Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Religi
Terkabulnya Doa
3
Suka
12,252
Dibaca

AKU mendesah lega sambil tersenyum puas. Alhamdulillah ... launching buku perdanaku berjalan lancar sesuai rencana. Banyak sekali orang—kebanyakan dari kalangan remaja dan dewasa muda—yang antusias dengan tulisanku. Mereka datang berbondong-bondong ke acara ini, bercengkrama denganku, dan meminta tanda tanganku di bukunya masing-masing.

“Na, sepuluh menit lagi kita beres-beres, ya. Aku mau cari buku sebentar.” Yaya muncul dari balik rak kayu yang berdiri kokoh tepat di belakangku.

Aku mendelik jenaka. “Cari buku apa cari komik?” tanyaku dengan gaya mengintrogasi ala polisi.

Yaya nyengir kuda. “Komik, kan, buku juga sih, Na,” sahutnya membela diri, lalu buru-buru pergi sebelum aku sempat membalas ucapannya.

Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Yaya yang super ajaib itu. Kemudian kuputar tubuhku kembali menghadap depan sambil melirik jam tanganku. Sudah pukul tiga lebih tujuh belas menit dan hampir masuk waktu ashar. Kuputuskan membereskan tempat ini seorang diri tanpa menunggu kembalinya Yaya.

Aku hendak berdiri untuk menumpuk sisa buku yang masih tersegel ketika sebelah tangan tiba-tiba saja terulur dari depan dan menyodorkan sebuah buku bersampul putih bertuliskan namaku. Aku mendongak dan ucapan terima kasih yang sudah berada di ujung lidahku tercekat saat mataku bertemu dengan matanya. Dia tersenyum lembut ke arahku dan napasku tertahan sejenak.

“Assalamualaikum, Na,” gumamnya rendah. Suara itu agak berubah dari terakhir kali aku mendengarnya.

Seolah baru saja tersadar, aku terkesiap pelan dan menjawab cepat, “Waalaikumsalam.”

“Maaf aku terlambat datang karena ada beberapa pekerjaan.” Dia tersenyum tipis. “Boleh aku minta tanda tangan kamu di bukuku?”

To the poin. Tidak adakah ucapan selamat atau semacamnya? Batinku nelangsa. Astaghfirullah, cepat-cepat kuenyahkan bakteri baper itu dari kepalaku. Buku yang disodorkannya kuterima, lalu kutanda tangani dan kugoreskan beberapa kata pada halaman pertamanya.

“Makasih udah nyempetin datang,” kataku sambil mengembalikan buku itu kepadanya.

Riski Alatas ... laki-laki yang namanya selalu kuperbincangkan dengan Allah itu mengangguk. Lalu ditatapnya mataku lurus-lurus seraya berkata, “Bisa bicara sebentar, Na? Ada kedai es krim di dekat sini.”

Bicara soal apa? Batinku menjerit penasaran, tapi segera ketepis dengan kejam. Hingga sampai sepuluh detik berlalu pun aku belum juga menerima ataupun menolak ajakan itu. Pikiranku masih tersita penuh oleh kedatangannya yang mendadak. Aku bahkan tidak pernah memimpikan dia akan menemuiku pada hari penting dimana aku akhirnya meluncurkan buku perdanaku.

Duhai ... inikah jawaban dari doaku selama ini.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Religi
Flash
Terkabulnya Doa
Yooni SRi
Novel
SETETES HIDAYAH
Jamaludin Rifai
Novel
LE SOLEIL DE MA VIE
Ravistara
Flash
Bumi Sedang Berduka
Lia
Novel
Gold
Raya
Bentang Pustaka
Novel
Gold
Kiai Gokil
Bentang Pustaka
Flash
Suapan Terakhir
Sena N. A.
Novel
Met My First Love
Farchah Ba'dal Chazani
Novel
Muara Cinta di Titik Semula
Faiz el Faza
Cerpen
Peci Dari Pak Kiai
Brilijae(⁠。⁠•̀⁠ᴗ⁠-⁠)⁠✧
Flash
Bronze
Iblis tak bisa menyesatkan, Nabi tak bisa memberi hidayah
Mukti Dwi Wahyu Rianto
Novel
ISTIQOMAH CINTA
fitriyanti
Novel
Bronze
Butiran Tasbih Arini
Diyah Ayu NH
Novel
Gold
Jejak-Jejak Islam
Bentang Pustaka
Novel
Bronze
TAKDIR
Ahmad Iki Muqimudin
Rekomendasi
Flash
Terkabulnya Doa
Yooni SRi
Flash
Berakhir
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Menanti Masa
Yooni SRi
Flash
Ms. Priority
Yooni SRi
Flash
Pria Asing
Yooni SRi
Flash
Ghina, Ayo Move On!
Yooni SRi
Flash
Under The Rain #2 (END)
Yooni SRi
Flash
Under The Rain #1
Yooni SRi
Flash
Bukan Sebuah Luka
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Sebelah
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Drama Kecupan Manis
Yooni SRi
Flash
A Warm Hug
Yooni SRi
Cerpen
Bronze
Abaikan Dengan Buku
Yooni SRi
Flash
BISKUIT COKELAT Pengganti Utang
Yooni SRi