedia di warung dia."

Baru selesai ditata rapi. Terdengarlah suara ketukan di depan pintunya.

"Anda, kah yang bernama Nala? Perempuan yang baru saja membeli bunga mawar hitam di warung Wak Inah?" Tanyanya sambil melihat bola mata Nala yang menurutnya aneh, kuning muda. "Nama saya, Ida."

Nala menjawab dengan santai, "Bukan membelinya. Melainkan diberi oleh Wak Inah. Katanya, saya berhak mendapatkan itu secara cuma-cuma."

Ida mencoba kembali bertanya lagi dengan kata yang terbata-bata, "Bolehka saya ..., sayaaa meminta kembang mawar hitam itu? Saya membutuhkannya. Sebab saya suka barang langkah. Bolehkah?" Siapapun tahu siapa Ida. Kolektor barang langkah. Jika barang yang dikira menarik dan tidak bisa bertahan lama, maka jalan satu-satunya adalah diawetkan dengan memberikannya cairan kimia.

"Tunggulah beberapa bulan lagi, atau tahun depan. Atau ..., kau bilang saja ke Wak Inah, jika ada kembang mawar hitam bisa menyimpannya untukmu."

"Saya membutuhkannya saat ini. Berikanlah, ayolaaah Nala."

Nala kembali meminta maaf. Sampai kapanpun tidak akan diberikannya dengan semudah itu. Sekalipun, Ida menawarkan sejumlah uang seratus ribu berjumlah tujuh lembar.

"Kau tak akan kulepaskan dengan mudah. Tenanglah," Nala berbicara sendiri di hadapan mawar hitam. "Sebab aku mengerti, kau tak ingin diperebutkan hanya karena kau langkah. Apalagi mengawetkanmu dengan diberikan cairan kimia. Ya ..., ya ..., aku mengerti. Keabadian itu agaknya memuakkan, jika itu dijadikan kebanggan atas diri sendiri ..., agar dipuja-puji." Dikecupnya mahkota bunga mawar hitam itu. "Apalagi menjualmu dalam keadaan yang abadi dengan harga yang tak wajar. Kematianmu dibayar mahal, tidak seperti harga yang dibayarkan ketika mendapatkanmu. Bukankah itu tak sebanding?"

Terduduklah Nala di kursi yang berjarak satu meter dari kembang yang sudah tertata rapi di vas bunga yang diletakkan di meja tamu.

Terdiam dia sambil melihat dalam-dalam membang mawar hitam. Dalam diamnya itu, sambil mengembuskan napasnya dengan kuat, dia membatin. 'Aku akan membiarkanmu mati diwaktu yang tepat sesuai dengan waktu kematianmu. Bukan mati lantaran belum waktunya, akibat melalui pengawetan. Aku mengerti, kalau mati belum waktunya, amatlah menyiksa.'

-Selesai-

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Drama
Flash
Mawar Hitam
Drew Andre A. Martin
Novel
Bronze
JURNAL FIORA
Detia Rahman
Novel
SKY
Asrina Lestari
Cerpen
48 Jam Untuk Selamanya
Vina Nurmala Sari
Novel
Prodigious Class
Toyttt 🍃
Novel
Kusia-siakan Istriku Gara-gara Maharnya Banyak
Benang Biru
Novel
Bronze
Lembah Para Mafia
Yulistya Yoo
Novel
Jalan Emas
Akana.T
Flash
Peluk Hangat Untuk Ayah
Nimilsy Butterfly
Flash
Jangan Maafkan Aku
Deasy Wirastuti
Flash
Pagar Laut
snang.tjarita
Flash
Bronze
You Already Died
Silvarani
Cerpen
Dibutakan oleh cinta
rehanaja
Cerpen
Rose
Vivinanavina
Novel
Girl Mentally Retarded
KR
Rekomendasi
Flash
Mawar Hitam
Drew Andre A. Martin
Flash
Bronze
Ranum Senja
Drew Andre A. Martin
Flash
Pemuda di Ruang Rapat
Drew Andre A. Martin
Flash
Salah - Benar?
Drew Andre A. Martin
Novel
The E.T.E.R.N.I.T.Y
Drew Andre A. Martin
Flash
Logika-nya
Drew Andre A. Martin
Flash
Konyol Memang
Drew Andre A. Martin
Flash
Mengapa Juga?
Drew Andre A. Martin
Novel
Ruang Raung
Drew Andre A. Martin