Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Suran
1
Suka
609
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Di pojok dapur, Rama mengasah parangnya. Ditemani istrinya yang memasak nasi menggunakan tungku tanah liat.

"Dari zaman kakek-kakek kita, tanah Jawa ini masih penuh dengan kepercayaan pada ruh-ruh leluhur. Kita masih percaya nenek moyang masih menjaga tanah ini, hidup berdampingan dengan kita".

Sambil mengaduk nasi yang mulai matang, Ratih melanjutkan tuturnya.

"Makanya, Mas, nanti sebelum menebang pohon itu, izinlah dulu sama yang menjaga, sama leluhur kita".

Merasa parangnya sudah tajam, Rama bergegas keluar dari rumah. Tak lupa berpamitan pada istrinya.

"Sudahlah, kita hidup di zaman yang berbeda. Tidak perlu lagi memikirkan hal semacam itu. Aku berangkat dulu".

Rasa khawatir tampak memenuhi wajah Ratih seiring keberangkatan suaminya.

Di pinggir sungai, tempat Rama menebang pohon, ia disambut oleh sebuah patung setinggi orang dewasa. Warga setempat menyebutnya patung Suran. Konon katanya, ialah yang menjaga tempat itu.

Berjalanlah Rama di depan patung Suran, perlahan, sembari menatap dan mengamati patung tua itu.

Rama mengeluarkan parangnya, bersiap menebang sebuah pohon jati yang berdiri di depannya. Pohon itu, empat meter jaraknya dari patung Suran. Sekali, ia menengok kembali ke patung Suran, tepat sebelum ia mengayunkan parangnya.

Rama sempoyongan saat berjalan pulang ke rumahnya. Badannya terasa panas seperti dimasukkan dalam tungku api. Perutnya sakit tak tertahankan seperti disayat-sayat belati. Rama langsung terkapar di depan rumahnya, berteriak-teriak meminta pertolongan Ratih.

"Mas, ada apa?"

"Aku tidak kuat, badanku panas sekali, tolong aku".

Ratih kebingungan, menerka-nerka apa yang terjadi pada suaminya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memanggil Suryo, tetangganya yang dianggap "orang pintar" oleh warga desa.

Rama terbaring di ranjangnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya sangat panas. Di sampingnya, Suryo duduk sembari menutup matanya. Membaca mantra-mantra yang entah apa artinya. Suryo membuka mata. Memberitahu Rama dan Ratih apa yang harus mereka lakukan.

"Rama harus kembali ke tempat itu, tempatmu menebang pohon. Bawalah sesuatu dan berikanlah pada Suran. Minta maaflah padanya, kamu telah mengganggu istirahatnya".

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Suran
Syifa Maulida Hajiri
Novel
Halaman Sembilan
verlit ivana
Flash
Truntum
Nunik Farida
Flash
HARA
Sofia Rahman
Novel
Bronze
Are You a Ghost?
caberawit
Cerpen
Bronze
MISTERI DI BALIK GUNUNG MERAPI
Aziz mubarok
Cerpen
Bronze
Karina di Lorong Gelap
Ayesha Razeeta
Novel
The Winter's Hunter
Wuri
Cerpen
Bronze
ALBEERCHT VAN WALLESTEIN
Ranang Aji SP
Novel
Gold
Hollowpox: Nevermoor #3
Noura Publishing
Cerpen
Bronze
ALIENS PURBA DARI SOLITER
Drs. Eriyadi Budiman (sesuai KTP)
Cerpen
Bronze
misteri di pumcak gunung
agus tardi rohenda
Cerpen
Bronze
Samir Cemeng
Shinta Larasati Hardjono
Cerpen
Bronze
Bobong dan Negeri Cahaya
Titin Widyawati
Novel
JALAINI: Sumur-Sumur Mutilasi Berantai
Ikhsannu Hakim
Rekomendasi
Flash
Suran
Syifa Maulida Hajiri
Skrip Film
Adinda dan Warisan Bapak
Syifa Maulida Hajiri
Flash
I Love You, but You're Not My Boyfriend.
Syifa Maulida Hajiri
Flash
Only You
Syifa Maulida Hajiri
Flash
Kedua Kali
Syifa Maulida Hajiri