Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Flash
Misteri
Suran
1
Suka
1,210
Dibaca
Flash Fiction ini masih diperiksa oleh kurator

Di pojok dapur, Rama mengasah parangnya. Ditemani istrinya yang memasak nasi menggunakan tungku tanah liat.

"Dari zaman kakek-kakek kita, tanah Jawa ini masih penuh dengan kepercayaan pada ruh-ruh leluhur. Kita masih percaya nenek moyang masih menjaga tanah ini, hidup berdampingan dengan kita".

Sambil mengaduk nasi yang mulai matang, Ratih melanjutkan tuturnya.

"Makanya, Mas, nanti sebelum menebang pohon itu, izinlah dulu sama yang menjaga, sama leluhur kita".

Merasa parangnya sudah tajam, Rama bergegas keluar dari rumah. Tak lupa berpamitan pada istrinya.

"Sudahlah, kita hidup di zaman yang berbeda. Tidak perlu lagi memikirkan hal semacam itu. Aku berangkat dulu".

Rasa khawatir tampak memenuhi wajah Ratih seiring keberangkatan suaminya.

Di pinggir sungai, tempat Rama menebang pohon, ia disambut oleh sebuah patung setinggi orang dewasa. Warga setempat menyebutnya patung Suran. Konon katanya, ialah yang menjaga tempat itu.

Berjalanlah Rama di depan patung Suran, perlahan, sembari menatap dan mengamati patung tua itu.

Rama mengeluarkan parangnya, bersiap menebang sebuah pohon jati yang berdiri di depannya. Pohon itu, empat meter jaraknya dari patung Suran. Sekali, ia menengok kembali ke patung Suran, tepat sebelum ia mengayunkan parangnya.

Rama sempoyongan saat berjalan pulang ke rumahnya. Badannya terasa panas seperti dimasukkan dalam tungku api. Perutnya sakit tak tertahankan seperti disayat-sayat belati. Rama langsung terkapar di depan rumahnya, berteriak-teriak meminta pertolongan Ratih.

"Mas, ada apa?"

"Aku tidak kuat, badanku panas sekali, tolong aku".

Ratih kebingungan, menerka-nerka apa yang terjadi pada suaminya. Tanpa pikir panjang, ia langsung memanggil Suryo, tetangganya yang dianggap "orang pintar" oleh warga desa.

Rama terbaring di ranjangnya. Wajahnya pucat dan tubuhnya sangat panas. Di sampingnya, Suryo duduk sembari menutup matanya. Membaca mantra-mantra yang entah apa artinya. Suryo membuka mata. Memberitahu Rama dan Ratih apa yang harus mereka lakukan.

"Rama harus kembali ke tempat itu, tempatmu menebang pohon. Bawalah sesuatu dan berikanlah pada Suran. Minta maaflah padanya, kamu telah mengganggu istirahatnya".

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)
Rekomendasi dari Misteri
Flash
Suran
Syifa Maulida Hajiri
Flash
Mati Kemarin
Hanif Ilham Mahaldi
Novel
The Reason Why I Give Up
batiar
Cerpen
Pencuri Waktu (I)
Penulis N
Novel
Gold
PBC Mystery of Library
Mizan Publishing
Novel
Bronze
Sate Gosong
Ariny Nurul haq
Flash
Bronze
Puzzle History
Miss Anonimity
Flash
Misteri Doa Sebelum Belajar
Luca Scofish
Flash
ANOMALI
Deny Pamungkas
Flash
Pesan
Ujang Nurjaman
Flash
Sigma
Donquixote
Novel
KOMA - Hidup dan Mati
Margo Budy Santoso
Cerpen
Bronze
Ujung Koridor
Christian Shonda Benyamin
Cerpen
Bronze
Detektif Arman Dan Dendam Sang Arwah
Bramanditya
Flash
Lukisan Bedhaya Ketawang II
Rifatia
Rekomendasi
Flash
Suran
Syifa Maulida Hajiri
Flash
I Love You, but You're Not My Boyfriend.
Syifa Maulida Hajiri
Skrip Film
Adinda dan Warisan Bapak
Syifa Maulida Hajiri
Flash
Only You
Syifa Maulida Hajiri
Flash
Kedua Kali
Syifa Maulida Hajiri